Senin, 12 October 2026 08:00 UTC

Ilustrasi: Kembali ke Meja Makan. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Meja makan dahulu menjadi salah satu titik pertemuan keluarga. Pagi dimulai dengan sarapan, sore diisi percakapan ringan, sedangkan makan malam menjadi kesempatan mengetahui cerita anggota keluarga setelah seharian beraktivitas.Kini ritmenya berubah.
Jam sekolah berbeda, perjalanan kerja semakin panjang, makanan dapat dipesan kapan saja, sementara layar menghadirkan ruang hiburan masing-masing.
Satu keluarga bisa berada dalam rumah yang sama tanpa harus melakukan aktivitas pada waktu yang sama. Perubahan ini menarik karena keluarga masih menjadi struktur utama masyarakat Indonesia.
Hasil Long Form Sensus Penduduk 2020 Badan Pusat Statistik mencatat rata-rata jumlah anggota rumah tangga Indonesia sekitar 3,86 orang. Artinya, banyak orang sebenarnya tidak hidup sendirian. Persoalannya justru bagaimana waktu bersama digunakan.
Makan Tidak Lagi Harus Bersamaan
Teknologi membuat kebutuhan makan menjadi semakin personal. Seseorang yang pulang terlambat dapat memesan makanan sendiri. Anak dapat makan lebih dahulu karena mempunyai kegiatan malam. Anggota keluarga lain mungkin memilih makanan berbeda. Kemudahan tersebut tentu membantu kehidupan modern.
Namun ada konsekuensi kecil yang sering tidak disadari. Ketika waktu makan semakin individual, satu kesempatan alami untuk bertemu juga perlahan menghilang.
Perubahan pola konsumsi masyarakat terlihat pula dalam data pengeluaran rumah tangga. BPS melalui Statistik Indonesia 2025 mencatat rata-rata pengeluaran per kapita masyarakat Indonesia pada 2024 mencapai sekitar Rp1,50 juta per bulan. Sekitar Rp751 ribu digunakan untuk kelompok makanan dan sekitar Rp749 ribu untuk kelompok bukan makanan.
Di dalam pengeluaran makanan tersebut, kelompok makanan dan minuman jadi mengambil bagian besar, sekitar Rp285 ribu per kapita per bulan.
Angka itu tidak berarti masyarakat berhenti memasak di rumah. Namun besarnya pengeluaran makanan jadi menunjukkan bahwa memperoleh makanan kini tidak selalu bergantung pada aktivitas memasak dan makan bersama di rumah. Makanan semakin mudah diperoleh secara individual.
Layar Ikut Duduk di Meja Makan
Ada situasi yang semakin familiar: empat orang duduk di satu meja, tetapi perhatian mereka berada di empat layar berbeda. Telepon genggam memang sudah menjadi bagian kehidupan sehari-hari.
Survei Sosial Ekonomi Nasional yang dihimpun BPS menunjukkan 72,78 persen penduduk Indonesia telah mengakses internet pada 2024. Pada tahun yang sama, 68,65 persen penduduk memiliki telepon seluler.
Internet membantu keluarga dalam banyak hal. Orang tua dapat menghubungi anak, pembayaran menjadi mudah, pekerjaan dapat diselesaikan dari rumah, dan informasi tersedia dalam hitungan detik.
Masalah muncul ketika perangkat tidak lagi mempunyai batas penggunaan. Notifikasi pekerjaan masuk ketika makan. Video pendek terus bergulir. Percakapan keluarga harus bersaing dengan sesuatu yang dianggap lebih menarik di layar.
Padahal makan bersama mempunyai keunggulan yang sulit digantikan aplikasi komunikasi: semua orang hadir dalam ruang dan waktu yang sama.
Tidak harus ada percakapan mendalam. Pertanyaan sederhana seperti “hari ini bagaimana?” sering cukup membuka cerita yang sebelumnya tidak pernah muncul.
Tak Harus Tiga Kali Sehari
Mengembalikan kebiasaan makan bersama bukan berarti seluruh anggota keluarga harus selalu sarapan, makan siang, dan makan malam pada jam yang sama.
Bagi banyak keluarga, target tersebut mungkin tidak realistis. Ada anggota keluarga yang bekerja dengan sistem shift. Ada anak yang pulang sore. Ada pula orang tua yang mempunyai aktivitas berbeda.
Karena itu, frekuensi yang realistis lebih penting dibanding aturan yang terlalu ideal. Keluarga bisa menentukan beberapa waktu dalam seminggu ketika semua orang berusaha hadir. Makan malam akhir pekan, misalnya, dapat menjadi titik temu yang lebih mudah dijaga.
Durasi juga tidak perlu panjang.
Tiga puluh menit tanpa terburu-buru sudah cukup untuk menikmati makanan sekaligus bertukar cerita. Yang dibutuhkan bukan meja makan besar atau hidangan istimewa. Nasi hangat, tempe, sayur, sambal, dan lauk sederhana tetap dapat menciptakan percakapan yang sama berharganya.
Meja Makan Bukan Ruang Interogasi
Ada alasan lain seseorang enggan duduk lama bersama keluarga: meja makan berubah menjadi tempat menerima pertanyaan yang tidak nyaman. Nilai sekolah bagaimana? Kapan menikah? Mengapa belum mendapat pekerjaan? Mengapa gaji belum naik?
Pertanyaan tersebut mungkin lahir dari perhatian. Namun jika terus diulang, makan bersama dapat terasa seperti sesi evaluasi. Percakapan keluarga yang menyenangkan membutuhkan ruang bagi cerita kecil.
Membicarakan makanan, kejadian lucu, rencana akhir pekan, tetangga, tanaman yang baru tumbuh, atau cerita perjalanan pulang bisa menjadi pembuka.
Anak pun tidak selalu harus menjadi pihak yang ditanya. Orang tua dapat ikut menceritakan hari mereka. Hubungan terasa lebih setara ketika setiap orang mendapat kesempatan berbicara dan didengarkan.
Ada baiknya pula membuat kesepakatan kecil mengenai telepon genggam. Tidak harus melarang secara keras. Sebuah keranjang kecil untuk meletakkan perangkat selama makan bisa menjadi tanda bahwa percakapan sedang mendapat giliran.
Pertemuan Kecil yang Layak Dipertahankan
Rumah modern memiliki banyak ruang. Ada kamar pribadi, ruang kerja, televisi, teras, bahkan ruang digital yang kita masuki melalui layar masing-masing.
Semua memberi kenyamanan sekaligus memungkinkan anggota keluarga menjalani kehidupan secara lebih individual.
Karena itu, meja makan mempunyai fungsi yang semakin menarik.
Ia bukan sekadar furnitur untuk meletakkan piring. Meja makan dapat menjadi salah satu sedikit tempat di rumah yang mempertemukan generasi berbeda tanpa agenda formal.
Tidak setiap makan malam akan menghasilkan percakapan bermakna. Kadang semua orang lelah. Kadang makanan hanya dihabiskan dalam diam. Itu tidak masalah. Nilainya justru berada pada kebiasaan menyediakan kesempatan untuk bertemu.
Di tengah jutaan rumah tangga Indonesia yang menjalani ritme hidup semakin cepat dan semakin terkoneksi secara digital, mungkin kita tidak membutuhkan ritual keluarga yang rumit.
Mulailah dengan satu hal yang sangat biasa: duduk, letakkan telepon sebentar, makan makanan yang sama, kemudian tanyakan kabar orang yang selama ini sebenarnya berada tidak jauh dari kita.
