Logo

Makan di Luar Kini Jadi Kebiasaan Orang Indonesia

Makan di luar tak lagi selalu berarti perayaan. Bagi banyak orang, ia telah menjadi bagian dari ritme kehidupan sehari-hari.
Reporter:,Editor:

Selasa, 06 October 2026 11:00 UTC

Makan di Luar Kini Jadi Kebiasaan Orang Indonesia

Ilustrasi: Makan di Luar Rumah. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Makan di luar rumah semakin sulit dipisahkan dari kehidupan orang Indonesia. Sarapan dibeli di warung sebelum bekerja, makan siang dipesan dari rumah makan, sementara makan malam terkadang datang melalui pengemudi layanan antar.

Data Badan Pusat Statistik memperlihatkan besarnya fenomena tersebut. Pada 2025, rata-rata pengeluaran masyarakat Indonesia untuk kelompok makanan dan minuman jadi mencapai Rp248.501 per kapita per bulan.

Jumlah itu naik dari Rp238.902 pada 2024. Jika dibandingkan dengan 2022 yang berada sekitar Rp207.650, peningkatannya mencapai hampir Rp41 ribu per orang dalam tiga tahun.

Angka tersebut mencakup makanan dan minuman jadi yang dibeli masyarakat, sehingga tidak seluruhnya identik dengan aktivitas duduk makan di restoran. Namun, datanya menunjukkan sesuatu yang penting: semakin banyak kebutuhan makan dipenuhi melalui makanan yang sudah disiapkan pihak lain.

 

Pengeluaran Makanan Jadi Sudah Sangat Besar

Makanan dan minuman jadi merupakan komponen penting dalam pengeluaran rumah tangga Indonesia. Susenas Maret 2025 mencatat rata-rata total pengeluaran makanan sebesar Rp775.516 per kapita per bulan. Dari jumlah tersebut, Rp248.501 digunakan untuk kelompok makanan dan minuman jadi.

Secara sederhana, nilainya setara sekitar 32 persen dari seluruh pengeluaran makanan per kapita. Jika dihitung terhadap seluruh pengeluaran rumah tangga, kelompok makanan dan minuman jadi sendiri mengambil sekitar 15,84 persen. Perbedaannya semakin terlihat antara kota dan desa.

Penduduk perkotaan rata-rata mengeluarkan Rp294.188 per kapita per bulan untuk makanan dan minuman jadi pada 2025. Di perdesaan, angkanya Rp181.387. Selisihnya mencapai lebih dari Rp112 ribu per orang setiap bulan.

Data tersebut membantu menjelaskan mengapa warung makan, kedai, restoran, pedagang kaki lima hingga layanan pesan-antar begitu mudah ditemukan di wilayah perkotaan. Makanan siap santap menawarkan sesuatu yang sangat dibutuhkan masyarakat modern: waktu.

 

Indonesia Punya Jutaan Usaha Makanan

Besarnya kebiasaan membeli makanan juga ditopang ekosistem usaha yang sangat luas. BPS mencatat terdapat sekitar 5,28 juta usaha penyediaan makanan dan minuman di Indonesia pada 2024.

Jumlah tersebut meningkat dibandingkan 2023 yang sekitar 4,85 juta usaha. Pada 2024, sekitar 47,59 persen usaha tersebut merupakan restoran dan rumah makan.

Usaha makanan dan minuman keliling atau tempat tidak tetap mencapai 13,73 persen, sedangkan jasa boga sekitar 5,56 persen. Sisanya masuk kelompok usaha penyediaan makanan dan minuman lainnya.

Artinya, ketika seseorang membeli nasi pecel pagi hari, memesan ayam pada siang hari, atau mampir ke warung malam, ia sebenarnya sedang berinteraksi dengan sebuah ekosistem ekonomi yang sangat besar.

Pada 2023 saja, sektor penyediaan makanan dan minuman menyerap sekitar 9,80 juta pekerja. Nilai penjualannya mencapai Rp998,37 triliun.

Angka tersebut menunjukkan bahwa kebiasaan makan masyarakat berhubungan langsung dengan jutaan mata pencaharian.

 

Warung Tetap Bertahan di Tengah Aplikasi

Menariknya, perkembangan teknologi tidak otomatis menghilangkan model usaha makanan konvensional. Warung tetap hidup. Rumah makan sederhana tetap ramai. Pedagang keliling masih beroperasi. Yang berubah adalah cara konsumen menemukannya.

Data BPS menunjukkan 50,65 persen usaha penyediaan makanan dan minuman pada 2024 telah menggunakan internet untuk kegiatan usahanya. Sebaliknya, 49,35 persen belum menggunakan internet. Proporsinya hampir berimbang.

Sebuah warung yang dahulu hanya mengandalkan pelanggan sekitar kini dapat muncul di aplikasi peta, media sosial, layanan pesan-antar, atau grup percakapan lingkungan. Pelanggan pun tidak harus datang.

Perubahan tersebut membuat batas antara “makan di luar” dan “makan di rumah” semakin kabur. Seseorang bisa menyantap makanan restoran di meja makan rumah tanpa pernah keluar dari pintu. Karena itu, istilah yang mungkin lebih tepat adalah semakin kuatnya kebiasaan membeli makanan siap santap.

 

Praktis Bisa Mengubah Cara Kita Memilih Makanan

Kemudahan membeli makanan mempunyai sisi lain yang perlu diperhatikan. Ketika pilihan berada hanya beberapa sentuhan dari layar ponsel, keputusan makan dapat semakin dipengaruhi rasa, promosi, harga, foto makanan, dan kecepatan pengiriman. Komposisi makanan bisa menjadi pertimbangan kedua.

Survei Kesehatan Indonesia 2023 mencatat 47,5 persen penduduk berusia tiga tahun ke atas mengonsumsi minuman manis sedikitnya sekali sehari. Sebanyak 43,3 persen mengonsumsinya antara satu hingga enam kali per minggu.

Data tersebut tidak berarti kebiasaan makan di luar menjadi penyebabnya. Minuman manis juga dikonsumsi di rumah dan berbagai tempat lainnya.

Namun, angka itu menjadi pengingat bahwa keputusan membeli makanan sebaiknya tidak berhenti pada pertanyaan “mau makan apa?”
Minuman yang dipilih, jumlah sayuran, jenis lauk, porsi makanan, gorengan, saus, dan makanan tambahan tetap membentuk pola konsumsi harian.

 

Jawa Timur Juga Hidup dari Ekonomi Makanan

Bagi Jawa Timur, fenomena ini sangat relevan. BPS mencatat pada 2025 sekitar 50,45 persen pengeluaran per kapita masyarakat Jawa Timur dialokasikan untuk makanan. Sisanya, 49,55 persen, digunakan untuk kebutuhan bukan makanan.

Jawa Timur juga termasuk provinsi dengan jumlah usaha penyediaan makanan dan minuman terbesar di Pulau Jawa. Data BPS 2024 mencatat jumlahnya sekitar 1,23 juta usaha. Angka tersebut terasa masuk akal ketika melihat kehidupan sehari-hari.

Ada warung pecel yang buka sebelum matahari terbit, penjual rawon sejak pagi, depot bakso, pedagang soto, warung lalapan malam, kedai kopi hingga penjual makanan keliling yang bergerak dari kampung ke kampung. Kebiasaan membeli makanan akhirnya bukan hanya persoalan gaya hidup perkotaan. Ia juga menjadi ruang ekonomi masyarakat.

Satu porsi makanan yang dibeli konsumen menggerakkan bahan baku, pasar tradisional, petani, peternak, pedagang bumbu, pekerja dapur, pengemudi pengiriman hingga usaha kemasan.

 

Makan di Luar Tidak Harus Membuat Boros

Besarnya pengeluaran makanan jadi juga menarik dilihat dari sisi keuangan rumah tangga. Rp248.501 adalah rata-rata nasional per kapita setiap bulan, bukan batas ideal pengeluaran seseorang. Kondisi setiap keluarga tentu berbeda.

Namun, membeli makanan dalam nominal kecil berulang kali sering terasa lebih ringan dibandingkan satu transaksi besar. Kopi Rp15 ribu, camilan Rp10 ribu, makan siang Rp25 ribu, lalu pesan makanan malam hari dapat terlihat sebagai pengeluaran terpisah.

Jika dicatat selama satu bulan, gambarnya bisa berbeda. Karena itu, mengelola kebiasaan makan di luar tidak selalu berarti berhenti membeli makanan.

Seseorang bisa menentukan kapan memasak lebih masuk akal, kapan membeli makanan menghemat waktu, serta kapan makan di luar memang menjadi bagian dari pengalaman sosial.

Pilihan makanan juga dapat dibuat lebih sederhana. Air putih bisa menggantikan minuman manis pada sebagian kesempatan. Sayuran dapat ditambah. Porsi lauk dan makanan pokok bisa disesuaikan kebutuhan. Dengan cara tersebut, kepraktisan tetap diperoleh tanpa membiarkan keputusan makan sepenuhnya ditentukan oleh impuls.

 

Dari Kebutuhan Menjadi Bagian Kehidupan Sosial

Ada alasan mengapa makan di luar terus bertahan meskipun orang sebenarnya bisa memasak sendiri. Makanan mempunyai fungsi sosial. Teman lama bertemu di warung.

Rekan kerja berdiskusi saat makan siang. Keluarga keluar mencari makan pada akhir pekan. Anak muda menghabiskan waktu berjam-jam dengan satu meja dan beberapa gelas minuman.Tempat makan kemudian berubah menjadi ruang perjumpaan.

Data menunjukkan masyarakat Indonesia mengalokasikan bagian yang cukup besar dari pengeluarannya untuk makanan siap santap. Pada saat yang sama, jutaan usaha tumbuh untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Makan di luar rumah akhirnya tidak lagi selalu identik dengan kemewahan atau acara khusus.

Ia telah menjadi bagian dari cara masyarakat mengatur waktu, bekerja, bersosialisasi, dan menikmati kota. Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah kita harus memasak atau membeli makanan.

Yang lebih penting adalah mengetahui kapan kepraktisan benar-benar membantu—dan kapan kebiasaan kecil itu diam-diam mulai mengambil terlalu banyak ruang dalam pengeluaran dan pola makan sehari-hari.

 

 

Sumber data: Badan Pusat Statistik, Susenas Maret 2022, 2024, dan 2025; Badan Pusat Statistik, Statistik Penyediaan Makanan Minuman 2023 dan 2024; Kementerian Kesehatan RI, Survei Kesehatan Indonesia 2023.