Jumat, 16 October 2026 08:19 UTC

Antrean panjang masyarakat yang mengantri BBM di SPBU Jubung, Jumat, 16 Oktober 2026. Foto: Hermawan/Jatimnet.com
JATIMNET.COM, Jember — Krisis pasokan BBM kembali terjadi di Jember untuk ketiga kalinya. Namun krisis pasokan BBM di Jember kali ini memiliki intensitas yang tidak separah dua krisis sebelumnya.
Berbagai penjuru Jember terjadi kondisi masyarakat mengantre BBM yang panjang, tidak seperti hari-hari biasanya.
“Ini saya cari bensin di eceran, ternyata sudah habis semua. Terpaksa antre panjang di SPBU. Ini saya sudah 40 menit lebih mengantre,” ujar Mahfud, salah satu ojek online yang ditemui Jatimnet.com saat sedang mengantre di SPBU Jubung pada Jumat, 16 Oktober 2026.
Kondisi ini dikeluhkan masyarakat. “Memang harganya tidak naik, tapi kita mau kerja jadi tertunda,” sambungnya.
Sebagai orang yang bekerja dengan sangat mengandalkan motor dan BBM, Mahfud berharap kondisi antrean panjang di SPBU bisa segera teratasi.
Antrean panjang kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kabupaten Jember menjadi perhatian Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus. Perusahaan menyebut perubahan jadwal kapal tanker berdampak pada pola distribusi bahan bakar minyak (BBM), terutama ke wilayah selatan Jember.
BACA: Penyebab Krisis BBM di Jember: Kepadatan Ketapang Banguwangi hingga Arus Kendaraan Naik 42 Persen
Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menegaskan bahwa antrean tersebut bukan disebabkan pengurangan volume pengiriman BBM. Menurut dia, stok masih tersedia, meskipun perusahaan harus menyesuaikan pola penyaluran dengan kondisi distribusi.
“Garis bawahi bahwa tidak ada pengurangan pengiriman, namun memang ada penyesuaian pola distribusinya terkait jadwal keberangkatan ketibaan kapal-kapal tanker. Ini menyikapi konflik geopolitik yang masih berkepanjangan,” kata Ahad dalam keterangan tertulis yang diterima Jumat, 16 Oktober 2026.
Perubahan jadwal keberangkatan dan kedatangan kapal tanker memengaruhi pengiriman BBM dari Terminal BBM Tanjungwangi, Banyuwangi, menuju SPBU. Dampaknya menjadi perhatian khusus di wilayah selatan Jember yang berjarak relatif jauh dari terminal tersebut.
Pertamina menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat yang harus menunggu lebih lama untuk mengisi BBM. Perusahaan terus memantau pelayanan SPBU di Jember dengan mempertimbangkan kebutuhan konsumsi, kesiapan operasional, dan kondisi distribusi di lapangan.
BACA: BBM di Jember Sempat Tersendat, Pertamina Siapkan 15 Mobil Tangki dari Surabaya
“Secara ketersediaan stok dalam kondisi terjaga dan tersedia bagi masyarakat. Cuma memang ada pola-pola penyesuaian yang kita lakukan terhadap jalur distribusi,” ujar Ahad.
Untuk mengantisipasi antrean yang berpotensi mengganggu arus lalu lintas, Pertamina berkoordinasi dengan pengelola SPBU dan Satuan Lalu Lintas Polres setempat. Perusahaan juga mengimbau masyarakat membeli BBM sesuai kebutuhan dan tidak melakukan pembelian berlebihan akibat kekhawatiran terhadap isu kelangkaan.
Ahad mengingatkan masyarakat agar tidak membeli BBM dari pengecer tidak resmi yang menjual bahan bakar dengan harga lebih tinggi. Ia juga meminta warga menyaring informasi yang beredar di media sosial dan grup percakapan agar tidak terpancing melakukan pembelian berlebihan.
Kelancaran distribusi hingga ke SPBU menjadi faktor penting untuk mengurangi antrean di Jember. Di sisi lain, pemerintah kabupaten turut mengambil langkah untuk membantu mengatasi persoalan tersebut, salah satunya melalui kebijakan bekerja dari rumah atau work from home (WFH) bagi aparatur sipil negara (ASN) yang diumumkan Bupati Jember Muhammad Fawait pada Jumat, 16 Oktober 2026.
