Senin, 12 October 2026 00:00 UTC

Ilustrasi: Rapikan Isi Kulkas. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Isi kulkas bisa menjadi gambaran kecil tentang cara sebuah rumah tangga mengelola makanan. Sayuran terselip di belakang wadah, lauk sisa makan malam tertutup tumpukan bahan baru, atau buah yang dibeli beberapa hari sebelumnya perlahan kehilangan kesegarannya.
Masalahnya terlihat sederhana. Namun ketika kebiasaan serupa terjadi di jutaan rumah, dampaknya menjadi jauh lebih besar.
Kajian Kementerian PPN/Bappenas mengenai food loss and waste mencatat Indonesia menghasilkan sekitar 23–48 juta ton makanan hilang dan terbuang setiap tahun sepanjang 2000–2019.
Jumlah tersebut setara sekitar 115–184 kilogram per orang per tahun. Menariknya, tahap konsumsi menjadi salah satu titik kritis. Pada tahap ini saja, makanan yang terbuang diperkirakan mencapai 5–19 juta ton per tahun.
Kulkas karena itu bukan sekadar tempat membuat makanan lebih dingin. Cara kita mengisinya ikut menentukan apakah makanan akhirnya dimakan atau justru berakhir di tempat sampah.
Kulkas Penuh Belum Tentu Efisien
Kebiasaan memenuhi kulkas sering dianggap sebagai tanda persediaan makanan yang aman. Padahal, terlalu banyak barang justru membuat bahan makanan lebih sulit terlihat.
Masalah biasanya dimulai setelah berbelanja. Barang baru diletakkan di bagian depan, sedangkan makanan lama bergeser ke belakang. Beberapa hari kemudian, kita membeli bahan serupa karena mengira persediaannya sudah habis.
Sayuran menjadi kelompok yang patut mendapat perhatian khusus. Kajian Bappenas menemukan kehilangan pada kelompok sayuran mencapai 62,8 persen dari suplai domestik dalam periode yang ditelitinya. Angka tersebut mencakup kehilangan sepanjang rantai pangan, bukan hanya yang terjadi di rumah tangga.
Temuan itu tetap memberi pelajaran penting bagi dapur keluarga. Sayuran memang relatif mudah kehilangan kesegaran sehingga membutuhkan perencanaan pembelian dan penyimpanan yang lebih baik.
Sebelum pergi ke pasar atau supermarket, membuka kulkas selama dua menit bisa menjadi kebiasaan sederhana yang berguna. Periksa apa yang masih tersedia, mana yang harus segera dimasak, dan bahan apa yang benar-benar perlu dibeli.
Terapkan Prinsip yang Lama di Depan
Salah satu cara paling praktis mengatur isi kulkas adalah menggunakan prinsip first in, first out. Makanan yang lebih dahulu masuk ditempatkan pada posisi yang lebih mudah terlihat dan digunakan terlebih dahulu.
Tidak perlu membuat sistem penyimpanan yang rumit. Lauk matang bisa ditempatkan dalam wadah bening. Sayuran yang perlu segera digunakan diletakkan di bagian yang mudah terlihat. Produk kemasan yang sudah dibuka dapat diberi tanda sederhana mengenai kapan pertama kali dibuka.
Wadah transparan juga membantu mengurangi fenomena “tidak terlihat, lalu terlupakan”. Kita dapat mengetahui isi wadah tanpa harus membuka semuanya satu per satu.
Sisa makanan pun sebaiknya tidak langsung disembunyikan di bagian belakang kulkas. Letakkan pada satu area khusus sehingga anggota keluarga mengetahui makanan tersebut perlu diprioritaskan.
Kebiasaan kecil ini penting karena Bappenas menemukan food waste cenderung meningkat dalam periode 2000–2019. Proporsinya dalam keseluruhan food loss and waste meningkat dari 39 persen pada 2000 menjadi 55 persen pada 2019.
Belanja Sedikit Bisa Lebih Masuk Akal
Promo sering membuat orang membeli lebih banyak daripada yang sebenarnya diperlukan. Harga per barang memang mungkin lebih murah, tetapi penghematan itu hilang jika sebagian makanan akhirnya dibuang. Perencanaan menu sederhana dapat membantu.
Rumah tangga tidak harus menentukan menu secara ketat untuk tujuh hari. Cukup mengetahui beberapa masakan yang kemungkinan dibuat dalam tiga atau empat hari berikutnya. Dari sana, kebutuhan sayur, lauk, buah, dan bahan pelengkap lebih mudah diperkirakan.
Cara lainnya adalah membedakan antara stok dan keinginan.
Beras, telur, minyak, atau bahan tahan lama mungkin memang layak disimpan sebagai persediaan. Sebaliknya, sayuran daun, buah matang, lauk siap santap, dan bahan segar lebih baik dibeli berdasarkan kebutuhan yang relatif dekat.
Dampaknya bukan hanya terhadap tempat sampah. Kajian Bappenas memperkirakan kehilangan ekonomi akibat food loss and waste pada periode yang ditelitinya mencapai Rp213–551 triliun per tahun, setara sekitar 4–5 persen produk domestik bruto Indonesia saat itu.
Angka nasional tersebut tentu tidak bisa langsung dianggap sebagai kerugian sebuah keluarga. Namun pesannya jelas: makanan yang tidak dimanfaatkan juga membawa nilai ekonomi yang ikut hilang.
Cek Kulkas Sebelum Membuang
Ada kebiasaan lain yang bisa diterapkan sekali atau dua kali seminggu: melakukan “cek kulkas”. Bukan membersihkan seluruh kulkas, melainkan melihat bahan yang perlu segera digunakan.
Satu wortel dan beberapa batang buncis bisa masuk ke tumisan. Tempe yang tersisa dapat menjadi lauk makan malam. Buah yang sudah sangat matang mungkin masih dapat dimanfaatkan sesuai kondisi dan keamanan pangannya.
Yang perlu diperhatikan, mengurangi sampah makanan tidak berarti memaksakan diri mengonsumsi makanan yang sudah tidak aman. Perubahan bau, tekstur, kondisi kemasan, serta petunjuk penyimpanan tetap harus diperhatikan.
Tujuannya adalah mencegah makanan yang masih layak konsumsi terlupakan sampai akhirnya rusak. Persoalan ini juga mempunyai dimensi lingkungan. Bappenas memperkirakan food loss and waste Indonesia selama 2000–2019 menghasilkan sekitar 1.702,9 megaton CO₂ ekuivalen.
Tahap konsumsi menjadi penyumbang terbesar emisi dalam rantai pasok yang dianalisis, sekitar 58 persen. Dengan kata lain, membuang makanan bukan hanya membuang harga yang pernah kita bayar. Di belakang sepiring makanan terdapat proses produksi, air, energi, transportasi, penyimpanan, dan tenaga manusia.
Mulai dari Satu Rak
Mengubah kebiasaan rumah tangga tidak harus dimulai dengan membeli berbagai kotak penyimpanan baru. Bahkan menggunakan kembali wadah yang masih layak bisa menjadi pilihan lebih masuk akal.
Mulailah dari satu rak. Tentukan satu bagian sebagai area “makan lebih dulu”. Setiap ada makanan yang perlu segera dihabiskan, pindahkan ke sana. Sebelum memasak atau memesan makanan, lihat rak tersebut terlebih dahulu.
Cara sederhana ini mengubah kulkas dari sekadar tempat menyimpan menjadi alat bantu mengambil keputusan. Pada akhirnya, isi kulkas yang teratur bukan tentang memiliki dapur sempurna. Intinya adalah mengetahui makanan apa yang kita punya, membeli sesuai kebutuhan, dan menggunakan bahan sebelum terlupakan.
Di tengah besarnya persoalan food loss and waste Indonesia, kebiasaan mengatur isi kulkas memang terlihat sangat kecil. Namun justru dari keputusan sehari-hari semacam itulah konsumsi yang lebih bertanggung jawab dapat dimulai.
