Logo

Dari Sarinah ke Era Mall Modern, Kenapa Belanja Dulu Terasa Lebih Manusiawi

Belanja dulu bukan cuma soal membeli barang, tetapi juga tentang menikmati suasana dan merasa menjadi bagian dari kota.
Reporter:,Editor:

Jumat, 22 May 2026 05:00 UTC

Dari Sarinah ke Era Mall Modern, Kenapa Belanja Dulu Terasa Lebih Manusiawi

Ilustrasi department store dulu bukan sekadar tempat belanja, tetapi ruang sosial masyarakat kota. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Sejarah Sarinah sering membuat banyak orang kembali mengingat bagaimana pengalaman belanja di Indonesia pernah terasa jauh lebih personal.

 

Sebelum era marketplace, self-checkout, dan belanja satu klik, department store seperti Sarinahpernah menjadi simbol gaya hidup modern masyarakat urban Indonesia.

 

Di sana orang tidak selalu datang untuk membeli barang mahal. Banyak yang datang hanya untuk melihat etalase, naik eskalator, bertemu teman, atau sekadar merasakan atmosfer kota besar.

 

Kini, pola konsumsi masyarakat berubah sangat cepat. Belanja menjadi semakin praktis, cepat, dan individual. Namun di tengah kemudahan digital itu, muncul nostalgia terhadap pengalaman belanja lama yang dianggap lebih hangat dan manusiawi.

 

Menurut laporan Google Temasek e-Conomy SEA, nilai ekonomi digital Indonesia terus tumbuh pesat dalam beberapa tahun terakhir dengan e-commerce menjadi salah satu motor utamanya. Perubahan ini membuat perilaku konsumsi masyarakat ikut berubah: lebih instan, lebih personal, tetapi juga semakin minim interaksi sosial langsung.

 

 

Department Store Dulu Adalah Tempat “Melihat Dunia”

 

Pada era 1970-an hingga awal 2000-an, department store bukan sekadar toko besar. Tempat seperti Sarinah menjadi simbol modernitas kota.

 

Banyak keluarga datang bukan hanya untuk berbelanja, tetapi juga untuk “merasakan Jakarta.” Melihat produk impor, pendingin ruangan, dekorasi modern, hingga eskalator pernah menjadi pengalaman sosial tersendiri bagi masyarakat Indonesia saat itu.

 

Department store juga menjadi ruang publik kelas menengah urban yang cukup inklusif. Orang bisa datang tanpa tekanan harus membeli sesuatu.

 

Fenomena “cuci mata” bahkan menjadi budaya populer. Jalan-jalan di mall atau department store dulu lebih terasa seperti aktivitas rekreasi sosial dibanding transaksi konsumsi semata.

 

Di era sebelum smartphone, ruang fisik seperti ini punya fungsi penting sebagai tempat interaksi antargenerasi dan ruang bertemu komunitas kota.

 

 

Mall Modern Kini Lebih Cepat, Tetapi Lebih Individual

 

Masuk ke era modern, pengalaman belanja berubah drastis. Teknologi membuat semuanya lebih efisien. Orang kini bisa membeli hampir semua kebutuhan tanpa berbicara dengan siapa pun. Mulai dari pembayaran digital, mesin self-service, hingga belanja online membuat interaksi manusia semakin sedikit dalam aktivitas konsumsi sehari-hari.

 

Menurut data Bank Indonesia, transaksi pembayaran digital di Indonesia terus mengalami pertumbuhan signifikan dalam beberapa tahun terakhir, terutama sejak pandemi mempercepat kebiasaan cashless society.

 

Praktis memang, tetapi perubahan ini juga memunculkan rasa asing dalam ruang konsumsi modern. Banyak pusat perbelanjaan baru terlihat mewah, namun terasa homogen dan kurang punya identitas emosional.

 

Tidak sedikit masyarakat urban merasa mall sekarang “mirip semua.” Tenant-nya seragam, desainnya global, dan pengalaman sosialnya semakin singkat.

 

 

Nostalgia Mall Lama Kini Jadi Budaya Baru

 

Menariknya, generasi muda justru mulai menyukai kembali ruang-ruang belanja lama yang punya karakter kuat. Revitalisasi Sarinah menjadi salah satu contoh bagaimana ruang retail lama bisa kembali relevan ketika dipadukan dengan narasi budaya lokal, UMKM, dan identitas Indonesia.

 

Fenomena ini juga terlihat dari popularitas konten media sosial bertema mall lawas, department store vintage, hingga suasana pusat belanja era 1990-an dan awal 2000-an.

 

Bagi banyak orang, tempat-tempat seperti ini menghadirkan rasa familiar yang sulit ditemukan di ruang retail modern yang terlalu steril.

 

Nostalgia akhirnya menjadi bagian penting dalam budaya konsumsi urban saat ini. Orang tidak hanya membeli produk, tetapi juga membeli pengalaman emosional.

 

 

Belanja Modern Membuat Orang Semakin Haus Pengalaman

 

Perubahan ini memperlihatkan satu hal menarik: semakin digital kehidupan masyarakat, semakin besar kebutuhan terhadap pengalaman yang terasa autentik.

 

Karena itu, banyak pusat perbelanjaan sekarang mencoba menghadirkan konsep experiential retail. Ada area komunitas, pameran seni, tenant lokal, hingga ruang nongkrong yang dibuat lebih personal.

 

Masyarakat urban modern ternyata tidak hanya mencari efisiensi. Mereka juga ingin merasa terhubung dengan tempat yang mereka datangi.

 

Di tengah dunia digital yang serba cepat, pengalaman sederhana seperti melihat etalase langsung, mengobrol dengan penjaga toko, atau duduk lama di sudut department store lama justru terasa semakin berharga.

 

Dan mungkin itu sebabnya nama seperti Sarinah masih bertahan kuat di ingatan banyak orang. Bukan semata karena bangunannya, tetapi karena ia pernah menjadi bagian dari pengalaman hidup masyarakat kota yang terasa lebih dekat, lebih pelan, dan lebih manusiawi.