Logo

Sayur Jawa Timur Melimpah, Mengapa Kita Masih Kurang?

Sayuran tersedia dekat dengan kehidupan kita, tetapi ketersediaan pangan belum tentu membuatnya cukup hadir di piring.
Reporter:,Editor:

Rabu, 14 October 2026 05:00 UTC

Sayur Jawa Timur Melimpah, Mengapa Kita Masih Kurang?

Ilustrasi: Segarnya sayur lokal. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Sayur Jawa Timur sebenarnya tidak sulit ditemukan. Dari kangkung dan bayam di pasar kampung hingga kubis, wortel, tomat, dan sawi dari kawasan dataran tinggi, pilihannya sangat beragam.

Angka produksinya bahkan cukup besar. Data BPS Jawa Timur menunjukkan pada 2025 provinsi ini menghasilkan sekitar 33,20 ribu ton kangkung, 14,90 ribu ton bayam, 31,27 ribu ton kacang panjang, dan 62,13 ribu ton ketimun. Produksi terung mencapai sekitar 94,18 ribu ton.

Tetapi melimpahnya sayuran menghadirkan sebuah paradoks. Di tingkat nasional, Survei Kesehatan Indonesia 2023 menunjukkan 96,7 persen penduduk berusia lima tahun ke atas masih masuk kategori kurang mengonsumsi sayur dan buah.

Masalahnya ternyata bukan sekadar apakah sayuran tersedia. Pertanyaan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari adalah: seberapa besar ruang yang benar-benar kita berikan untuk sayur di meja makan?

 

Dari Kebun Jawa Timur ke Pasar

Besarnya produksi hortikultura menunjukkan betapa beragamnya sumber sayuran Jawa Timur. Pada 2025, produksi kubis mencapai sekitar 210,18 ribu ton. Kentang sekitar 252,62 ribu ton, tomat 126,81 ribu ton, wortel 89,21 ribu ton, serta petsai atau sawi sekitar 83,32 ribu ton.

Cabai rawit bahkan mencapai sekitar 603,72 ribu ton. Bawang merah berada di kisaran 500,30 ribu ton. Dua komoditas ini memang lebih sering diperlakukan sebagai bumbu, tetapi keduanya memperlihatkan besarnya ekosistem hortikultura Jawa Timur.

Lahan panennya juga luas. BPS mencatat cabai rawit dipanen dari sekitar 85.759 hektare sepanjang 2025, sementara bawang merah sekitar 53.105 hektare. Kubis menempati sekitar 10.372 hektare dan sawi sekitar 7.105 hektare.

Artinya, sayuran bukan bahan pangan asing bagi masyarakat Jawa Timur. Ia tumbuh di sekitar kita, bergerak melalui pasar-pasar lokal, kemudian masuk ke dapur rumah tangga.
 

Sayur Banyak, Konsumsinya Masih Menjadi Persoalan

Di sinilah muncul persoalan menarik. Survei Kesehatan Indonesia 2023 menggunakan kriteria konsumsi minimal lima porsi kombinasi sayur dan buah setiap hari selama tujuh hari dalam seminggu untuk mengategorikan konsumsi yang cukup.

Hasilnya, 96,7 persen penduduk Indonesia berusia lima tahun ke atas masih berada dalam kategori kurang. Bahkan 67,5 persen hanya mengonsumsi satu sampai dua porsi buah dan sayur per hari.

Angka tersebut tidak berarti 96,7 persen masyarakat sama sekali tidak makan sayur. Justru persoalannya terletak pada jumlah dan frekuensi.

Seseorang mungkin makan pecel pada pagi hari, tetapi tidak lagi menyentuh sayuran hingga malam. Ada pula sayuran di piring, tetapi porsinya sangat kecil dibanding nasi dan lauk. Makan sayur, dengan demikian, berbeda dengan makan sayur dalam jumlah yang memadai.


Padahal Dapur Jawa Timur Kaya Olahan Sayuran

Menariknya, kuliner rumahan Jawa Timur sebenarnya memiliki modal budaya yang kuat untuk membuat sayuran terasa dekat. Pecel adalah contoh paling mudah.

Sayuran rebus seperti kacang panjang, tauge, kangkung, daun singkong atau bayam dipertemukan dengan sambal kacang. Komposisinya dapat berbeda antara Madiun, Kediri, Blitar, hingga daerah lain.

Ada pula urap dengan parutan kelapa berbumbu. Di rumah-rumah, sayur bening, lodeh, tumis kangkung, tumis kacang panjang, terong, lalapan, hingga sayur asem menjadi menu yang sangat familiar.

Kekayaan bahan bakunya pun nyata. Jawa Timur pada 2025 menghasilkan bayam sekitar 14,90 ribu ton dan kangkung 33,20 ribu ton. Produksi sawi mencapai 83,32 ribu ton, sementara terung mendekati 94,18 ribu ton.

Pilihan yang tersedia sebenarnya luas. Tantangannya adalah mengembalikan sayuran dari posisi “pelengkap” menjadi bagian yang sengaja direncanakan ketika menentukan menu.
 

Tak Harus Sayuran Mahal

Makan lebih banyak sayuran juga tidak identik dengan salad mahal, sayuran impor, atau menu yang rumit. Kangkung, bayam, sawi, kacang panjang, terung, mentimun, dan berbagai daun lokal sudah cukup memberi variasi. Yang perlu berubah justru cara kita menyusun menu.

Sayur bening dapat dipasangkan dengan tempe. Tumis kangkung bisa ditemani ikan. Pecel dapat menjadi menu utama dengan tambahan tahu, tempe, atau telur.

Bahkan lalapan sederhana dapat menambah keragaman isi piring selama kebersihan bahan dan keseimbangan menu diperhatikan.

Cara memasaknya pun tidak perlu sama setiap hari. Sayuran bisa direbus, dikukus, ditumis, dibuat kuah, dijadikan urap, atau disajikan sebagai lalapan sesuai jenisnya.

Variasi sederhana seperti itu penting karena kebosanan sering menjadi alasan sayur perlahan menghilang dari menu keluarga.
 

Membuat Sayur Lebih Mudah Dimakan

Kebiasaan makan tidak selalu berubah karena nasihat besar. Sering kali perubahan justru datang dari keputusan kecil di dapur. Salah satunya adalah menentukan sayuran sebelum memilih lauk. Pertanyaan “hari ini sayurnya apa?” dapat membuat menu lebih terencana daripada baru memikirkan sayur setelah nasi dan lauk selesai dipilih.

Belanja juga bisa dibuat sederhana. Tidak perlu membeli banyak jenis sekaligus. Dua atau tiga jenis sayuran untuk beberapa hari lebih realistis dibanding memenuhi kulkas kemudian membiarkannya layu.

Yang tak kalah penting adalah mengenalkan keragaman rasa kepada anak sejak di rumah. Sayuran tidak harus selalu disembunyikan di dalam makanan lain agar mau disantap. Anak juga perlu mengenali bentuk, warna, tekstur, dan nama bahan pangan yang mereka makan.

Jawa Timur memiliki sumber daya untuk membangun kebiasaan itu. Dari lahan pertanian hingga pasar tradisional, sayuran tersedia dalam jumlah dan jenis yang sangat beragam.

Paradoksnya tinggal satu: produksi yang melimpah belum otomatis menjadi konsumsi yang cukup. Karena itu, sayur Jawa Timur seharusnya tidak hanya menjadi cerita tentang besarnya hasil panen. Nilai sebenarnya baru terasa ketika hasil kebun tersebut sampai ke meja makan dan mendapat ruang yang layak di piring keluarga.