Logo

Produk Perikanan Domestik Turun 30 Persen Sepanjang Pandemi Covid-19

Reporter:,Editor:

Sabtu, 10 October 2020 10:00 UTC

Produk Perikanan Domestik Turun 30 Persen Sepanjang Pandemi Covid-19

PASAR IKAN. Penjual ikan di Pasar Ikan Muncar melayani pelanggannya sebelum pandemi Covid-19, Senin 8 Mei 2019. Foto: Ahmad Suudi

JATIMNET.COM, Surabaya - Direktur PT Kurnia Mitra Makmur Sudiarso menyebut, perdagangan sektor perikanan dalam negeri turun sebesar 30 persen selama pandemi Covid-19. Terpukulnya hotel menjadi penyebab utama merosotnya penjualan produk perikanan beberapa bulan terakhir. 

"Selama pandemi ini kami mengalami penurunan omset 30 persen. Karena biasanya supply ke hotel, tapi sekarang perhotelan sedang ambruk,” kata Didik, sapaan akrab Sudiarso tertulis, Sabtu 10 Oktober 2020. 

Pun demikian, kata Didik, pihaknya tengah berupaya keluar dari kondisi tersebut. Salah satu solusinya dengan memproduksi aneka produk frozen yang dinilai lebih praktis, karena dapat diolah sendiri di rumah.

Ia optimis cara ini setidaknya bisa mendongkrak penjualan sektor perikanan. Mengingat potensinya yang cukup besar secara nasional, baik itu makro, sektor-sektor industri-nya, logistiknya, dan maritimnya.

BACA JUGA: Dampak Restocking, Panen Perikanan Danau di Probolinggo Mencapai 83,8 Ton

Disektor industri misalnya, Didik yakin dengan pemanfaatan produk olahan akan dapat membantu meningkatkan penjualan. "Masih ada 10 persennya produk perikanan yang belum diolah. Ikan yang tadinya bernilai ekonomi rendah, kalau diolah bisa bernilai mahal. Dan Startup yang menyelesaikan storage selama pengiriman,” bebernya. 

Kemudian bidang logistik dan distribusi, Didik melihat perlu ada sedikit perbaikan. Pasalnya 60 persen sumber daya ikan berada di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPP-NRI) wilayah timur Indonesia. 

Sementara konsentrasi Unit Pengelolaan Ikan (UPI) masih berpusat di Barat Indonesia, khususnya di pulau Jawa. “Hal ini menjadi tantangan logistik bagi sektor kelautan dan perikanan,” kata dia. 

BACA JUGA: Tetap Beroperasi Walau Pandemi, Permintaan Produk Perikanan Meningkat

Selama ini, kata dia, proses pemasaran produk ikan sendiri dimulai dari perikanan budi daya atau tangkap, yang kemudian disalurkan ke pasar segar ataupun UPI. UPI kemudian memasok untuk produk ekspor, industri katering, pengiriman daring, pasar modern, restoran dan cafe, hingga hotel.

Menurutnya, ini mengakibatkan biaya logistik yang tidak efisien, penurunan kualitas produk, hingga minimnya sarana dan prasarana. Sehingga biaya logistik domestik ini kalah dengan ekspor. “Biaya transportasi ekspor lebih murah daripada biaya pengiriman domestik,” tegasnya. 

Bila itu juga terselesaikan, disparitas sumber daya ikan dan tantangan logistik potensi produk perikanan bisa dimaksimalkan.