Logo

Pergi Kerja Naik Apa? Potret Komuter Jawa Timur

Cara kita pergi bekerja ternyata bercerita banyak tentang kota tempat kita hidup.
Reporter:,Editor:

Rabu, 07 October 2026 05:00 UTC

Pergi Kerja Naik Apa? Potret Komuter Jawa Timur

Ilustrasi: Pilihan perjalanan setiap pagi. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Setiap pagi, jutaan orang meninggalkan rumah untuk bekerja, kuliah, sekolah, atau menjalankan aktivitas lainnya. Ada yang mengendarai motor, naik mobil, mengejar bus, menggunakan kereta, bersepeda, bahkan berjalan kaki.

Pilihan tersebut terlihat sederhana. Namun, data menunjukkan bahwa cara seseorang berpindah tempat berkaitan erat dengan bentuk kota, jarak perjalanan, ketersediaan angkutan umum, hingga kebutuhan hidup sehari-hari.

Gambaran menarik terlihat di kawasan Gerbangkertosusila, aglomerasi yang meliputi Surabaya dan sejumlah daerah di sekitarnya. Data Statistik Komuter Gerbangkertosusila dari BPS mencatat 423.109 komuter berdasarkan moda transportasi utama yang digunakan menuju tempat kegiatan.

Dari jumlah tersebut, 353.025 orang menggunakan sepeda motor. Artinya, sekitar 83 dari setiap 100 komuter dalam data tersebut mengandalkan motor sebagai moda utama.

 

Sidoarjo Menunjukkan Besarnya Mobilitas Harian

Pola komuter menjadi sangat menarik ketika dilihat berdasarkan daerah tempat tinggal. Dalam data BPS tersebut, Kabupaten Sidoarjo memiliki 169.560 komuter. Sebanyak 143.801 orang menggunakan sepeda motor sebagai moda utama menuju tempat kegiatan.

Angkanya jauh lebih besar dibandingkan penggunaan mobil yang tercatat 15.389 orang. Pengguna kendaraan umum tercatat 2.104 orang, bus umum 1.273 orang, dan kereta 1.246 orang.

Kabupaten Mojokerto memperlihatkan pola serupa. Dari 78.757 komuter, sebanyak 63.676 menggunakan sepeda motor. Sementara di Kota Surabaya, 47.841 dari 61.677 komuter yang tercatat juga menggunakan motor. Pengguna mobil mencapai 9.201 orang, sedangkan bus umum sekitar 1.508 orang.

Data itu memperlihatkan bahwa perjalanan harian antarrumah dan tempat kegiatan sangat bergantung pada kendaraan individual.
Bukan berarti masyarakat selalu menolak angkutan umum.

Dalam kehidupan sehari-hari, keputusan memilih moda biasanya lebih praktis: kendaraan apa yang paling mudah membawa seseorang dari pintu rumah menuju tempat tujuan.

 

Penghasilan Berbeda, Motor Tetap Dipilih 

Ada fakta lain yang cukup menarik. Ketika data komuter yang bekerja dipisahkan berdasarkan pendapatan, penggunaan sepeda motor tidak hanya terkonsentrasi pada kelompok berpenghasilan rendah.

BPS mencatat 355.794 komuter bekerja dalam pengelompokan tersebut. Sebanyak 301.057 orang menggunakan sepeda motor.
Pada kelompok penghasilan Rp3 juta hingga Rp3,99 juta per bulan, misalnya, terdapat 137.557 pengguna motor.

Bahkan pada kelompok berpenghasilan sedikitnya Rp5 juta, masih terdapat 26.925 komuter yang menggunakan sepeda motor. Sebaliknya, pengguna mobil dalam kelompok pendapatan Rp5 juta ke atas tercatat 17.085 orang.

Angka tersebut menunjukkan bahwa motor tidak selalu menjadi pilihan karena seseorang tidak memiliki alternatif kendaraan lain. Fleksibilitas perjalanan tampaknya ikut berperan.

Seseorang mungkin harus berangkat dari permukiman, mengantar anak, mampir membeli kebutuhan rumah, kemudian menuju tempat kerja. Sore hari, rutenya kembali berubah.

Untuk pola perjalanan seperti itu, kendaraan yang dapat digunakan langsung dari rumah memiliki keunggulan tersendiri.
Mengapa Angkutan Umum Belum Menjadi Pilihan Utama?

Dalam keseluruhan data komuter Gerbangkertosusila, pengguna kendaraan umum tercatat 4.317 orang. Pengguna bus umum mencapai 8.588 orang dan kereta 1.761 orang. Jumlahnya masih kecil dibandingkan 353.025 pengguna sepeda motor.

Perbandingan ini perlu dibaca secara hati-hati. Pilihan transportasi tidak hanya ditentukan oleh keberadaan bus atau kereta.
Orang juga mempertimbangkan bagaimana mencapai halte, berapa lama harus menunggu, apakah harus berganti kendaraan, seberapa jauh berjalan setelah turun, serta apakah jadwal transportasi sesuai dengan jam kerja. Di sinilah perjalanan pertama dan terakhir menjadi penting.

Angkutan massal mungkin mampu membawa banyak orang secara efisien pada koridor utama. Namun, perjalanan dari rumah menuju halte dan dari halte menuju tujuan tetap harus diselesaikan.

Ketika sambungan itu tidak praktis, kendaraan pribadi menjadi pilihan yang sulit dikalahkan.

 

Jalan yang Panjang Membentuk Cara Kita Bergerak

Jawa Timur memiliki wilayah yang luas dengan karakter perjalanan yang sangat beragam. Data BPS menunjukkan panjang jaringan jalan di setiap daerah juga berbeda. Pada 2023, Kabupaten Jember tercatat memiliki sekitar 2.840 kilometer jalan berdasarkan gabungan kewenangan yang tersedia dalam tabel BPS.

Kabupaten Banyuwangi sekitar 2.562 kilometer dan Kabupaten Malang sekitar 2.157 kilometer. Jaringan tersebut menghubungkan desa, permukiman, pusat perdagangan, kawasan industri, sekolah, kampus, pasar, dan pusat pemerintahan.

Karena itu, kebutuhan mobilitas warga Surabaya tentu tidak sepenuhnya sama dengan warga Jember, Malang, Pacitan, atau Banyuwangi.

BPS Jawa Timur bahkan menerbitkan statistik transportasi secara khusus untuk memotret perkembangan transportasi darat, laut, dan udara, termasuk kondisi jalan, pergerakan penumpang, serta angkutan barang.

Transportasi akhirnya bukan sekadar persoalan kendaraan.Ia merupakan persoalan tentang bagaimana ruang kehidupan manusia saling terhubung.

 

Perjalanan yang Baik Tidak Selalu Harus Sendirian

Pilihan moda transportasi bisa berubah apabila pilihan yang tersedia juga semakin baik. Perjalanan dekat dapat dilakukan dengan berjalan kaki atau bersepeda ketika jalurnya aman dan nyaman.

Bus dapat digunakan untuk koridor dengan permintaan tinggi. Kereta efektif menghubungkan titik tertentu dengan kapasitas besar.
Motor tetap memiliki tempat ketika perjalanan membutuhkan fleksibilitas.

Yang dibutuhkan bukan memaksa semua orang menggunakan satu jenis transportasi, melainkan memperbanyak pilihan perjalanan yang benar-benar dapat digunakan.

Bayangkan seseorang bisa berjalan nyaman dari rumah menuju halte, memperoleh bus tanpa menunggu terlalu lama, kemudian melanjutkan perjalanan beberapa ratus meter dengan aman menuju kantor.

Dalam situasi seperti itu, meninggalkan kendaraan pribadi tidak lagi terasa sebagai pengorbanan. Data komuter Jawa Timur menunjukkan bahwa masyarakat saat ini memilih moda yang paling sesuai dengan kebutuhan mereka.

Jika suatu hari pilihan transportasi semakin mudah, aman, terhubung, dan terjangkau, kebiasaan perjalanan pun sangat mungkin ikut berubah. Sebab pada akhirnya, pertanyaan “pergi kerja naik apa?” bukan hanya tentang kendaraan.

Jawabannya juga menggambarkan seperti apa kota dan lingkungan tempat kita menjalani kehidupan setiap hari.