Minggu, 18 October 2026 00:00 UTC

Ilustrasi: Pasar ikut berubah. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Pasar rakyat masih menjadi bagian besar kehidupan ekonomi Indonesia. Di tengah minimarket, supermarket, layanan pesan antar, dan belanja melalui ponsel, ribuan pasar tetap beroperasi sebagai tempat masyarakat membeli kebutuhan sehari-hari.
Data Badan Pusat Statistik dalam Direktori Pasar Rakyat 2024 mencatat 17.443 pasar rakyat di Indonesia. Sebanyak 16.842 pasar tercatat aktif beroperasi. Dari jumlah tersebut, 15.217 merupakan pasar dengan pengelola dan 1.625 pasar tanpa pengelola.
Jawa Timur bahkan memiliki posisi istimewa. Provinsi ini tercatat memiliki 2.574 pasar rakyat atau sekitar 14,76 persen dari keseluruhan pasar rakyat Indonesia. Jumlah tersebut merupakan yang terbanyak di antara seluruh provinsi.
Angka itu menunjukkan sesuatu yang menarik. Belanja memang semakin digital, tetapi pasar rakyat belum kehilangan tempat. Yang berubah justru cara pasar beradaptasi dengan kehidupan konsumennya.
Jawa Timur Punya 2.574 Pasar Rakyat
Pasar rakyat bukan sekadar deretan kios yang menjual sayuran, ikan, daging, pakaian, dan kebutuhan rumah tangga. Di banyak daerah Jawa Timur, pasar menjadi titik pertemuan antara produsen, pedagang kecil, pengecer, hingga konsumen rumah tangga.
Posisinya menjadi semakin penting karena Jawa Timur memiliki jaringan pasar rakyat terbesar di Indonesia. Dari 17.443 pasar secara nasional pada 2024, sebanyak 2.574 berada di Jawa Timur.
Secara nasional, sekitar 39,67 persen pasar rakyat berada di Pulau Jawa. Kepadatan penduduk dan tingginya aktivitas perdagangan membuat pasar tetap memiliki basis konsumen yang besar.
Perdagangan sendiri menjadi salah satu bagian penting perekonomian Jawa Timur. BPS mencatat nilai PDRB Jawa Timur pada 2024 mencapai Rp3.168,29 triliun, dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 4,93 persen.
Artinya, aktivitas jual beli sehari-hari yang terlihat sederhana sebenarnya berada dalam ekosistem ekonomi yang sangat besar.
Tantangannya Bukan Hanya Melawan Belanja Online
Persoalan pasar rakyat sekarang bukan semata-mata apakah masyarakat masih mau datang ke pasar. Pengalaman berbelanja juga menentukan pilihan konsumen.
Data BPS mengenai kondisi pasar rakyat pada 2024 memperlihatkan bahwa 71,79 persen pasar telah memiliki toilet. Sebanyak 62,25 persen mempunyai area parkir, 59,06 persen memiliki tempat pembuangan sampah, dan 59,05 persen mempunyai sistem drainase. Angka tersebut sekaligus menunjukkan masih adanya kesenjangan fasilitas.
Sekitar empat dari sepuluh pasar belum mempunyai area parkir. Lebih dari empat dari sepuluh belum memiliki fasilitas pembuangan sampah maupun drainase sebagaimana yang tercatat dalam pendataan tersebut.
Fasilitas lain bahkan jauh lebih terbatas. Hanya 22,39 persen pasar yang tercatat memiliki pos keamanan. Pasar dengan pos kesehatan baru 4,92 persen, sedangkan yang mempunyai pos ukur ulang hanya 3,94 persen. Kenyamanan akhirnya menjadi bagian dari persaingan.
Konsumen modern terbiasa dengan tempat yang terang, mudah diakses, bersih, pembayaran praktis, dan barang mudah ditemukan. Pasar rakyat perlu memberikan kenyamanan tersebut tanpa menghilangkan karakter khasnya.
Tawar-menawar Bertemu QRIS
Perubahan menarik lainnya terjadi pada cara membayar. Dulu membawa uang tunai menjadi bagian hampir tak terpisahkan dari pergi ke pasar. Sekarang pemandangan pembeli mengarahkan kamera ponsel ke kode QR semakin mudah ditemukan.
Kementerian Perdagangan mencatat pada 2024 terdapat 5.807 pasar rakyat yang telah tersentuh digitalisasi dengan 306.964 pedagang terdigitalisasi.
Perubahan ini berjalan bersamaan dengan pertumbuhan penggunaan QRIS secara nasional. Bank Indonesia mencatat hingga semester pertama 2025 terdapat 57 juta pengguna QRIS dan 39,3 juta merchant. Sebanyak 93,16 persen merchant tersebut merupakan UMKM.
Volume transaksinya mencapai 6,05 miliar transaksi dengan nilai sekitar Rp579 triliun hanya dalam semester pertama 2025. Digitalisasi akhirnya tidak harus mengubah pasar menjadi pusat perbelanjaan modern.
Pedagang masih bisa memanggil pelanggan langganannya. Pembeli masih dapat memilih cabai satu per satu. Harga masih bisa dibicarakan. Bedanya, setelah sepakat, pembayaran dapat dilakukan dalam hitungan detik melalui ponsel.
Belanja Digital Justru Banyak Diisi UMKM
Ada anggapan bahwa pertumbuhan e-commerce otomatis menjadi lawan pedagang kecil. Gambaran sebenarnya lebih kompleks. BPS dalam Survei E-Commerce 2024 menunjukkan 96,91 persen usaha e-commerce yang dicakup dalam profil tersebut merupakan usaha mikro, kecil, dan menengah. Jumlah usaha e-commerce pada 2024 juga meningkat 15,30 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Dengan kata lain, dunia digital tidak hanya dihuni perusahaan besar. Pedagang kecil juga bergerak ke sana.
Hal tersebut membuka kemungkinan model pasar yang berbeda. Pedagang tidak harus menunggu pembeli datang. Pesanan dapat diterima melalui pesan instan, media sosial, lokapasar, atau layanan pengantaran.
Seorang pelanggan bisa memesan sayuran sejak pagi, membayar secara digital, kemudian mengambil belanjaannya ketika berangkat bekerja. Hubungan penjual dan pelanggan tetap sama, tetapi caranya menjadi lebih praktis.
Pasar rakyat akhirnya tidak harus memilih antara tradisional atau digital. Keduanya dapat berjalan bersama.
Justru Interaksi Manusia yang Sulit Digantikan
Ada satu keunggulan pasar rakyat yang tidak mudah diterjemahkan menjadi fitur aplikasi: hubungan sosial. Pedagang mengenali pelanggan tetap. Pembeli mengetahui lapak mana yang menyediakan ikan paling segar. Orang bisa bertanya bagaimana memilih mangga matang, meminta tambahan daun bawang, atau sekadar berbincang tentang harga cabai yang sedang naik.
Proses tawar-menawar pun bukan hanya soal mendapatkan harga lebih murah. Ada komunikasi, ekspresi, humor, kepercayaan, bahkan hubungan yang terbangun selama bertahun-tahun. Inilah alasan masa depan pasar rakyat tidak harus dibayangkan sebagai pertarungan melawan teknologi.
Teknologi dapat mengambil bagian yang membuat transaksi lebih mudah. QRIS mempercepat pembayaran. Pesan instan membantu menerima pesanan. Peta digital memudahkan orang menemukan lokasi pasar. Media sosial membantu pedagang memperkenalkan dagangannya. Namun, pengalaman manusia tetap berada di pasar itu sendiri.
Dengan 2.574 pasar rakyat, Jawa Timur memiliki modal besar untuk mempertahankan ruang ekonomi sekaligus ruang sosial tersebut. Tantangannya adalah membuat pasar semakin bersih, aman, tertata, nyaman, dan mudah bertransaksi.
Pasar rakyat tidak perlu berubah menjadi mal agar tetap relevan. Ia cukup berkembang mengikuti kebutuhan zaman tanpa kehilangan sesuatu yang membuat orang terus kembali: barang segar, harga yang bisa dibicarakan, pedagang yang dikenal, dan perjumpaan yang terasa personal.
Di zaman ketika hampir semua barang dapat dipesan tanpa bertemu siapa pun, pasar rakyat justru mengingatkan bahwa aktivitas belanja sejak awal bukan hanya transaksi. Ia juga sebuah perjumpaan.
