Rabu, 07 October 2026 00:00 UTC

Ilustrasi: Motor dan mobilitas harian. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Sepeda motor begitu lekat dengan mobilitas masyarakat Indonesia. Kendaraan roda dua mengantar orang bekerja, berbelanja, kuliah, mengantar anak, sampai menjalankan usaha kecil.
Besarnya ketergantungan itu terlihat dari angka. Data BPS yang bersumber dari Kepolisian RI mencatat 139.450.013 sepeda motor pada 2024. Pada tahun yang sama, jumlah mobil penumpang tercatat 20.444.507 unit. Artinya, populasi sepeda motor hampir tujuh kali jumlah mobil penumpang.
Dominasi tersebut menjelaskan satu hal: membicarakan mobilitas harian masyarakat Indonesia hampir mustahil tanpa membicarakan sepeda motor.
Motor Menjadi Pilihan yang Sangat Praktis
Alasannya tidak selalu rumit. Motor menawarkan sesuatu yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari: fleksibilitas. Pengendara dapat berangkat dari rumah tanpa menunggu jadwal keberangkatan. Mereka juga bisa berhenti di pasar, sekolah, warung, tempat kerja, lalu pulang melalui rute berbeda.
Kemudahan seperti itu terasa penting terutama di kawasan yang permukimannya tersebar dan belum seluruhnya terhubung angkutan umum secara nyaman.
Kementerian Perhubungan mencatat sekitar 167 juta kendaraan bermotor dalam basis data transportasi daratnya. Sekitar 139,4 juta di antaranya merupakan sepeda motor. Angka tersebut menunjukkan betapa besarnya posisi kendaraan roda dua dalam ekosistem transportasi Indonesia.
Pilihan menggunakan motor akhirnya bukan semata persoalan selera. Ada kebutuhan terhadap perjalanan yang cepat, langsung, dan mudah disesuaikan dengan aktivitas harian.
Di Jawa Timur, Motor Juga Mendominasi
Fenomena tersebut sangat terasa di Jawa Timur. Data BPS Jawa Timur menunjukkan besarnya populasi sepeda motor di berbagai kabupaten dan kota. Pada 2024, Kabupaten Malang saja tercatat memiliki 1.108.636 sepeda motor. Kabupaten Kediri mencapai 771.741 unit, sementara Kabupaten Tulungagung memiliki 689.732 unit.
Angkanya juga terus bergerak. Di Kabupaten Malang, misalnya, jumlah sepeda motor tercatat 1.070.595 unit pada 2023. Setahun kemudian jumlahnya menjadi 1.108.636 unit, bertambah sekitar 38 ribu kendaraan.
Kondisi ini membantu menjelaskan pemandangan yang sangat familiar di banyak daerah Jawa Timur. Pagi hari, jalan-jalan lokal dipenuhi motor yang bergerak dari permukiman menuju sekolah, pasar, kawasan perdagangan, kampus, pabrik, dan pusat pemerintahan.
Di kota besar, motor membantu menembus perjalanan yang padat. Di kabupaten, kendaraan yang sama membantu menghubungkan rumah dengan pusat aktivitas yang jaraknya tidak selalu dekat. Motor akhirnya menjalankan banyak fungsi sekaligus.
Praktis, tetapi Keselamatan Tidak Bisa Diabaikan
Kemudahan tersebut memiliki sisi lain yang perlu diperhatikan. Semakin besar aktivitas kendaraan di jalan, semakin penting pula kebiasaan berkendara yang aman.
Data Direktorat Jenderal Perhubungan Darat mencatat 150.906 kejadian kecelakaan lalu lintas jalan di Indonesia sepanjang 2024. Jumlah korban mencapai 226.844 orang, termasuk 26.839 korban meninggal dunia, 16.010 luka berat, dan 183.995 luka ringan.
Angka itu bukan alasan untuk takut menggunakan jalan. Namun, ia mengingatkan bahwa mobilitas tidak cukup hanya dinilai dari seberapa cepat seseorang sampai.
Helm standar, kecepatan yang terkendali, kondisi kendaraan, kepatuhan terhadap rambu, serta tidak menggunakan ponsel saat berkendara merupakan bagian dari kebiasaan sehari-hari yang menentukan keselamatan.
Hal sederhana lainnya juga penting: jangan memaksakan perjalanan ketika tubuh terlalu lelah. Dalam kehidupan yang serba cepat, lima atau sepuluh menit sering terasa sangat berharga. Namun, waktu yang dihemat tidak sebanding dengan risiko yang muncul akibat berkendara terburu-buru.
Mobilitas Juga Menentukan Bentuk Kota
Besarnya penggunaan sepeda motor sebenarnya menyampaikan pesan lain. Masyarakat membutuhkan sistem perjalanan yang mudah, terjangkau, dan mampu menjangkau aktivitas mereka.
Karena itu, masa depan transportasi tidak harus dipahami sebagai persaingan antara motor dan angkutan umum. Keduanya dapat memiliki fungsi berbeda.
Angkutan umum yang nyaman dapat menjadi pilihan untuk perjalanan pada koridor tertentu. Berjalan kaki dan bersepeda bisa efektif untuk perjalanan dekat apabila lingkungan mendukung. Sementara sepeda motor tetap digunakan ketika perjalanan membutuhkan fleksibilitas tinggi.
BPS Jawa Timur sendiri secara rutin memotret transportasi melalui indikator jalan, pergerakan penumpang, serta angkutan barang. Data semacam ini penting karena kebutuhan transportasi tidak berdiri sendiri. Tapi, mengikuti perkembangan permukiman, kegiatan ekonomi, pendidikan, dan pusat-pusat aktivitas masyarakat.
Pada akhirnya, pertanyaan yang menarik bukan sekadar mengapa orang begitu menyukai motor. Pertanyaan yang lebih penting adalah mengapa motor begitu sesuai dengan kebutuhan perjalanan mereka.
Selama rumah, sekolah, pasar, tempat kerja, dan berbagai aktivitas berada pada titik yang tersebar, kebutuhan terhadap kendaraan yang fleksibel akan tetap tinggi.
Motor telah menjadi bagian dari cara masyarakat Indonesia mengatur kehidupan sehari-hari. Tantangannya sekarang adalah membuat mobilitas harian itu semakin aman, tertib, efisien, dan memberi ruang bagi pilihan transportasi lainnya.
