Logo

Mengapa Nostalgia Masa Kecil Terasa Makin Menyenangkan?

Makin digital hidup kita, benda sederhana dari masa lalu justru terasa semakin istimewa.
Reporter:,Editor:

Jumat, 09 October 2026 00:00 UTC

Mengapa Nostalgia Masa Kecil Terasa Makin Menyenangkan?

Ilustrasi: Kenangan masa kecil. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Nostalgia masa kecil sering muncul dari hal yang sangat sederhana. Sebungkus jajanan lama, suara lagu dari radio, permainan di halaman rumah, atau foto sekolah dapat membawa ingatan kembali puluhan tahun.

Menariknya, kerinduan itu kini hidup di tengah masyarakat yang jauh lebih digital. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan 72,78 persen penduduk Indonesia telah mengakses internet pada 2024, naik dari 69,21 persen setahun sebelumnya.

Perubahan itu membuat pengalaman masa kecil generasi yang tumbuh pada 1990-an dan awal 2000-an terasa kontras. Banyak hiburan mereka dahulu berlangsung tanpa koneksi internet, dari bermain kelereng hingga menunggu acara televisi pada jam tertentu.

Ketika kehidupan sekarang dipenuhi layar, notifikasi, dan konten tanpa henti, kenangan terhadap pengalaman yang lebih sederhana mendapatkan makna baru.

 

Generasi Besar yang Kini Sudah Dewasa

Nostalgia bukan fenomena kelompok kecil. Generasi yang tumbuh pada periode 1990-an dan awal 2000-an kini merupakan bagian besar masyarakat Indonesia.

Sensus Penduduk 2020 mencatat Generasi Milenial mencapai 25,87 persen penduduk Indonesia. Generasi Z bahkan sedikit lebih besar, yakni 27,94 persen. Jika digabungkan, keduanya mewakili lebih dari separuh populasi saat sensus dilakukan.

Namun pengalaman masa kecil kedua generasi itu tidak sepenuhnya sama. Milenial mengalami masa ketika telepon rumah, kaset, radio, televisi, rental gim, dan permainan luar ruang masih menjadi bagian penting keseharian.

Sebagian Gen Z mengalami masa transisi berikutnya. Mereka mengenal permainan tradisional sekaligus tumbuh bersama telepon seluler, internet, warnet, hingga media sosial.

Itulah sebabnya satu benda lama dapat menghasilkan respons berbeda. Kaset mungkin membangkitkan ingatan orang tua tentang musik, sementara bagi anaknya justru menjadi benda asing yang menarik.

 

Dari Kelereng sampai Permainan Halaman

Ada alasan mengapa permainan masa kecil sering menjadi pemantik nostalgia yang kuat. Permainan bukan sekadar benda, tetapi pengalaman sosial.

Data Statistik Kebudayaan yang diterbitkan pemerintah pernah mencatat 787 jenis permainan dalam kelompok data kepercayaan dan tradisi Indonesia. Pada basis data yang sama juga tercatat 1.258 makanan tradisional, 1.351 jenis peralatan, serta 3.139 ungkapan.

Angka tersebut memperlihatkan betapa luasnya sumber ingatan kolektif masyarakat. Nostalgia Indonesia bukan hanya soal barang buatan pabrik yang populer pada suatu masa.

Ada permainan halaman, jajanan kampung, ungkapan keluarga, lagu daerah, kebiasaan bertetangga, sampai benda sederhana yang dahulu digunakan sehari-hari.

Warisan budaya semacam itu juga terus didokumentasikan. Kementerian Kebudayaan mencatat 2.213 Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada akhir 2024. Jumlah tersebut meningkat menjadi 2.727 pada 2025.

Artinya, sebagian hal yang dianggap sekadar kenangan masa kecil sebenarnya berada dalam bentang kebudayaan yang jauh lebih besar.

 

Masa Kecil Berubah ketika Layar Menjadi Dominan

Perbedaan paling terasa antara masa lalu dan sekarang adalah cara orang memperoleh hiburan dan berinteraksi. BPS mencatat 68,65 persen penduduk Indonesia memiliki telepon seluler pada 2024. Di antara penduduk yang mengakses internet, sebanyak 99,08 persen menggunakan telepon seluler sebagai salah satu medianya.

Sementara itu, Indeks Masyarakat Digital Indonesia pada 2025 mencapai 44,53, meningkat 1,19 poin dibandingkan tahun sebelumnya. Indeks tersebut mengukur empat pilar, yakni infrastruktur dan ekosistem, literasi digital, pemberdayaan, serta pekerjaan.

Perubahan tersebut tentu membawa banyak kemudahan. Lagu lama yang dahulu harus dicari kasetnya kini dapat ditemukan dalam hitungan detik. Foto keluarga bisa disimpan ribuan dalam satu perangkat.

Namun justru karena semuanya mudah diperoleh, pengalaman lama yang membutuhkan usaha terkadang terasa lebih berkesan. Dahulu seseorang harus datang ke rumah teman untuk mengajak bermain.

Film ditunggu sesuai jadwal. Foto tidak langsung terlihat setelah tombol kamera ditekan. Bahkan mencari lirik lagu bisa menjadi pekerjaan tersendiri. Keterbatasan itu sekarang menjadi bagian dari cerita.

 

Nostalgia Tidak Berarti Ingin Kembali ke Masa Lalu

Menikmati nostalgia tidak harus berarti menganggap kehidupan dahulu selalu lebih baik. Setiap masa memiliki kenyamanan sekaligus persoalannya sendiri. Teknologi telah membuka akses informasi, pendidikan, komunikasi, dan kesempatan ekonomi yang dahulu sulit dibayangkan.

Data BPS memperlihatkan betapa cepat perubahannya. Proporsi penduduk yang mengakses internet meningkat 3,57 poin persentase hanya dari 2023 ke 2024.

Nostalgia justru menarik ketika digunakan untuk memahami perubahan tersebut. Orang dapat memainkan kembali permainan masa kecil bersama anaknya. Resep jajanan keluarga bisa didokumentasikan. Foto lama dapat diberi keterangan nama dan tempat sebelum informasinya hilang.

Cerita tentang radio, surat, kaset, permainan kampung, atau perjalanan sekolah juga dapat direkam dari orang tua dan kakek-nenek.
Dengan begitu, nostalgia berubah dari sekadar rasa rindu menjadi cara sederhana menjaga memori keluarga dan budaya.

 

Kenangan Lama Mendapat Rumah Baru di Dunia Digital

Ada paradoks yang menarik. Teknologi yang mengubah banyak kebiasaan lama sekaligus menyediakan ruang untuk menghidupkannya kembali.

Foto lawas dapat dipindai. Permainan tradisional bisa direkam dalam video. Cerita keluarga dapat disimpan sebagai audio. Resep tulisan tangan dapat didokumentasikan sebelum kertasnya rusak.

Pada titik ini, dunia digital tidak harus menjadi lawan nostalgia. Ia justru bisa menjadi jembatan antara pengalaman generasi yang pernah bermain di halaman rumah dengan generasi yang tumbuh bersama layar sentuh.

Kementerian Kebudayaan sendiri menempatkan pencatatan sebagai bagian penting pelestarian. Warisan budaya takbenda mencakup praktik, ekspresi, pengetahuan, keterampilan, serta ruang budaya yang diakui masyarakat dan diwariskan lintas generasi.

Maka ketika menemukan album foto lama, mainan yang tersimpan di lemari, atau cerita masa kecil orang tua, mungkin benda itu tidak perlu buru-buru disingkirkan.

Di balik benda sederhana terdapat cerita tentang bagaimana sebuah generasi tumbuh. Nostalgia masa kecil terasa menyenangkan bukan semata karena masa lalu lebih indah.

Ia mengingatkan bahwa sebelum kehidupan menjadi serba cepat dan digital, kebahagiaan juga pernah datang dari benda, permainan, dan pertemuan yang sangat sederhana.