Rabu, 14 October 2026 00:30 UTC

Ilustrasi: Hangatnya lauk rumahan. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Lauk rumahan Jawa Timur punya satu kekuatan yang sering luput diperhatikan. Sepiring nasi dengan tempe, tahu, ikan, sayur, sambal, dan buah mungkin terlihat sederhana, tetapi di dalamnya terdapat keragaman pangan yang penting bagi tubuh.
Kebiasaan makan seperti ini juga relevan ketika pola konsumsi masyarakat berubah. Badan Pangan Nasional mencatat skor Pola Pangan Harapan Indonesia pada 2025 mencapai 95,1, naik dari 93,5 pada 2024. Jawa Timur bahkan mencatat skor 95,83. Skor ini digunakan untuk melihat kualitas dan keragaman konsumsi berdasarkan sembilan kelompok pangan.
Angka tersebut memberi pesan sederhana: kualitas makan tidak hanya ditentukan oleh banyaknya makanan di meja. Semakin beragam sumber pangan yang dikonsumsi secara proporsional, semakin baik pula peluang memenuhi kebutuhan zat gizi.
Nasi Masih Menjadi Pusat Meja Makan
Di banyak rumah Jawa Timur, nasi tetap menjadi pusat hidangan. Lauknya dapat berubah dari hari ke hari, tetapi nasi hampir selalu hadir sebagai makanan pokok.
Posisi itu tidak mengherankan. Jawa Timur merupakan salah satu lumbung padi utama Indonesia. Data BPS Jawa Timur menunjukkan produksi padi provinsi ini pada 2025 mencapai sekitar 10,44 juta ton gabah kering giling dari luas panen sekitar 1,84 juta hektare. Setelah dikonversi, produksi beras untuk konsumsi pangan penduduk mencapai sekitar 6,03 juta ton.
Namun, besarnya ketersediaan beras bukan berarti satu piring perlu didominasi nasi. Data Badan Pangan Nasional menunjukkan kelompok padi-padian pada 2025 menyumbang sekitar 1.116 kilokalori per kapita per hari atau 53,2 persen dari angka kecukupan energi yang digunakan dalam perhitungan PPH.
Artinya, lauk rumahan menjadi semakin penting. Ikan, telur, tahu, tempe, sayuran, dan sumber pangan lain bukan sekadar teman nasi. Keragaman itulah yang membantu membuat satu kali makan lebih lengkap.
Tempe dan Tahu Bukan Lauk Kelas Dua
Ada kebiasaan menarik di meja makan Indonesia: tempe dan tahu sering dianggap lauk sederhana, sementara daging dianggap lebih istimewa. Padahal, dari sisi keragaman pangan, keduanya mempunyai tempat penting.
Tempe mudah ditemukan di pasar tradisional, warung makan, hingga dapur keluarga Jawa Timur. Pengolahannya pun sangat fleksibel. Tempe bisa digoreng, dibacem, dibuat orek, dimasukkan ke lodeh, atau dipadukan dengan sambal.
Begitu pula tahu. Di Kediri, misalnya, tahu bahkan telah menjadi bagian dari identitas kuliner daerah. Di tempat lain, tahu hadir dalam berbagai bentuk makanan rumahan yang murah dan mudah dipadukan dengan sayuran.
Kacang-kacangan, yang menjadi kelompok pangan tersendiri dalam PPH, menyumbang sekitar 76 kilokalori per kapita per hari dalam pola konsumsi nasional 2025. Angka itu menunjukkan bahwa sumber protein nabati tetap mempunyai ruang penting dalam pola makan masyarakat.
Karena itu, lauk sederhana tidak perlu “naik kelas” dengan menjadi mahal. Yang lebih penting adalah bagaimana berbagai bahan pangan saling melengkapi dalam satu menu.
Ikan dan Telur Membuat Menu Lebih Beragam
Selain protein nabati, meja makan rumahan juga akrab dengan telur dan ikan. Di kawasan pesisir Jawa Timur, pilihan ikan bahkan sangat beragam. Sementara di daerah yang jauh dari pantai, telur menjadi salah satu bahan yang praktis untuk berbagai masakan.
Data Badan Pangan Nasional menunjukkan konsumsi pangan hewani Indonesia pada 2025 mencapai 133,37 gram per kapita per hari. Angka tersebut sudah melampaui target 129,11 gram. Konsumsi protein secara keseluruhan tercatat 62,8 gram per kapita per hari, lebih tinggi daripada angka 57 gram yang digunakan sebagai rekomendasi ideal dalam evaluasi tersebut.
Namun, keragaman tetap menjadi kata kunci. Menu keluarga tidak harus menghadirkan ayam atau daging setiap hari. Telur, ikan, tahu, dan tempe dapat diputar sehingga makanan tidak terasa monoton sekaligus memberi variasi sumber zat gizi.
Cara memasaknya juga menentukan pengalaman makan. Ikan tidak selalu harus digoreng. Pepes, pindang, kuah asam, atau ikan bakar dapat menjadi pilihan untuk mengurangi ketergantungan pada satu teknik memasak.
Sayur Jangan Hanya Menjadi Pelengkap
Ada satu bagian meja makan yang justru masih perlu mendapat perhatian lebih besar: sayur dan buah. Badan Pangan Nasional mencatat konsumsi buah dan sayur pada 2025 mencapai 251,34 gram per kapita per hari. Angka tersebut telah melewati target 245,33 gram yang digunakan lembaga itu.
Namun, indikator kesehatan menunjukkan tantangannya belum selesai. Survei Kesehatan Indonesia 2023 mencatat 96,7 persen penduduk berusia lima tahun ke atas masih tergolong kurang mengonsumsi sayur dan buah berdasarkan kriteria minimal lima porsi sehari selama tujuh hari dalam seminggu. Sebanyak 67,5 persen hanya mengonsumsi satu hingga dua porsi per hari.
Dua data tersebut mengukur aspek yang berbeda, tetapi sama-sama mengingatkan bahwa keberadaan sayur dan buah di meja makan perlu terus diperkuat.
Untungnya, tradisi kuliner Jawa Timur menyediakan banyak pilihan. Pecel, urap, sayur asem, lodeh, bening bayam, lalapan, hingga berbagai olahan daun lokal membuat sayuran sebenarnya mudah masuk ke menu sehari-hari.
Kembali ke Meja Makan yang Beragam
Makanan rumahan tidak perlu berubah menjadi menu mahal untuk menjadi lebih baik. Satu piring nasi dengan sayur, tempe atau tahu, ikan atau telur, sambal secukupnya, ditambah buah sudah menunjukkan prinsip penting: jangan menggantungkan kebutuhan pangan pada satu kelompok makanan.
Data PPH nasional memperlihatkan perkembangan yang positif. Skor 95,1 pada 2025 menunjukkan pola konsumsi Indonesia semakin mendekati komposisi pangan yang diharapkan, meskipun beberapa kelompok pangan masih perlu diperkuat.
Jawa Timur memiliki modal besar untuk itu. Sawah menghasilkan beras, pesisir menyediakan ikan, desa-desa menghasilkan sayuran, sementara tahu dan tempe telah lama menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Karena itu, lauk rumahan Jawa Timur bukan sekadar cerita tentang makanan sederhana. Ia bisa menjadi cara paling dekat untuk membangun kebiasaan makan yang beragam: dimulai dari dapur, disajikan di meja, lalu dinikmati bersama keluarga.
