Logo

Kenapa Orang Indonesia Masih Suka Menawar?

Di pasar, harga kadang bukan sekadar angka. Ada percakapan, kepercayaan, kebiasaan, dan hubungan antarmanusia di dalamnya.
Reporter:,Editor:

Selasa, 13 October 2026 01:30 UTC

Kenapa Orang Indonesia Masih Suka Menawar?

Ilustrasi: Seni Menawar Harga. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Tawar-menawar masih menjadi pemandangan biasa di banyak pasar Indonesia. Pembeli bertanya harga, pedagang menjawab, lalu muncul kalimat yang sudah sangat familiar: “Boleh kurang?” Percakapannya kadang hanya berlangsung beberapa detik.

 

Menariknya, selisih yang diperdebatkan mungkin hanya beberapa ribu rupiah. Pembeli tersenyum, pedagang bertahan sebentar, kemudian keduanya menemukan angka yang dianggap cocok.

 

Di tengah berkembangnya supermarket, minimarket, marketplace, dan pembayaran digital, kebiasaan seperti ini ternyata belum kehilangan tempat.

Salah satu alasannya sederhana: pasar rakyat bukan hanya tempat pertukaran barang dengan uang. Di dalamnya terdapat interaksi sosial yang sulit ditemukan ketika harga sudah ditentukan oleh sistem.

 

 

Pasar Rakyat Masih Menjadi Bagian Kehidupan.

 

Indonesia mempunyai jaringan pasar rakyat dalam jumlah besar. Data Kementerian Perdagangan melalui Sistem Informasi Sarana Perdagangan mencatat lebih dari 17 ribu pasar rakyat tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

 

Angka tersebut memperlihatkan bahwa pasar tradisional masih mempunyai infrastruktur fisik yang luas dalam sistem perdagangan nasional. Pasar juga mempunyai kedekatan dengan struktur ekonomi masyarakat.

Badan Pusat Statistik mencatat sektor perdagangan besar dan eceran; reparasi mobil dan sepeda motor memberikan kontribusi sekitar 13 persen terhadap produk domestik bruto Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Sektor tersebut juga menjadi salah satu lapangan usaha penting dalam menyerap tenaga kerja.

Di Jawa Timur, perdagangan mempunyai posisi yang tidak kalah penting. Struktur Produk Domestik Regional Bruto Jawa Timur menunjukkan perdagangan besar dan eceran; reparasi mobil dan sepeda motor secara konsisten menjadi salah satu penyumbang utama perekonomian provinsi, bersama industri pengolahan dan pertanian.

Aktivitas jual beli yang terlihat sederhana di pasar akhirnya menjadi bagian dari mesin ekonomi yang jauh lebih besar.

 


Menawar Bukan Selalu Berarti Mencari Harga Termurah

 

Ada anggapan bahwa seseorang menawar karena ingin mendapatkan harga serendah mungkin. Tidak selalu begitu. Dalam transaksi pasar, proses mencapai kesepakatan kadang sama pentingnya dengan nominal akhirnya.

Pembeli bertanya harga cabai. Pedagang menjawab Rp40.000 per kilogram. Pembeli meminta Rp35.000. Pedagang menawarkan Rp38.000. Akhirnya disepakati Rp37.000.

Secara ekonomi, selisihnya tidak besar. Tetapi secara sosial, pembeli merasa mendapatkan ruang untuk bernegosiasi dan pedagang tetap menjaga margin yang dianggap wajar.

Hubungan semacam ini berbeda dengan transaksi di toko modern. Ketika label menunjukkan Rp37.900, konsumen umumnya tidak datang ke kasir dan menawarkan Rp35.000. Harga dianggap final. Di pasar rakyat, harga dalam beberapa jenis transaksi mempunyai ruang yang lebih lentur.

 


Pelanggan Lama Mempunyai “Harga Sosial”

 

Pasar juga mempunyai sesuatu yang sulit dimasukkan ke dalam daftar harga: hubungan. Pedagang mengenali pelanggan yang datang setiap minggu. Mereka mengetahui siapa yang biasanya membeli setengah kilogram cabai, siapa yang membutuhkan sayuran untuk warung makan, atau siapa yang selalu mencari ikan tertentu.

Dari hubungan itu muncul bentuk pelayanan yang sangat personal. Pedagang mungkin memberikan tambahan beberapa cabai. Pembeli mendapat pilihan sayuran yang lebih segar. Barang dapat dipesan untuk hari berikutnya. Bahkan dalam hubungan yang sudah sangat dekat, pembayaran kadang mempunyai kelonggaran.

Nilai transaksi akhirnya tidak hanya dihitung berdasarkan rupiah. Ada kepercayaan yang terbentuk melalui pertemuan berulang. Inilah salah satu kekuatan perdagangan tradisional yang tetap relevan ketika teknologi membuat transaksi semakin otomatis. Marketplace mempunyai algoritma rekomendasi. Pedagang langganan mempunyai ingatan. 

 

 

Tetapi tidak semua barang pantas ditawar

 

Budaya menawar juga mempunyai batas. Ada perbedaan antara bernegosiasi dengan wajar dan memaksa pedagang menurunkan harga sampai margin keuntungannya sangat tipis. Pedagang kecil mempunyai biaya yang sering tidak terlihat pembeli.

Barang harus dibeli dari pemasok. Ada ongkos angkut, sewa tempat, retribusi, risiko produk rusak, waktu bekerja sejak dini hari, hingga barang yang mungkin tidak habis terjual.

Khusus komoditas segar, risiko tersebut lebih besar karena umur produknya pendek. Sayuran yang tidak terjual hari ini belum tentu mempunyai kualitas sama besok pagi.

Karena itu, keberhasilan menawar tidak seharusnya hanya diukur dari seberapa rendah harga yang berhasil diperoleh.Kesepakatan yang sehat memberi manfaat kepada kedua pihak. Pembeli memperoleh harga yang dianggap pantas. Pedagang masih mendapatkan keuntungan yang layak.
 

 

Pasar Ikut Bergerak ke Dunia Digital.

 

Menariknya, pasar tradisional dan teknologi sebenarnya tidak harus saling meniadakan. Pemerintah selama beberapa tahun terakhir mendorong digitalisasi pasar rakyat melalui pembayaran non-tunai, pemanfaatan platform digital, dan penguatan ekosistem perdagangan.

 

Perkembangan QRIS memperlihatkan bagaimana pembayaran digital menjangkau pedagang dalam skala yang semakin luas. Bank Indonesia mencatat hingga akhir 2025 jumlah merchant QRIS mencapai 42,75 juta. Sebagian besar merupakan usaha mikro, kecil, dan menengah. Artinya, pemandangan pasar juga perlahan berubah.

Pembeli masih dapat bertanya harga, memilih tomat dengan tangan sendiri, bercakap dengan pedagang, bahkan menawar. Bedanya, setelah harga disepakati, pembayaran dapat dilakukan dengan memindai kode. Tradisi dan teknologi bertemu dalam transaksi yang sama.

 

Harga Pangan Membuat Kemampuan Membandingkan Tetap Penting

Kemampuan mengetahui harga wajar juga menjadi bagian penting dalam tawar-menawar. Badan Pangan Nasional menyediakan Panel Harga Pangan untuk memantau perkembangan berbagai komoditas seperti beras, bawang, cabai, daging, telur, gula konsumsi, dan minyak goreng di berbagai daerah.

Informasi semacam ini membuat konsumen mempunyai referensi yang lebih baik mengenai pergerakan harga. Namun harga di tingkat konsumen memang dapat berbeda antarwilayah dan pasar.

Biaya distribusi, ketersediaan pasokan, kualitas barang, musim, dan panjang rantai perdagangan ikut memengaruhi harga akhir. Karena itu, harga murah di satu tempat tidak otomatis menjadi standar mutlak untuk semua pedagang. Membandingkan tetap penting, tetapi konteks juga perlu diperhatikan. 

 

 

Ada Pengalaman yang Tidak Masuk Keranjang Digital

 

Belanja di pasar melibatkan banyak indera sekaligus. Kita melihat warna cabai, mencium aroma rempah, memegang buah untuk memeriksa kematangannya, mendengar pedagang menawarkan barang, dan berjalan di antara lorong yang penuh aktivitas.

Ada spontanitas yang sulit direplikasi layar. Seseorang datang untuk membeli ikan tetapi pulang membawa pisang karena melihat kualitasnya bagus. Pedagang sayur memberi tahu bahwa harga tomat sedang turun. Penjual bumbu mengingatkan bahwa stok tertentu baru datang.

Informasi berpindah melalui percakapan. Bagi sebagian orang, pengalaman tersebut justru menjadi alasan untuk tetap datang ke pasar meskipun hampir semua kebutuhan sebenarnya bisa dipesan dari rumah. Pasar menawarkan sesuatu yang semakin langka dalam perdagangan modern: kontak manusia.
 

 

Jangan Kehilangan Percakapannya

 

Digitalisasi kemungkinan akan terus mengubah cara orang Indonesia berbelanja. Transaksi menjadi lebih cepat. Harga lebih mudah dibandingkan. Pembayaran semakin praktis. Barang dari kota berbeda dapat ditemukan hanya dalam beberapa detik.

Namun efisiensi tidak harus membuat semua transaksi menjadi tanpa percakapan. Budaya menawar di pasar menunjukkan bahwa perdagangan sejak lama juga merupakan aktivitas sosial.

Ada seni membaca situasi, menghargai pekerjaan pedagang, memahami harga, bercanda sebentar, lalu mencapai kesepakatan.

Mungkin suatu hari semakin banyak pedagang menerima pembayaran digital dan semakin banyak pasar terhubung dengan layanan online. Tidak masalah. Selama pembeli masih bertanya, “Berapa, Bu?”

Pedagang menjawab harganya. Lalu pembeli tersenyum dan berkata, “Kalau segini boleh?” Pasar masih menjadi ruang perjumpaan, bukan sekadar tempat memindahkan barang dari tangan penjual ke tangan pembeli.