Logo

Diskon Bikin Hemat atau Malah Tambah Belanja?

​​​​​​​Diskon benar-benar menghemat uang hanya ketika barang yang dibeli memang sudah direncanakan sejak awal.
Reporter:,Editor:

Selasa, 13 October 2026 08:30 UTC

Diskon Bikin Hemat atau Malah Tambah Belanja?

Ilustrasi: Jangan Kalah oleh Diskon. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Harga dicoret, angka persentase diperbesar, gratis ongkir ditawarkan, lalu penghitung waktu bergerak mundur. Belanja digital membuat promo hadir hampir setiap saat. Masalahnya, mendapatkan potongan harga tidak selalu berarti berhasil menghemat uang.

Seseorang yang awalnya tidak berencana membeli apa pun dapat merasa memperoleh keuntungan setelah menemukan barang Rp200.000 dijual Rp140.000.

Secara matematis memang ada selisih Rp60.000. Tetapi dari sisi keuangan pribadi, ia tetap mengeluarkan Rp140.000 yang sebelumnya tidak direncanakan.

Fenomena ini semakin relevan karena ruang transaksi digital Indonesia terus membesar. Statistik E-Commerce 2024 dari Badan Pusat Statistik mencatat jumlah usaha e-commerce pada 2024 meningkat 15,30 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

BPS mengumpulkan berbagai indikator, mulai dari media penjualan dan metode pembayaran hingga nilai transaksi. Semakin mudah transaksi dilakukan, semakin penting kemampuan membedakan kebutuhan, keinginan, dan godaan sesaat.

 

Diskon Mengubah Cara Kita Melihat Harga

Ketika melihat sebuah produk, konsumen sebenarnya tidak hanya membaca harga akhir. Ada angka pembanding yang ikut bekerja. Tulisan “Rp300.000” yang dicoret kemudian diganti menjadi “Rp179.000” membuat Rp179.000 terasa murah.

Padahal pertanyaan yang lebih penting bukan seberapa besar potongannya, melainkan apakah produk tersebut memang diperlukan dan apakah harga akhirnya masuk dalam anggaran.

Cara penyajian harga seperti ini membuat perhatian mudah berpindah dari nilai barang menuju besarnya keuntungan yang terasa diperoleh. Kemudian muncul batas waktu.

Promo hanya berlaku beberapa jam. Stok disebut tinggal sedikit. Voucher mempunyai masa berlaku. Gratis ongkir baru tersedia setelah nilai transaksi mencapai jumlah tertentu.

Akhirnya keputusan yang seharusnya sederhana berubah menjadi perlombaan kecil melawan waktu. Kita tidak lagi bertanya, “Apakah saya membutuhkan barang ini?” Pertanyaannya bergeser menjadi, “Bagaimana kalau promonya keburu habis?”



Transaksi Semakin Mudah Dilakukan
Godaan promo menjadi semakin kuat ketika proses pembayaran hampir tidak memiliki hambatan. Bank Indonesia mencatat hingga triwulan IV 2025 terdapat 59,53 juta pengguna QRIS dengan 42,75 juta merchant. Sebagian besar merchant QRIS merupakan UMKM. Di Pulau Jawa saja terdapat sekitar 40,83 juta pengguna QRIS.

Volume transaksi QRIS pada periode tersebut tumbuh 139,99 persen secara tahunan, sementara nilai nominalnya meningkat 107,22 persen.

Angka tersebut tentu tidak berarti pembayaran digital menyebabkan orang menjadi konsumtif. Sistem pembayaran digital memberikan manfaat nyata berupa kecepatan, efisiensi, dan kemudahan transaksi.

Namun dari sisi perilaku sehari-hari, kemudahan tersebut menghilangkan sebagian hambatan sebelum uang keluar. Dulu seseorang mungkin harus mengambil uang di dompet, menghitung lembarannya, lalu menyerahkannya kepada kasir. Kini transaksi dapat selesai dalam hitungan detik.

Karena itu, kemampuan mengendalikan belanja perlu berkembang secepat teknologi pembayarannya.


Gratis Ongkir Belum Tentu Membuat Belanja Lebih Murah
Ada fenomena yang sangat familiar ketika berbelanja online. Harga barang Rp37.000. Gratis ongkir baru diberikan jika nilai belanja mencapai Rp50.000. Akhirnya konsumen mencari barang tambahan seharga Rp15.000. Ia memang memperoleh gratis ongkir. Tetapi nilai barang yang dibeli meningkat menjadi Rp52.000.

Situasi serupa terjadi pada promo “beli dua lebih hemat”, cashback dengan minimum transaksi, atau voucher yang hanya aktif setelah keranjang mencapai nominal tertentu.

Promosi semacam itu tidak otomatis buruk. Untuk barang yang memang rutin dikonsumsi, membeli dalam jumlah tertentu ketika harganya lebih rendah dapat menguntungkan. Sabun, kebutuhan dapur, perlengkapan kebersihan, atau kebutuhan rumah tangga lainnya dapat direncanakan berdasarkan pola pemakaian.

Persoalan muncul ketika konsumen menambah barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan hanya untuk memenuhi syarat promosi.Pada titik itu, tujuan belanja berubah. Bukan lagi memenuhi kebutuhan dengan biaya paling efisien, tetapi mengejar fasilitas yang diberikan transaksi.


Belanja impulsif makin mudah terjadi

Ekosistem perdagangan digital Indonesia juga tidak hanya berlangsung melalui marketplace. BPS memasukkan website, surat elektronik, pesan instan, media sosial, serta marketplace atau platform digital sebagai media penjualan online dalam Survei E-Commerce Indonesia 2024.

Artinya, kesempatan menemukan barang untuk dibeli hadir di banyak ruang digital.  Seseorang mungkin membuka media sosial untuk melihat unggahan teman, tetapi menemukan produk menarik. Ia membuka pesan instan untuk membalas keluarga, lalu melihat promosi penjual langganan.

Batas antara hiburan, komunikasi, dan aktivitas belanja menjadi semakin tipis. Kondisi ini membuat keputusan membeli dapat muncul bahkan ketika seseorang sebenarnya tidak sedang berniat berbelanja.

Karena itulah daftar belanja masih relevan di zaman digital. Daftar sederhana memberi batas antara barang yang dicari dan barang yang ditemukan secara tidak sengaja.


Ada Cara Sederhana Menguji Sebuah Promo

Sebelum menekan tombol pembayaran, coba hilangkan kata “diskon” dari layar secara mental. Lalu tanyakan: apakah barang tersebut tetap ingin dibeli dengan harga yang sekarang tercantum? Jika jawabannya tidak, mungkin yang menarik bukan barangnya, melainkan promonya.

Cara kedua adalah menghitung biaya berdasarkan pemakaian. Barang dengan diskon besar tetap mahal jika akhirnya jarang digunakan. Sebaliknya, barang dengan potongan kecil bisa lebih bernilai jika dipakai setiap hari.

Cara ketiga adalah memberikan jeda untuk pembelian yang tidak direncanakan. Tidak semua barang membutuhkan keputusan pada saat itu juga. Menyimpannya dalam keranjang selama beberapa jam atau sehari sering cukup untuk mengetahui apakah keinginan tersebut bertahan.

Ada pula pertanyaan sederhana yang sangat efektif: “Kalau tidak ada tulisan promo, apakah saya tetap mencarinya?” Jawabannya dapat menjadi pembeda antara kebutuhan dan impuls.

 

Jangan Sampai Murah Berubah Menjadi Risiko
Harga yang sangat murah juga membutuhkan kewaspadaan. Pada Juli 2026, Kementerian Komunikasi dan Digital mengutip angka kerugian akibat spam dan scam di Indonesia yang telah mencapai sekitar Rp7,5 triliun.

Pemerintah mendorong penguatan perlindungan konsumen digital karena modus penipuan terus berkembang melalui berbagai saluran komunikasi dan layanan digital.

Karena itu, harga yang jauh di bawah kewajaran seharusnya tidak langsung dianggap sebagai keberuntungan. Periksa identitas penjual, reputasi toko, detail produk, kebijakan pengembalian, alamat situs, serta metode pembayaran yang digunakan.

Jangan mudah berpindah ke jalur transaksi yang tidak mempunyai perlindungan memadai hanya karena ditawarkan harga lebih murah.

Promosi yang sehat membantu konsumen mendapatkan nilai lebih baik. Sebaliknya, iming-iming harga yang tidak masuk akal dapat menjadi pintu masuk penipuan.

 

Hemat Bukan Soal Seberapa Besar Diskonnya

Belanja hemat pada akhirnya bukan kompetisi mengumpulkan voucher sebanyak mungkin. Ukuran paling sederhana justru berapa banyak uang yang berhasil tidak kita keluarkan untuk barang yang sebenarnya tidak diperlukan.

Diskon 50 persen atas barang yang tidak dibutuhkan tetap menghasilkan pengeluaran. Sebaliknya, potongan 10 persen untuk kebutuhan yang sudah direncanakan benar-benar dapat mengurangi biaya.

Teknologi telah membuat konsumen Indonesia mempunyai pilihan yang luar biasa banyak. Pembayaran semakin mudah, penjual semakin dekat, dan promosi dapat ditemukan sepanjang hari.

Kemudahan itu tentu menyenangkan. Tetapi ketika hampir setiap hari terasa seperti hari diskon, kemampuan berhenti sebelum membeli menjadi keterampilan baru yang sama pentingnya dengan kemampuan mencari harga murah.

Sebab promo terbaik bukan selalu yang memberikan potongan paling besar. Kadang, penghematan terbesar terjadi ketika kita melihat tulisan “diskon”, tersenyum, lalu memutuskan bahwa kita memang tidak membutuhkan barang tersebut.