Logo

Diduga Tak Berizin, BTS di Losari Jombang Diprotes Warga

Reporter:,Editor:

Rabu, 07 October 2026 10:30 UTC

Diduga Tak Berizin, BTS di Losari Jombang Diprotes Warga

Aksi demonstrasi Warga Desa Losari Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang yang memprotes keberadaan BTS milik PT Telkom di lingkungannya, Rabu, 7 Oktober 2026. Foto: Karina.

JATIMNET.COM, Jombang – Warga Desa Losari, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, menuntut pembongkaran tower Base Transceiver Station (BTS) milik PT Telkom yang diduga tidak berizin dan membahayakan lingkungan sekitar.

Tuntutan itu disuarakan melalui aksi demonstrasi di kantor Telkom Ploso, Rabu, 7 Oktober 2026.

Warga menilai keberadaan tower yang disebut telah berdiri sejak 1995 itu belum memberikan kejelasan terkait perizinan.

Mereka juga mengeluhkan material tower yang kerap jatuh menimpa atap rumah serta dugaan gangguan kesehatan yang dirasakan penghuni di sekitar lokasi.

Dalam aksi tersebut, warga membawa pengeras suara dan sejumlah poster berisi tuntutan pembongkaran tower.

Namun, tidak ada perwakilan pihak Telkom yang menemui massa. Gerbang kantor Telkom Ploso juga tertutup dan terkunci selama demonstrasi berlangsung.

Ketua RW 1 Desa Losari, Haryanto, mengatakan warga selama ini tidak pernah mendapatkan komunikasi yang memadai dari pihak Telkom mengenai keberadaan tower tersebut.

Karena itu, warga meminta kejelasan sekaligus mendesak agar tower dibongkar atau aliran listriknya diputus.

“Selama ini dari pihak Telkom tidak ada komunikasi sama sekali. Lebih baik itu dirobohkan atau diputus arus listriknya saja daripada di sini tidak ada kejelasannya. Yang jelas warga merasa dibohongi dari pihak Telkom,” katanya.

Haryanto menyebut sejumlah rumah berada dekat dengan tower. Menurut dia, warga juga mengeluhkan gangguan kesehatan, seperti pusing, serta material berupa baut yang jatuh hingga mengenai genteng rumah.

“Dampaknya (radiasi) cukup besar. Rumah yang berada di bawahnya pas itu orangnya tidak berani menempati,” ujarnya.

Dia menyebut terdapat tiga warga yang dinilai paling terdampak langsung. Sementara itu, di radius sekitar 50 meter dari tower, terdapat kurang lebih 40 rumah.

“Yang sangat terdampak di sini tiga. Yang lain radius 50 meter kurang lebih 40 rumah. Yang terdekat Pak Warso, Pak Pugo, Pak Aryanto, itu yang paling bawahnya pas itu,” paparnya.

Haryanto menambahkan, warga sebelumnya telah menyampaikan protes kepada pihak Telkom dan mengadukan persoalan tersebut ke DPRD Kabupaten Jombang.

Menurut dia, DPRD telah mengeluarkan rekomendasi terkait pemutusan tower yang dipersoalkan warga. Namun, warga menilai belum ada penyelesaian sehingga memilih menggelar demonstrasi.

“Kemarin sudah diajak ke Komisi A DPRD Kabupaten Jombang dan ternyata dari pihak DPRD sudah melaporkan ke bupati. Rekomendasi juga kemudian ke Polres. Ternyata tidak ada hasilnya. Sehingga terpaksa warga melakukan aksi seperti pagi hari ini,” katanya.

Salah seorang warga, Suwarso (60), mengaku merasakan dampak dari keberadaan tower tersebut. Dia menyebut material yang jatuh dari tower beberapa kali mengenai atap rumahnya hingga menyebabkan kerusakan. Dia juga mengeluhkan pusing.

“Barang tower banyak yang jatuh menimpa atap rumah sampai pecah, kepala juga pusing-pusing,” pungkasnya.