Logo

Bukan Sekadar Rekor, Lirboyo Hidupkan Lagi Tradisi Membatik

Reporter:,Editor:

Kamis, 08 October 2026 07:00 UTC

Bukan Sekadar Rekor, Lirboyo Hidupkan Lagi Tradisi Membatik

Santri Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri memecahkan rekor MURI dengan membatik yang berlangsung di lapangan lembaga pendidikan keagamaan tersebut, Kamis, 8 Oktober 2026. Foto: Queen.

JATIMNET.COM, Kediri – Membatik bukan hal baru di Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri. Jauh sebelum 10.476 santri memegang canting untuk memecahkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI), tradisi membatik sudah memiliki jejak sejarah di lingkungan pesantren tersebut.

Pengasuh sekaligus Pimpinan Pondok Pesantren Lirboyo, Agus H. Adibussholeh Anwar mengatakan tradisi itu memiliki kaitan dengan keluarga pendiri Lirboyo. Dulu, istri pendiri Lirboyo merupakan seorang pembatik.

“Membatik itu sebenarnya tidak asing bagi Lirboyo. Jadi ketika hari ini para santri membatik, kita punya sanad jalur yang jelas dan keteladanan yang nyata untuk melestarikan budaya batik,” ujar Gus Adib saat Festival Santri Nusantara 2026, Kamis, 8 Oktober 2026.

Menurut Gus Adib, sapaan akkrab Agus H. Adibussholeh Anwar, membatik tidak hanya ditempatkan sebagai upaya merawat warisan budaya.

Keterampilan tersebut juga diharapkan bisa menjadi bekal kewirausahaan bagi para santri setelah kembali ke daerah masing-masing.

Terlebih, sebagian santri berasal dari daerah yang memiliki sentra batik. Kemampuan membatik diharapkan dapat dikembangkan menjadi keterampilan bernilai ekonomi dan membuka peluang usaha di tengah masyarakat.

Kemampuan santri dalam membatik juga dinilai terbantu oleh kebiasaan mereka mempelajari seni kaligrafi atau khat.

Gerakan tangan saat mengendalikan tinta dalam menulis kaligrafi membuat santri lebih terbiasa mengatur goresan ketika menggunakan canting.

Representatif MURI Sri Widayati mengakui hal tersebut. Menurutnya, kebiasaan santri menulis kaligrafi membuat mereka lebih luwes saat membatik.

“Karena teman-teman santri sudah terbiasa menggunakan tinta dalam menulis kaligrafi, jadi ketika membatik tangannya lebih luwes,” kata Sri.

Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 10.476 santri Lirboyo membatik secara bersama-sama di lapangan pesantren. Aksi itu kemudian dikukuhkan sebagai rekor MURI dalam rangkaian Festival Santri Nusantara 2026.

Sri mengatakan pencatatan rekor tersebut juga menunjukkan semakin luasnya ruang kontribusi pesantren dan santri.

Menurutnya, kiprah santri tidak hanya berkaitan dengan bidang keagamaan, tetapi juga seni, budaya, literasi hingga ekonomi.

Gus Adib berharap pemecahan rekor tersebut tidak berhenti sebagai seremoni. Keterampilan membatik yang diperkenalkan kepada ribuan santri diharapkan dapat terus dikembangkan menjadi kemampuan yang memiliki nilai seni sekaligus manfaat ekonomi.

Dengan begitu, aktivitas membatik di Lirboyo tidak hanya menjadi bagian dari pelestarian budaya, tetapi juga dapat menjadi bekal santri ketika kembali dan berkhidmat di tengah masyarakat.

 

Queenta - Kediri