Logo

BRIN: Wartawan Harus Verifikasi Berita Hasil AI untuk Cegah Hoaks dan Deepfake

Reporter:,Editor:

Sabtu, 17 October 2026 05:14 UTC

BRIN: Wartawan Harus Verifikasi Berita Hasil AI untuk Cegah Hoaks dan Deepfake

Pelatihan pemanfaatkan AI yang digelae BRIN dan DPR RI di Rich Palace Hotel, Sabtu, 17 Oktober 2026. Foto: Khaesar/Jatimnet

JATIMNET.COM, Surabaya – Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Hanif Fakhrurroja, S.Si., M.T., mengingatkan wartawan agar tetap memverifikasi fakta ketika memanfaatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk memproduksi berita. Teknologi ini dapat membantu pekerjaan jurnalistik, tetapi tidak bisa menggantikan peran manusia dalam memastikan kebenaran informasi.

Hanif menyampaikan hal tersebut dalam pelatihan pemanfaatan AI bagi jurnalis yang digelar DPR RI bersama BRIN di Hotel Rich Palace, Surabaya, Sabtu, 17 Oktober 2026. Ia menekankan bahwa wartawan perlu menempatkan AI sebagai mitra kerja, bukan sebagai sumber kebenaran yang dapat diterima tanpa pemeriksaan.

“Yang bijak itu bagaimana? Gunakan AI sebagai partner diskusi. AI membantu kita dalam menulis berita lebih baik, bukan menciptakan peristiwa, bukan berbohong lebih cerdas,” kata Hanif.

Menurut dia, AI memiliki sejumlah fungsi yang dapat mendukung proses produksi berita. Wartawan dapat memanfaatkan teknologi tersebut untuk mengumpulkan data secara otomatis melalui scraping, mengolah informasi, menyusun narasi, hingga membantu proses verifikasi.

BACA: Ucapan "Londo Ireng" Prabowo Picu Kontroversi Pers 
 

Namun, seluruh hasil kerja AI tetap memerlukan pemeriksaan manusia. Hanif menilai pendekatan human-in-the-loop penting untuk memastikan wartawan tetap terlibat dalam setiap tahapan produksi berita.

Pendekatan tersebut menempatkan manusia sebagai pengendali utama, mulai dari menilai keakuratan informasi hingga menentukan konteks dan kelayakan publikasi. Dengan demikian, AI berfungsi meningkatkan efisiensi kerja tanpa mengambil alih pertimbangan jurnalistik.

“Poinnya tidak berhenti di sana, kita harus melibatkan manusianya, melibatkan wartawannya sendiri. Istilahnya human-in-the-loop, biar ada value-nya. Beritanya tidak hanya sepenuhnya digunakan oleh AI,” ujarnya.

Hanif menjelaskan, wartawan dapat menggunakan berbagai platform AI generatif sesuai kebutuhan. Sejumlah platform membantu penulisan teks dan narasi, sedangkan teknologi lainnya mendukung pembuatan ilustrasi, visualisasi data, animasi, hingga pembawa berita virtual.

Meski menawarkan kemudahan, penggunaan AI secara berlebihan justru dapat mengurangi kreativitas dan kemampuan analisis. Hanif mengingatkan wartawan agar tidak sekadar menyalin hasil keluaran AI tanpa memahami, memeriksa, dan mengembangkan informasi secara mandiri.

BACA: Dewan Pers Ingatkan Media Massa Tidak Merujuk Medsos 

Ia menyebut kecenderungan terlalu mengandalkan hasil instan teknologi sebagai brain rot. Kondisi tersebut dapat membuat pengguna mengabaikan proses berpikir kritis yang justru menjadi bagian penting dalam pekerjaan jurnalistik.

“Ketika kita menggunakan AI tanpa memverifikasi fakta atau semua diserahkan ke AI, itu yang berbahaya,” katanya.

Hanif menegaskan, tanggung jawab atas berita yang dipublikasikan tetap berada pada wartawan dan perusahaan media. Kesalahan pemberitaan tidak dapat dibebankan kepada teknologi yang digunakan dalam proses produksi.

“Ketika berita itu terjadi dan terjadi kesalahan, tetap yang salah itu bukan AI-nya. Yang salah itu manusianya, wartawan dan kantor beritanya,” ujarnya.

Karena itu, ia berharap wartawan menggunakan AI secara kritis dan bertanggung jawab untuk menghasilkan berita yang akurat, berkualitas, serta bermanfaat bagi masyarakat.

Di sisi lain, Hanif juga mengingatkan bahwa kelalaian dalam mengawasi penggunaan AI tidak hanya berisiko menghasilkan berita yang keliru, tetapi juga membuka peluang penyebaran konten manipulatif, termasuk deepfake, yang semakin membutuhkan literasi digital dan kewaspadaan masyarakat.