Kamis, 22 October 2026 04:10 UTC

Anggota Komisi A DPRD Provinsi Jatim, Sumardi, saat hadir dalam program Pesantren Tangguh Bencana (Pestana) di Pondok Pesantren Sabilul Muttaqin, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto, Rabu, 22 Oktober 2026. Foto: Karin/Jatimnet.com
JATIMNET.COM, Mojokerto – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur mengembangkan program Pesantren Tangguh Bencana (Pestana) untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan kemampuan mitigasi bencana di lingkungan pondok pesantren.
Program ini dikembangkan dari konsep Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) yang diatur dalam Permendikbud Nomor 33 Tahun 2019. Melalui Pestana, warga pesantren mendapatkan edukasi mengenai cara mengenali potensi bahaya dan menentukan langkah yang perlu dilakukan ketika bencana terjadi.
Pelaksanaan program tersebut berlangsung di Pondok Pesantren Sabilul Muttaqin, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto, Rabu, 22 Oktober 2026. Kegiatan ini dihadiri Pejabat Fungsional Ahli Madya BPBD Provinsi Jawa Timur Dadang Iqwandy, Anggota Komisi A DPRD Provinsi Jawa Timur Sumardi, serta Ketua Yayasan Pondok Pesantren Sabilul Muttaqin KH Abdul Rokhim.
Sumardi mengatakan Ponpes Sabilul Muttaqin direkomendasikan sebagai salah satu lokasi pelaksanaan Pestana berdasarkan pemetaan kebencanaan. Melalui program tersebut, warga pesantren diharapkan memperoleh pemahaman yang memadai untuk menghadapi berbagai kemungkinan ancaman bencana.
“Pestana ini program untuk pondok pesantren, Pesantren Tangguh Bencana. Kita rekomendasikan Sabilul Muttaqin untuk mendapatkan program ini supaya ada edukasi,” ujar Sumardi.
BACA: 5.930 Pesantren di Jatim Berada di Wilayah Berpotensi Bahaya Tinggi, BPBD Luncurkan Program Pestana
Menurutnya, edukasi kebencanaan penting agar keluarga besar pesantren memiliki pemahaman yang sama mengenai tindakan yang harus dilakukan saat menghadapi keadaan darurat. Ancaman yang perlu diantisipasi tidak terbatas pada satu jenis bencana, tetapi juga mencakup banjir, tanah longsor, gempa bumi, hingga kebakaran.
Sumardi berharap program tersebut dapat menjangkau lebih banyak pesantren di Jawa Timur, terutama yang berada di wilayah dengan potensi bahaya bencana tinggi. Dengan perluasan edukasi, pesantren diharapkan semakin siap melakukan mitigasi dan merespons situasi darurat.
“Bisa jadi nanti pondok pesantren yang lain, yang berdasarkan data BPBD termasuk rawan bencana. Mudah-mudahan ini menjadi salah satu upaya kami dari DPRD menjadi bagian dari program penting terhadap mitigasi bencana untuk pondok-pondok pesantren selain sekolah,” kata Sumardi.
Sementara itu, Dadang menjelaskan bahwa Pestana merupakan bagian dari upaya BPBD Jatim memperluas edukasi kebencanaan ke berbagai lingkungan. Selain pesantren, BPBD juga menjalankan program desa dan kelurahan tangguh bencana, pemenuhan kebutuhan tanggap darurat, serta pemulihan fungsi sarana dan prasarana pascabencana.
“Program penanggulangan bencana ini menjadi penting untuk di sekolah, di desa, di pesantren kita sampaikan,” pungkas Dadang.
Urgensi program tersebut didukung hasil pemetaan BPBD Jatim terhadap 7.430 pesantren di Jawa Timur. Dari jumlah itu, sebanyak 5.930 pesantren teridentifikasi berada di wilayah dengan potensi bahaya tinggi berdasarkan kajian terhadap 14 jenis ancaman bencana. Dadang mengingatkan bahwa kategori tersebut menunjukkan potensi berdasarkan kondisi wilayah, bukan kepastian bahwa bencana akan terjadi.
