Logo

Belanja Orang Indonesia Berubah, Warung Tak Hilang

Ponsel mengubah cara kita berbelanja, tetapi kedekatan dan kepraktisan tetap menentukan ke mana uang dibelanjakan.
Reporter:,Editor:

Selasa, 13 October 2026 13:30 UTC

Belanja Orang Indonesia Berubah, Warung Tak Hilang

Ilustrasi: Cara Belanja Berubah. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Cara orang Indonesia berbelanja sedang berubah. Belanja tidak lagi harus berarti datang ke pasar, mengambil keranjang di minimarket, atau berjalan menyusuri rak supermarket. Sebagian kebutuhan kini dapat dipesan melalui ponsel, dibayar secara digital, lalu tiba di depan rumah.

Namun perubahan itu tidak otomatis membuat cara lama menghilang. Data justru memperlihatkan dua kebiasaan berjalan bersamaan. Masyarakat semakin akrab dengan transaksi digital, tetapi perdagangan konvensional masih menjadi bagian penting kehidupan sehari-hari.

Potret tersebut menarik karena menunjukkan bahwa perubahan perilaku belanja di Indonesia bukan sekadar perpindahan dari toko fisik menuju toko online. Konsumen semakin bebas memilih saluran belanja berdasarkan kebutuhan, jarak, harga, kecepatan, dan kenyamanan.

 

Belanja Online Tumbuh, Tetapi Toko Fisik Tetap Hidup

Badan Pusat Statistik dalam Statistik E-Commerce 2024 mencatat jumlah usaha e-commerce Indonesia pada 2024 tumbuh 15,30 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Aktivitasnya juga masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, antara lain karena dukungan infrastruktur digital dan kedekatan dengan pusat kegiatan ekonomi.

Pertumbuhan tersebut melanjutkan perubahan yang sudah terlihat sebelumnya. Survei E-Commerce BPS mencatat jumlah usaha e-commerce pada 2023 tumbuh 27,40 persen. Dari usaha yang didata hingga akhir 2023, sebanyak 41,51 persen menjalankan kegiatan e-commerce, sedangkan 58,49 persen masih menjalankan usaha secara non-e-commerce.

Angka itu memberi gambaran menarik. Digitalisasi memang bergerak cepat, tetapi perdagangan konvensional belum kehilangan tempatnya.

Ada kebutuhan yang cocok dibeli secara online karena konsumen mempunyai waktu membandingkan harga dan produk. Sebaliknya, sebungkus gula, sabun mandi, telur, air mineral, atau bumbu yang mendadak habis sering lebih praktis dibeli beberapa langkah dari rumah.

Inilah alasan warung, toko lingkungan, pasar, minimarket, dan perdagangan digital tidak selalu berada dalam hubungan saling menggantikan. Masing-masing menjawab kebutuhan yang berbeda.

 

Ponsel Membuat Batas Toko Semakin Kabur

Dulu toko mempunyai batas yang jelas: pintu dibuka, pelanggan datang, transaksi terjadi, kemudian pelanggan pulang. Kini sebuah usaha kecil dapat memiliki dua wajah sekaligus.

Warung tetap melayani orang yang datang langsung, tetapi pemiliknya juga bisa menerima pesanan melalui aplikasi pesan. Produk dapat ditawarkan melalui media sosial dan pembayaran dilakukan tanpa uang tunai.

BPS bahkan mendefinisikan aktivitas e-commerce secara luas sebagai usaha yang menggunakan internet untuk menerima pesanan atau melakukan penjualan barang dan jasa. Survei E-Commerce 2024 dilaksanakan di 365 kabupaten/kota pada 38 provinsi.

Artinya, transformasi digital tidak hanya berbicara tentang marketplace besar. Pedagang rumahan yang menerima pesanan melalui internet juga menjadi bagian dari perubahan tersebut.

Bagi konsumen, dampaknya sederhana tetapi besar: tempat membeli barang tidak lagi selalu identik dengan tempat barang tersebut berada. Kita bisa mengenal penjualnya, tokonya hanya beberapa kilometer dari rumah, tetapi transaksi dilakukan melalui layar ponsel.

 

Pembayaran Digital Mengubah Pengalaman Belanja

Perubahan lain terjadi di meja pembayaran. Membawa uang tunai tidak lagi menjadi satu-satunya pilihan bahkan ketika berbelanja secara langsung.

Bank Indonesia mencatat hingga akhir 2025 terdapat 59,53 juta pengguna QRIS dan 42,75 juta merchant. Sebagian besar merchant tersebut merupakan UMKM. Dari seluruh pengguna QRIS, sekitar 40,83 juta berada di Pulau Jawa.

Perubahan itu terasa dalam kegiatan sederhana. Membeli makan siang, membayar kopi, membeli kebutuhan rumah, hingga bertransaksi dengan pedagang kecil semakin mungkin dilakukan dengan memindai kode melalui ponsel.

Menariknya, pertumbuhan pembayaran digital tidak berarti uang tunai langsung ditinggalkan.

Statistik E-Commerce 2024 BPS menunjukkan bahwa pada transaksi usaha e-commerce selama 2024, metode pembayaran yang paling sering digunakan masih didominasi pembayaran tunai atau cash on delivery sebesar 74,79 persen. Transfer bank mencapai 16,61 persen, e-wallet 5,92 persen, QRIS 2,10 persen, dan kartu 0,58 persen.

Kondisi tersebut memperlihatkan karakter konsumen Indonesia yang pragmatis. Teknologi diterima, tetapi metode pembayaran dipilih berdasarkan situasi dan rasa nyaman.

 

Konsumen Sekarang Hidup di Dua Dunia

Pola belanja modern akhirnya tidak sesederhana “offline versus online”. Seseorang bisa mencari harga sebuah produk melalui marketplace pada pagi hari, membandingkan ulasan ketika istirahat siang, lalu membelinya di toko dekat rumah pada sore hari.

Sebaliknya, seseorang dapat melihat produk di toko fisik tetapi akhirnya memesan secara online karena menemukan ukuran atau variasi yang lebih lengkap.

Pilihan saluran juga berubah menurut jenis kebutuhan. Barang yang mendesak cenderung membutuhkan akses cepat. Barang dengan banyak variasi membutuhkan ruang untuk membandingkan. Barang segar memerlukan kepercayaan terhadap kualitas. Produk tertentu justru lebih nyaman dibeli dari penjual yang sudah dikenal.

Karena itu, harga termurah belum tentu selalu menjadi faktor penentu. Jarak, ongkos kirim, waktu tunggu, kemudahan pembayaran, kemungkinan retur, kualitas barang, hingga hubungan dengan penjual ikut menentukan keputusan.

Bagi rumah tangga, pola seperti ini sebenarnya membuka kesempatan untuk berbelanja lebih cermat. Konsumen tidak perlu setia pada satu saluran untuk seluruh kebutuhan.

 

Belanja Praktis Belum Tentu Belanja Hemat

Kemudahan mempunyai sisi lain. Semakin sedikit hambatan untuk melakukan transaksi, semakin mudah pula seseorang membeli sesuatu tanpa perencanaan.

Saat pergi ke pasar atau toko, seseorang membutuhkan waktu dan tenaga. Dalam belanja digital, jarak antara keinginan dan pembayaran dapat tinggal beberapa sentuhan jari.

Karena itu, kebiasaan belanja modern membutuhkan keterampilan baru: bukan hanya mencari barang murah, tetapi mengetahui kapan sebaiknya membeli.

Daftar kebutuhan tetap relevan meskipun keranjang belanja telah berpindah ke layar. Membandingkan harga juga sebaiknya menghitung ongkos kirim, biaya layanan, ukuran kemasan, serta kemungkinan barang tidak terpakai.

Cara sederhana lainnya adalah membedakan barang rutin, barang mendesak, dan barang yang hanya diinginkan. Barang rutin dapat direncanakan dan dibandingkan. Barang mendesak bisa dibeli dari toko terdekat. Sementara barang yang sekadar menarik perhatian sebaiknya diberi jeda sebelum pembayaran.

Pada akhirnya, perubahan cara orang Indonesia berbelanja bukan cerita tentang matinya pasar, warung, atau toko fisik. Yang berubah adalah jumlah pilihan yang tersedia di tangan konsumen.

Pasar, warung, minimarket, marketplace, media sosial, dan pembayaran digital kini berada dalam satu ekosistem kehidupan sehari-hari. Tantangannya bukan lagi menentukan mana yang paling modern, melainkan menggunakan setiap pilihan secara tepat.

Sebab teknologi dapat membuat belanja jauh lebih mudah. Tetapi keputusan apakah kemudahan itu membuat hidup lebih hemat atau justru lebih konsumtif tetap berada di tangan kita.