Logo

Belanja Bulanan Berubah Saat Harga Pangan Naik

Ketika harga berubah, keluarga tidak selalu berhenti membeli. Mereka mengubah jumlah, pilihan, waktu, dan cara mengatur kebutuhan.
Reporter:,Editor:

Selasa, 13 October 2026 05:00 UTC

Belanja Bulanan Berubah Saat Harga Pangan Naik

Ilustrasi: Mengatur Belanja Bulanan. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Belanja bulanan rumah tangga terlihat seperti rutinitas sederhana. Beras dibeli, minyak goreng ditambah, telur masuk keranjang, kebutuhan mandi diperiksa, lalu stok dapur dilengkapi. Namun isi keranjang sebenarnya menceritakan kondisi ekonomi keluarga.
Ketika harga pangan berubah, rumah tangga jarang dapat begitu saja menghapus kebutuhan makan. Yang lebih mungkin terjadi adalah penyesuaian: jumlah pembelian dikurangi, merek diganti, menu diubah, atau pembelian besar dipecah menjadi beberapa kali.

Data Badan Pusat Statistik memperlihatkan betapa pentingnya pengeluaran makanan dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Pada Maret 2025, rata-rata pengeluaran per kapita penduduk Indonesia mencapai sekitar Rp1,57 juta per bulan. Sekitar Rp775.516 digunakan untuk makanan dan Rp799.583 untuk kebutuhan bukan makanan.

Dengan kata lain, hampir separuh pengeluaran rata-rata masyarakat masih berhubungan dengan makanan. Karena itu, perubahan kecil pada harga beras, telur, cabai, minyak goreng, atau kebutuhan dapur lainnya dapat terasa langsung di rumah.

 

Isi Keranjang Mengikuti Kemampuan Rumah Tangga

Pengeluaran rumah tangga tidak terbagi secara sama. BPS mencatat pada Maret 2025 kelompok 40 persen penduduk dengan pengeluaran terendah hanya menikmati sekitar 18,65 persen dari total pengeluaran nasional. Sementara kelompok 20 persen dengan pengeluaran tertinggi memiliki porsi sekitar 45,58 persen.


Perbedaan kemampuan tersebut membuat kenaikan harga memberikan dampak yang tidak sama bagi setiap keluarga. Bagi rumah tangga dengan pendapatan lebih longgar, kenaikan beberapa ribu rupiah mungkin hanya mengubah sedikit komposisi pengeluaran.

Bagi keluarga dengan anggaran ketat, selisih yang sama dapat berarti mengganti lauk, mengurangi camilan, menunda membeli kebutuhan lain, atau mencari tempat belanja dengan harga lebih rendah. Inilah sebabnya pembicaraan tentang harga pangan bukan sekadar urusan angka ekonomi. Dampaknya sampai ke meja makan.

 

Harga pangan memang bergerak dari waktu ke waktu

Badan Pusat Statistik mencatat Indonesia mengalami inflasi tahunan 2,92 persen pada September 2026. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi salah satu kelompok yang mengalami kenaikan harga secara tahunan.

Perubahan harga pada kelompok kebutuhan sehari-hari tersebut penting karena makanan merupakan pengeluaran rutin yang sulit dihindari.

Bank Indonesia juga secara rutin memantau komoditas pangan bergejolak melalui kelompok volatile food. Cabai, bawang, telur ayam ras, daging ayam, dan sejumlah bahan pangan lain dapat mengalami perubahan harga relatif cepat karena pasokan, musim, distribusi, dan permintaan.

Bagi keluarga, istilah ekonomi tersebut mungkin terdengar jauh. Tetapi gejalanya sangat dekat. Harga cabai berubah, sambal dibuat sedikit berbeda. Harga telur meningkat, menu sarapan disesuaikan.

Harga bawang naik, jumlah yang dibeli menjadi lebih sedikit. Rumah tangga melakukan adaptasi bahkan tanpa menyebutnya sebagai strategi ekonomi.

 

Belanja Besar Tidak Selalu Lebih Hemat

Salah satu kebiasaan yang umum adalah membeli kebutuhan sekaligus untuk satu bulan. Cara ini mempunyai keuntungan. Stok lebih terkontrol, frekuensi pergi berbelanja berkurang, dan kebutuhan dasar sudah tersedia di rumah. Tetapi tidak semua barang cocok dibeli untuk sebulan.

Beras, sabun, deterjen, pasta gigi, minyak goreng, atau produk yang tahan lama relatif mudah direncanakan. Sayuran, buah, ikan, tahu, tempe, dan bahan segar lainnya mempunyai karakter berbeda.

Jika terlalu banyak membeli bahan segar hanya karena harga sedang murah, sebagian dapat berakhir rusak dan terbuang.
Pada titik itu, harga murah justru menghasilkan pemborosan.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pernah mencatat timbulan sampah Indonesia mencapai puluhan juta ton per tahun, dengan sisa makanan menjadi salah satu komponen terbesar dalam komposisi sampah nasional.

Sementara kajian Food Loss and Waste di Indonesia yang diterbitkan Bappenas memperkirakan timbulan kehilangan dan sampah pangan sepanjang 2000–2019 berada pada kisaran 23–48 juta ton per tahun, atau sekitar 115–184 kilogram per kapita per tahun. Nilai ekonomi makanan yang hilang dan terbuang diperkirakan mencapai Rp213–551 triliun per tahun.

Angka tersebut menunjukkan bahwa perencanaan belanja bukan hanya persoalan menghemat uang. Ada makanan, energi, air, tenaga kerja, dan proses distribusi yang ikut terbuang ketika bahan pangan berakhir di tempat sampah.

 

Coba Ubah Belanja Bulanan Menjadi Dua Lapis

Salah satu cara sederhana mengatur kebutuhan rumah adalah membagi belanja menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah stok bulanan.

Isinya barang yang penggunaannya relatif dapat diperkirakan dan mempunyai masa simpan panjang. Misalnya beras, minyak, gula, kebutuhan mandi, produk kebersihan, dan beberapa bahan kering. Kelompok kedua adalah belanja mingguan.

Sayuran, buah, tahu, tempe, ikan, daging, telur dalam jumlah tertentu, serta bahan segar lainnya dapat dibeli berdasarkan rencana menu beberapa hari ke depan. Pembagian seperti ini mempunyai keuntungan sederhana.

Keluarga tetap memperoleh manfaat dari perencanaan bulanan, tetapi tidak harus menyimpan terlalu banyak bahan makanan yang mudah rusak. Ada satu kebiasaan kecil yang juga sangat membantu: memeriksa rumah sebelum pergi berbelanja.

Buka lemari dapur. Periksa kulkas. Lihat tempat penyimpanan bahan makanan. Kita sering membeli sesuatu bukan karena stok habis, melainkan karena lupa bahwa barang tersebut masih tersedia.

 

Harga per Kemasan Bisa Menipu

Saat anggaran terbatas, ukuran kemasan menjadi pertimbangan. Kemasan kecil terasa lebih ringan karena uang yang dikeluarkan saat itu lebih sedikit. Namun harga per gram atau per mililiter belum tentu lebih murah.

Sebaliknya, kemasan besar memang sering mempunyai harga satuan lebih rendah, tetapi hanya menguntungkan jika seluruh isinya benar-benar digunakan. Karena itu, ada dua angka yang perlu diperhatikan.

Pertama, berapa uang yang harus dibayar hari ini. Kedua, berapa harga sebenarnya untuk setiap satuan barang. Keduanya tidak selalu menghasilkan keputusan yang sama.

Keluarga dengan uang tunai terbatas mungkin tetap memilih kemasan kecil meskipun harga satuannya lebih tinggi. Keputusan tersebut bukan selalu karena konsumen tidak memahami perbandingan harga, tetapi karena kemampuan belanja juga ditentukan oleh arus uang yang tersedia saat itu. Memahami konteks ini penting ketika membicarakan perilaku konsumen Indonesia.

 

Menu Bisa Menjadi Alat Mengendalikan Belanja

Daftar belanja akan jauh lebih efektif jika dibuat setelah menentukan menu. Tanpa rencana menu, konsumen cenderung membeli berdasarkan ingatan atau apa yang terlihat menarik.

Sebaliknya, rencana makan beberapa hari membuat jumlah kebutuhan lebih mudah dihitung. Jika tahu akan memasak sayur sop, tumis kangkung, telur balado, ikan, dan tempe selama beberapa hari, daftar bahan dapat disusun lebih realistis.

Cara ini juga membantu ketika harga salah satu bahan sedang tinggi. Menu dapat digeser tanpa harus mengurangi kualitas makan secara keseluruhan.

Protein tidak harus selalu berasal dari bahan yang sama. Sayuran dapat mengikuti musim dan ketersediaan lokal. Bumbu tertentu dapat disesuaikan tanpa membuat dapur berhenti berfungsi.

Fleksibilitas seperti inilah yang sejak lama menjadi bagian dari kecerdikan rumah tangga.

 

Keranjang Belanja Adalah Keputusan Ekonomi Kecil

Mengatur belanja bulanan bukan berarti harus menghitung setiap rupiah secara berlebihan. Tujuannya justru membuat keputusan menjadi lebih mudah.

Kita mengetahui barang apa yang harus selalu tersedia, mana yang sebaiknya dibeli mingguan, berapa banyak yang biasanya digunakan, dan kapan stok perlu ditambah.

Ketika harga pangan berubah, keluarga juga mempunyai ruang untuk menyesuaikan diri tanpa langsung mengorbankan seluruh kebutuhan lain. Pada akhirnya, cara orang Indonesia berbelanja tidak hanya berubah karena marketplace, pembayaran digital, atau teknologi.

Harga di pasar juga ikut membentuk kebiasaan.Setiap kali sebuah keluarga mengganti menu, memilih ukuran kemasan berbeda, mengurangi jumlah pembelian, atau memeriksa kulkas sebelum pergi ke pasar, sebenarnya sedang terjadi keputusan ekonomi dalam skala paling dekat dengan kehidupan.

Dan dari sanalah pengelolaan keuangan rumah tangga sering dimulai: bukan dari rumus yang rumit, melainkan dari memahami apa yang benar-benar perlu masuk ke keranjang.