Minggu, 25 October 2026 07:00 UTC

Ilustrasi: Menjelajah kehidupan desa. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Wisata desa menawarkan pengalaman perjalanan yang berbeda dari liburan di kawasan perkotaan atau destinasi wisata massal. Pengunjung tidak hanya menikmati pemandangan, tetapi juga berkesempatan mengenal budaya, makanan, pekerjaan, dan kehidupan masyarakat setempat.
Di berbagai wilayah Indonesia, desa wisata berkembang melalui pemanfaatan potensi alam, kerajinan, pertanian, dan tradisi lokal. Aktivitas sederhana seperti berjalan di persawahan, mengikuti kegiatan memasak, atau belajar membuat kerajinan menjadi bagian dari pengalaman wisata.
Perkembangan tersebut berkaitan dengan perubahan cara sebagian wisatawan memilih tujuan perjalanan. Selain mencari hiburan, mereka juga mempertimbangkan pengalaman yang autentik, interaksi sosial, dan kesempatan mempelajari sesuatu yang baru.
Namun, daya tarik wisata desa tidak hanya terletak pada keindahan alamnya. Keberhasilan pengembangannya juga bergantung pada keterlibatan masyarakat, kualitas layanan, dan kemampuan menjaga lingkungan.
Ribuan Desa Wisata Menawarkan Pengalaman Berbeda
Perkembangan wisata desa terlihat dari semakin banyaknya daerah yang mengembangkan potensi lokal sebagai daya tarik perjalanan. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mencatat 6.016 desa wisata mengikuti Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024. Dari jumlah tersebut, dilakukan seleksi bertahap hingga terpilih 50 desa wisata terbaik.
Sementara itu, Sistem Informasi Kepariwisataan Nasional (Sisparnas) mencatat 6.109 desa wisata dalam data administrasi kepariwisataan 2024. Perbedaan angka tersebut berkaitan dengan cakupan pendataan yang tidak sama.
Banyaknya desa wisata memperlihatkan keragaman potensi pariwisata Indonesia. Setiap wilayah memiliki karakter yang berbeda, mulai dari lanskap pertanian, tradisi masyarakat, kerajinan, hingga makanan khas.
Kementerian Pariwisata juga mengelompokkan desa wisata menjadi empat klasifikasi, yaitu rintisan, berkembang, maju, dan mandiri. Pengelompokan ini membantu menggambarkan tingkat kesiapan pengelolaan destinasi.
Meski demikian, jumlah desa wisata yang besar tidak otomatis menunjukkan seluruh destinasi telah memiliki fasilitas dan kualitas layanan yang sama.
Wisatawan tetap perlu memperhatikan akses transportasi, ketersediaan penginapan, kebersihan, serta jenis aktivitas yang ditawarkan sebelum menentukan tujuan perjalanan.
Perjalanan Domestik Membuka Peluang bagi Desa
Besarnya aktivitas perjalanan masyarakat Indonesia memberikan peluang bagi pengembangan destinasi wisata berbasis komunitas. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat 1,20 miliar perjalanan wisatawan nusantara sepanjang 2025. Jumlah tersebut meningkat sekitar 17,55 persen dibandingkan 2024, ketika perjalanan domestik mencapai sekitar 1,02 miliar.
Angka tersebut menghitung perjalanan, bukan jumlah individu yang berbeda. Seseorang yang melakukan beberapa perjalanan dalam setahun dapat tercatat lebih dari sekali.
Pertumbuhan perjalanan domestik mencerminkan besarnya aktivitas wisata masyarakat. Namun, data nasional tersebut belum dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa kunjungan ke desa wisata meningkat dalam proporsi yang sama.
Peluangnya tetap terbuka. Wisata desa dapat menjadi alternatif bagi keluarga yang ingin menikmati perjalanan singkat, kelompok pelajar yang membutuhkan kegiatan edukatif, maupun wisatawan yang tertarik pada kehidupan masyarakat setempat.
Destinasi yang relatif dekat dari tempat tinggal juga dapat mengurangi kebutuhan perjalanan jarak jauh. Meski demikian, biaya keseluruhan tetap bergantung pada transportasi, penginapan, dan aktivitas yang dipilih.
Wisata Desa Memberikan Pengalaman Belajar
Salah satu daya tarik wisata desa adalah kesempatan mengikuti aktivitas yang tidak selalu tersedia di destinasi wisata konvensional. Pengunjung dapat belajar menanam sayuran, mengenali sistem irigasi tradisional, mencoba kerajinan bambu, atau memahami proses pembuatan makanan khas daerah.
Pengalaman tersebut memberikan pengetahuan yang lebih konkret karena wisatawan berinteraksi langsung dengan masyarakat dan lingkungan tempat kegiatan berlangsung.
Bagi anak-anak, kegiatan seperti mengenali tanaman pangan atau mempelajari asal-usul makanan dapat memperkaya pengalaman belajar di luar kelas.
Sementara bagi wisatawan dewasa, interaksi dengan penduduk membuka kesempatan memahami keterampilan lokal dan cara masyarakat mengelola sumber daya.
Namun, aktivitas wisata edukatif perlu dirancang secara bertanggung jawab. Kegiatan pertanian, misalnya, tidak seharusnya mengganggu pekerjaan petani atau merusak tanaman hanya demi menghasilkan pengalaman wisata.
Pengelola juga perlu menjelaskan aturan keselamatan, batas area kunjungan, dan tata cara berinteraksi dengan masyarakat. Dengan pengelolaan yang baik, wisata desa dapat menjadi ruang pertemuan antara kegiatan rekreasi, pendidikan, dan pelestarian pengetahuan lokal.
Manfaat Ekonomi Harus Dirasakan Masyarakat
Wisata desa memiliki potensi memperluas kesempatan usaha bagi masyarakat setempat. Kehadiran wisatawan dapat menciptakan permintaan terhadap makanan, penginapan, transportasi lokal, jasa pemandu, dan produk kerajinan.
Namun, manfaat ekonomi tidak muncul secara otomatis. Jika sebagian besar layanan dikelola pihak luar, masyarakat desa mungkin hanya memperoleh bagian kecil dari pengeluaran wisatawan.
Karena itu, keterlibatan penduduk dalam pengambilan keputusan menjadi penting. Pengelolaan berbasis komunitas memungkinkan masyarakat menentukan jenis kegiatan, pembagian manfaat, dan batas pengembangan destinasi.
Kelompok sadar wisata, koperasi, pelaku UMKM, serta pemerintah desa dapat bekerja sama membangun sistem pengelolaan yang transparan.
Kualitas layanan juga perlu diperhatikan. Keramahan masyarakat merupakan modal sosial yang berharga, tetapi tetap harus didukung fasilitas sanitasi, informasi harga, keamanan, dan pengelolaan sampah.
Wisata desa yang berkembang tanpa perencanaan justru dapat menghadapi persoalan baru, seperti kemacetan, perubahan fungsi lahan, dan tekanan terhadap sumber air.
Keberlanjutan destinasi bergantung pada kemampuan menjaga keseimbangan antara kebutuhan wisatawan dan kehidupan masyarakat yang menetap di desa tersebut.
Cara Menikmati Wisata Desa dengan Lebih Bertanggung Jawab
Perjalanan ke desa wisata sebaiknya dimulai dengan mencari informasi mengenai karakter destinasi. Tidak semua desa menawarkan aktivitas yang sama atau memiliki fasilitas untuk kunjungan dalam jumlah besar.
Wisatawan dapat menghubungi pengelola sebelum datang, terutama jika ingin mengikuti kegiatan khusus seperti belajar bertani, membuat kerajinan, atau menginap di rumah penduduk.
Memilih jasa pemandu lokal dan membeli produk masyarakat dapat membantu memperluas manfaat ekonomi perjalanan. Pengunjung juga perlu menghormati kebiasaan setempat. Meminta izin sebelum memotret penduduk, menjaga kebersihan, dan mengikuti aturan kunjungan merupakan bagian dari etika wisata.
Dalam kegiatan wisata alam, jumlah pengunjung perlu disesuaikan dengan kapasitas lokasi. Area pertanian, sungai, dan kawasan konservasi memiliki batas penggunaan yang perlu dihormati.
Bagi keluarga, perjalanan dapat dibuat lebih bermakna dengan mengajak anak mencatat pengalaman, mengenali tanaman, atau berdiskusi mengenai pekerjaan masyarakat desa.
Dengan demikian, liburan tidak hanya menghasilkan foto, tetapi juga memperluas pemahaman tentang kehidupan di luar lingkungan sehari-hari.
Wisata desa memberikan pilihan perjalanan yang dekat dengan alam, budaya, dan aktivitas masyarakat. Daya tariknya bukan semata-mata pemandangan, melainkan pengalaman yang sulit diperoleh melalui kunjungan singkat ke tempat wisata komersial.
Ke depan, pengembangan wisata desa perlu menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama, bukan sekadar bagian dari objek wisata.
Ketika dikelola dengan baik, wisata desa dapat menghadirkan pengalaman liburan yang menyenangkan sekaligus membuka peluang ekonomi dan menjaga kekayaan budaya lokal.
