Logo

UT Bidik 1 Juta Mahasiswa pada 2029, Kuliah Sambil Kerja Jadi Andalan

Reporter:,Editor:

Minggu, 11 October 2026 05:30 UTC

UT Bidik 1 Juta Mahasiswa pada 2029, Kuliah Sambil Kerja Jadi Andalan

Rektor Universitas Terbuka Surabaya Prof. Dr. Ali Muktiyanto Surabaya ditemui di Graha Unesa Surabaya, Minggu, 11 Oktober 2026. Foto: Khaesar/Jatimnet. Foto:

JATIMNET.COM, Surabaya – Universitas Terbuka (UT) menargetkan jumlah mahasiswa yang dilayani mencapai minimal 1 juta orang pada akhir 2029.

Sistem kuliah jarak jauh menjadi salah satu andalan untuk memperluas akses pendidikan tinggi bagi masyarakat yang ingin melanjutkan studi tanpa meninggalkan pekerjaan.

Rektor Universitas Terbuka Surabaya, Prof. Dr. Ali Muktiyanto, mengatakan target tersebut menjadi bagian dari strategi pengembangan UT dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. UT bahkan membidik kapasitas layanan hingga 2,5 juta mahasiswa pada 2045.

Namun, menurut Ali, peningkatan jumlah mahasiswa harus diimbangi dengan kualitas pendidikan dan reputasi lulusan.

UT tidak cukup hanya memperluas jangkauan, tetapi juga harus memastikan alumninya memiliki integritas dan kemampuan akademik yang diakui masyarakat.

“Di akhir 2029, kita akan memantaskan diri melayani minimal 1 juta mahasiswa,” kata Ali saat ditemui dalam kegiatan Wisuda Universitas Terbuka Surabaya di Surabaya, Minggu, 11 Oktober 2026.

Ia menegaskan, kualitas lulusan menjadi salah satu tolok ukur penting dalam mencapai target tersebut.

“Yang paling penting adalah membuktikan bahwa alumni UT memang pertama punya integritas, yang kedua punya kebanggaan akademik, dan yang ketiga punya reputasi di masyarakat yang membanggakan dan diakui oleh semua,” ujarnya.

Ali menjelaskan, sistem open and distance learning memungkinkan masyarakat dari berbagai daerah mengakses pendidikan tinggi melalui layanan UT.

Model ini juga memberi kesempatan kepada mereka yang sudah bekerja untuk tetap menempuh pendidikan tanpa harus meninggalkan aktivitas profesional.

Menurut dia, mayoritas mahasiswa UT telah bekerja. Karena itu, fleksibilitas pembelajaran menjadi salah satu karakteristik yang mendukung mahasiswa meningkatkan kompetensi di tengah kesibukan pekerjaan.

Dari sisi jangkauan, UT Surabaya melayani 18 kabupaten/kota secara langsung. Sementara itu, mahasiswa yang terdaftar melalui UT Surabaya tersebar di 118 kabupaten/kota di Indonesia.

“UT menggunakan open and distance learning. Siapa pun warga Indonesia, khususnya di mana pun, boleh mendaftar di UT, di layanan UT mana pun, sesuai dengan kenyamanan mereka,” katanya.

Dalam wisuda yang berlangsung pada 10–11 Oktober 2026, UT Surabaya mencatat 1.351 lulusan dari 2.340 peserta, menurut Direktur UT Surabaya Suparti.

Suparti menjelaskan, wisuda bukan kewajiban bagi seluruh mahasiswa yang telah menyelesaikan studi. Mahasiswa dapat mengikuti prosesi tersebut sebagai bentuk perayaan pencapaian akademik setelah memenuhi persyaratan administrasi.

Biaya administrasi wisuda yang disebutkan mencapai Rp750.000, termasuk perlengkapan seperti toga dan tas.

UT Surabaya juga mengembangkan sistem ujian berbasis automated proctoring (AOP), yang memungkinkan mahasiswa mengikuti ujian dari berbagai lokasi. Pelaksanaannya membutuhkan perangkat yang kompatibel dan jaringan internet memadai.

Suparti mengatakan, rata-rata mahasiswa UT Surabaya menyelesaikan pendidikan dalam delapan semester. Meski demikian, mahasiswa dengan kemandirian belajar yang baik berpeluang lulus lebih cepat sesuai ketentuan akademik.

“Tahun kemarin yang lulusan terbaik 3,98, dia tiga tahun setengah, jadi tidak sampai empat tahun. Artinya, kemandirian belajar itu memang dituntut kalau di UT,” ujarnya.

Selain mengembangkan sistem pembelajaran jarak jauh, UT mulai memperluas layanan digital melalui UT Jakarta Digital 2.

Layanan tersebut menerapkan proses pendaftaran dan pelayanan secara daring untuk mahasiswa yang menginginkan akses layanan tanpa harus datang langsung.

Perluasan jangkauan mahasiswa dan pengembangan layanan digital menjadi bagian dari upaya UT meningkatkan akses pendidikan tinggi.

Namun, pencapaian target hingga 1 juta mahasiswa pada 2029 tetap bergantung pada kemampuan perguruan tinggi tersebut menjaga kualitas pembelajaran dan menghasilkan lulusan yang kompeten.