Logo

Tetangga Kos, Orang Asing yang Jadi Keluarga Kedua

Di perantauan, orang yang pertama mengetuk pintu ketika kita sakit kadang bukan keluarga, melainkan penghuni kamar sebelah.
Reporter:,Editor:

Kamis, 08 October 2026 11:00 UTC

Tetangga Kos, Orang Asing yang Jadi Keluarga Kedua

Ilustrasi: Teman dari Kamar Sebelah. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Tetangga kos sering bermula sebagai orang asing. Mereka datang dari kota berbeda, memiliki pekerjaan berbeda, kuliah di kampus berbeda, bahkan mungkin mempunyai kebiasaan yang sama sekali tidak sama.

Pertemuan pertama bisa sesederhana berpapasan di lorong. Seseorang bertanya apakah kamar mandi sedang dipakai. Orang lain meminjam gunting, meminta bantuan menerima paket, atau bertanya tempat makan murah di sekitar kos. Dari percakapan-percakapan kecil itu, hubungan perlahan terbentuk.

Fenomena tersebut menarik karena mobilitas penduduk Indonesia cukup besar. Hasil Long Form Sensus Penduduk 2020 Badan Pusat Statistik menunjukkan sekitar 9,83 juta penduduk Indonesia berstatus migran risen. Artinya, tempat tinggal mereka ketika sensus berbeda dengan tempat tinggal lima tahun sebelumnya. Angka itu setara sekitar 3,56 persen penduduk. (bps.go.id)

Di balik jutaan perpindahan tersebut terdapat pengalaman yang sangat personal: meninggalkan lingkungan lama dan membangun kehidupan di tempat baru. Bagi sebagian perantau muda, proses itu dimulai dari kamar kos.

 

Merantau Berarti Membangun Lingkaran Sosial Baru

Orang pindah tempat tinggal karena banyak alasan. Pendidikan dan pekerjaan termasuk pendorong yang mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

Jawa Timur sendiri memiliki skala penduduk yang sangat besar. Proyeksi BPS mencatat jumlah penduduk provinsi ini sekitar 42,09 juta jiwa pada 2025. Dari jumlah tersebut, sekitar 21,15 juta merupakan laki-laki dan 20,94 juta perempuan.

Pergerakan manusia di wilayah sebesar itu membuat kota pendidikan, kawasan industri, pusat perdagangan, dan wilayah jasa menjadi tempat bertemunya orang dengan latar belakang beragam.

Ketika seseorang baru tiba, hubungan sosial lama tidak otomatis ikut berpindah. Keluarga mungkin berada ratusan kilometer jauhnya. Sahabat lama hanya bisa ditemui melalui layar.

Sementara orang yang secara fisik berada paling dekat justru penghuni kamar sebelah. Karena itu, tetangga kos mempunyai posisi unik. Mereka bukan keluarga, tetapi dapat menjadi orang pertama yang mengetahui kehidupan sehari-hari seorang perantau.

 

Kedekatan Sering Dimulai dari Bantuan Kecil

Persahabatan di kos jarang dimulai dengan peristiwa besar. Hubungan justru tumbuh dari kebutuhan sederhana. Ada yang meminjam charger. Ada yang menitipkan paket karena sedang bekerja. Ada yang berbagi makanan kiriman dari kampung. Ada pula yang mengetuk pintu tetangganya karena motor tidak bisa dinyalakan.

Bantuan seperti itu terlihat sepele, tetapi menghasilkan sesuatu yang penting dalam kehidupan bersama: rasa percaya.
Setelah beberapa bulan, penghuni mulai mengenali pola hidup satu sama lain. Mereka tahu siapa yang berangkat paling pagi, siapa yang sering pulang malam, siapa yang pandai memasak, dan siapa yang mempunyai kotak perkakas.

Hubungan tersebut tidak harus berkembang menjadi persahabatan dekat. Mengenal nama dan kebiasaan dasar tetangga saja sudah dapat membuat lingkungan tempat tinggal terasa berbeda.

Kos tidak lagi menjadi kumpulan pintu tertutup. Ia perlahan menjadi lingkungan sosial kecil.

 

Tetangga Kos Bisa Menjadi Sistem Pertolongan Pertama

Manfaat memiliki hubungan baik dengan penghuni lain paling terasa ketika terjadi sesuatu yang tidak direncanakan. Sakit adalah contoh sederhana.

Ketika seseorang tinggal bersama keluarga, ada orang yang dapat dimintai tolong membeli makanan atau obat. Di perantauan, bantuan pertama mungkin datang dari kamar sebelah.

Hal yang sama berlaku ketika kunci tertinggal, kendaraan bermasalah, paket datang ketika penghuni sedang keluar, atau ada situasi yang terasa tidak aman.

Hubungan sosial seperti ini memiliki konteks yang semakin penting karena Indonesia terus mengalami urbanisasi. Bank Dunia mencatat lebih dari separuh penduduk Indonesia telah tinggal di kawasan perkotaan dan memperkirakan proporsinya dapat mencapai sekitar 70 persen pada 2045.

Perkembangan kota berarti semakin banyak orang hidup berdekatan secara fisik.Namun tinggal berdekatan tidak otomatis membuat manusia saling mengenal.

Di sinilah kebiasaan kecil seperti menyapa, memperkenalkan diri, atau membantu ketika diperlukan menjadi berarti.

 

Akrab Tetap Membutuhkan Batas

Hidup bertetangga di kos bukan berarti seluruh kehidupan harus dibagikan. Setiap penghuni tetap membutuhkan privasi. Tidak semua orang senang mengobrol lama. Ada yang membutuhkan ketenangan setelah bekerja. Ada pula yang memang lebih nyaman menjaga jarak tanpa bermaksud tidak ramah.

Karena itu, hubungan yang sehat perlu mengenali batas. Meminjam barang sebaiknya dengan izin. Makanan di kulkas bersama tidak boleh dianggap milik bersama. Musik dan percakapan perlu mempertimbangkan waktu. Tamu juga sebaiknya mengikuti aturan tempat tinggal.

Kebiasaan lain yang sering dianggap kecil adalah penggunaan fasilitas bersama. Meninggalkan piring kotor, mengambil jemuran orang lain tanpa izin, memenuhi dapur dengan barang pribadi, atau menggunakan kamar mandi terlalu lama pada jam sibuk dapat menjadi sumber ketegangan.

Kerukunan tidak selalu dibangun melalui kegiatan besar. Sering kali ia muncul dari kemampuan menghargai ruang orang lain.

 

Dari Berbagi Makanan sampai Pulang Kampung

Ada momen tertentu ketika hubungan penghuni kos terasa berbeda. Salah satunya ketika makanan datang dari kampung.
Satu kotak makanan yang terlalu banyak untuk dihabiskan sendiri kemudian dibagikan ke kamar sebelah. Beberapa menit kemudian, lorong yang biasanya sepi berubah menjadi tempat makan kecil.

Pada kesempatan lain, penghuni dapat saling membantu menjaga barang ketika salah seorang pulang kampung. Interaksi seperti inilah yang membuat kehidupan kos memiliki cerita.

Data migrasi dapat menghitung berapa juta orang berpindah. Statistik penduduk dapat menunjukkan bagaimana kota tumbuh. Namun pengalaman menjadi perantau berlangsung pada skala yang jauh lebih kecil: sebuah kamar, lorong sempit, dapur bersama, dan orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal.

Tidak semua tetangga kos akhirnya menjadi sahabat. Sebagian hanya saling menyapa sampai masa sewa berakhir. Tetapi ada pula yang tetap berhubungan bertahun-tahun setelah meninggalkan tempat tersebut.

Itulah sisi menarik kehidupan kos. Seseorang datang untuk mencari kamar, tetapi kadang mendapatkan sesuatu yang tidak tercantum dalam iklan penyewaan: teman makan, teman bercerita, orang yang bisa dimintai pertolongan, bahkan keluarga kedua selama hidup jauh dari rumah.