Logo

Teman Banyak, Kenapa Lingkar Pertemanan Makin Kecil?

Terhubung dengan banyak orang belum tentu membuat seseorang memiliki banyak teman dekat.
Reporter:,Editor:

Sabtu, 10 October 2026 00:00 UTC

Teman Banyak, Kenapa Lingkar Pertemanan Makin Kecil?

Ilustrasi: Ngobrol tanpa sibuk layar. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Punya banyak kontak tetapi hanya beberapa orang yang benar-benar diajak bertemu kini terasa biasa. Anak muda dapat mengikuti kehidupan ratusan orang melalui media sosial, tetapi lingkar pertemanan yang aktif dalam keseharian justru bisa jauh lebih kecil.

Fenomena ini menarik karena terjadi ketika akses komunikasi sedang sangat mudah. Indonesia memiliki puluhan juta anak muda dan internet telah menjadi bagian penting kehidupan mereka. Statistik Pemuda Indonesia 2024 mencatat jumlah pemuda mencapai sekitar 64,22 juta jiwa atau sekitar seperlima penduduk Indonesia. Sebanyak 60,72 persen di antaranya tinggal di perkotaan. 

Di tengah kondisi tersebut, arti "punya teman" perlahan berubah. Pertemanan tidak lagi selalu berarti sering bertemu. Ada teman yang hanya muncul di grup WhatsApp, teman yang rutin saling mengirim video, teman nongkrong, sampai dua atau tiga orang yang benar-benar menjadi tempat bercerita.

 

Internet Membuat Kita Terhubung Hampir Setiap Saat

Besarnya ruang digital dalam kehidupan anak muda terlihat dari cara internet digunakan. Data Susenas 2024 yang dihimpun BPS menunjukkan 88,42 persen pemuda pengguna internet memanfaatkannya untuk hiburan. Sebanyak 86,55 persen menggunakannya untuk media sosial atau jejaring sosial, sedangkan 86,35 persen mengakses informasi atau berita. 

Angka itu menggambarkan betapa komunikasi digital telah menyatu dengan keseharian pemuda. Mengobrol tidak harus menunggu pertemuan. Seseorang bisa mengetahui teman sedang makan apa, pergi ke mana, atau merayakan sesuatu hanya beberapa menit setelah peristiwa terjadi.

APJII memberikan gambaran lebih luas. Survei penetrasi internet Indonesia 2024 memperkirakan terdapat 221,56 juta pengguna internet dengan tingkat penetrasi 79,5 persen. Gen Z menyumbang 34,40 persen pengguna, sedangkan milenial 30,62 persen. Survei tersebut melibatkan 8.720 responden di 38 provinsi. 

Masalahnya, kemudahan mengetahui kehidupan seseorang tidak otomatis sama dengan kedekatan.

Melihat Instagram Story teman membutuhkan beberapa detik. Memberikan emoji bahkan lebih cepat. Sebaliknya, bertemu membutuhkan waktu, perjalanan, biaya, dan kesediaan memberikan perhatian kepada orang lain.

 

Pertemanan Kini Memiliki Banyak Lapisan

Dulu batas antara kenalan dan teman relatif mudah dikenali. Sekarang seseorang bisa berkomunikasi hampir setiap hari dengan orang yang belum pernah ditemuinya secara langsung.

Ada pula teman lama yang bertahun-tahun tidak bertemu, tetapi hubungannya tetap terasa dekat. Sebaliknya, seseorang dapat berada dalam puluhan grup digital tanpa memiliki hubungan personal yang mendalam dengan sebagian besar anggotanya.

Karena itu, jumlah koneksi digital sebaiknya tidak langsung dibaca sebagai ukuran kualitas kehidupan sosial. Internet memang memberi manfaat besar.

Ia memungkinkan persahabatan bertahan melintasi kota, mempertemukan orang dengan minat serupa, serta menjaga hubungan keluarga yang tinggal berjauhan.

Namun, ruang digital juga membuat manusia harus belajar membedakan antara sekadar mengetahui kabar seseorang dan benar-benar hadir dalam kehidupannya.

Pada kelompok yang lebih muda, persoalan ini bahkan berkaitan dengan keamanan dan kenyamanan daring. Kajian UNICEF Indonesia menemukan hanya 37,5 persen anak yang diteliti pernah memperoleh informasi mengenai cara menjaga keamanan ketika daring.

Sebanyak 42 persen mengaku pernah merasa tidak nyaman atau takut akibat pengalaman mereka di internet.  Artinya, kehidupan sosial digital bukan hanya menawarkan koneksi. Ia juga membawa kebutuhan baru untuk memilih lingkungan pertemanan yang aman dan sehat.


Teman Dekat Tidak Harus Banyak

Lingkar pertemanan yang mengecil tidak selalu berarti seseorang menjadi antisosial. Pada banyak orang dewasa muda, kehidupan memang semakin terbagi antara pendidikan, pekerjaan, keluarga, pasangan, perjalanan, dan kebutuhan beristirahat. Waktu akhirnya menjadi sumber daya yang terbatas.

Itulah sebabnya lima teman yang dahulu dapat bertemu beberapa kali seminggu mungkin hanya berkumpul sebulan sekali setelah memasuki dunia kerja. Kedekatan mereka belum tentu berkurang. Frekuensi pertemuannya saja yang berubah.

Yang lebih penting adalah apakah hubungan tersebut masih menyediakan ruang untuk berbicara, mendengarkan, meminta pertolongan, berbeda pendapat, dan tetap merasa diterima.

Dalam konteks ini, nongkrong sederhana mempunyai fungsi yang sering luput diperhatikan. Duduk bersama di warung kopi, makan bakso selepas kerja, berolahraga bersama, atau datang ke rumah teman menciptakan interaksi yang berbeda dibandingkan bertukar pesan.

Ada ekspresi wajah, intonasi, jeda, tawa, bahkan keheningan yang tidak selalu dapat dipindahkan ke layar.

 

Dari Grup WhatsApp Kembali ke Meja yang Sama

Tidak perlu memusuhi media sosial untuk menjaga pertemanan. Justru teknologi bisa dipakai sebagai jembatan menuju interaksi yang lebih nyata.

Grup WhatsApp dapat digunakan untuk menentukan waktu bertemu. Media sosial membantu menemukan kembali teman lama. Video call menjaga hubungan ketika jarak tidak memungkinkan pertemuan langsung. Yang perlu dijaga adalah agar komunikasi tidak berhenti pada notifikasi.

Sesekali, empat orang yang duduk satu meja bisa membuat kesepakatan sederhana: telepon diletakkan sebentar, lalu percakapan dibiarkan berjalan. Tidak perlu membahas sesuatu yang penting. Cerita pekerjaan, makanan, keluarga, rencana akhir pekan, bahkan lelucon lama sudah cukup.

Kebiasaan sederhana itu menjadi semakin berarti ketika kehidupan digital menawarkan koneksi hampir tanpa batas. Pada akhirnya, pertemanan bukan perlombaan mengumpulkan kontak.

Indonesia memiliki 64 juta lebih pemuda dan ruang digital memungkinkan mereka terhubung dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun, kualitas hubungan tetap tumbuh dari perhatian, kepercayaan, pengalaman bersama, dan kesediaan menyediakan waktu.  

Teman boleh tidak banyak. Yang lebih penting, ketika duduk bersama, kita masih benar-benar hadir.