Kamis, 22 October 2026 05:08 UTC

Ilustrasi susu kental manis. Magnific
JATIMNET.COM – Banyak keluarga di Indonesia masih menyajikan susu kental manis (SKM) sebagai minuman sehari-hari, termasuk saat sarapan. Padahal, produk ini tidak tepat dijadikan pengganti susu segar maupun susu ultra high temperature (UHT) karena komposisi gizinya berbeda.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, Dr. dr. Karina Rahmadia Ekawidyani, menjelaskan bahwa produsen membuat SKM dengan mengurangi kadar air susu dan menambahkan gula dalam jumlah besar.
Proses tersebut membuat komposisi SKM berbeda dari susu yang biasa dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan gizi sehari-hari. Meskipun masih mengandung protein dan lemak, jumlahnya tidak sesuai jika produk ini dijadikan sumber utama asupan gizi dari susu.
“Karena komposisi susunya sudah jauh lebih rendah, kandungan protein dan lemaknya juga tidak sesuai jika dikonsumsi sebagai susu harian, maka kalau dijadikan susu minum utama, ada risiko kesehatan,” ujarnya.
Karina menegaskan, masyarakat perlu memahami perbedaan fungsi SKM dengan susu segar maupun UHT. SKM lebih tepat digunakan sebagai pemanis atau pelengkap rasa pada makanan dan minuman, bukan sebagai minuman susu utama, terutama bagi anak-anak.
Pemahaman tersebut penting agar keluarga tidak keliru dalam memilih produk untuk memenuhi kebutuhan gizi harian. Selain memperhatikan fungsi SKM, masyarakat juga perlu mengendalikan jumlah penggunaannya karena produk ini mengandung gula cukup tinggi.
Dalam satu takaran saji sekitar 30 gram atau setara tiga sendok makan, SKM mengandung kurang lebih 15 gram gula. Karena itu, pengaturan takaran menjadi salah satu langkah penting untuk mencegah konsumsi gula berlebihan.
