Rabu, 21 October 2026 00:00 UTC

Ilustrasi: Makanan Jangan Terbuang. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Sisa makanan sering dianggap persoalan kecil di rumah. Nasi yang tidak habis, sayur yang terlupakan di kulkas, buah terlalu matang, atau lauk yang akhirnya dibuang terlihat seperti kejadian biasa.
Jika kebiasaan itu terjadi di jutaan rumah setiap hari, skalanya menjadi sangat berbeda. Persoalan sisa makanan bukan lagi hanya tentang isi tempat sampah, tetapi juga menyangkut uang rumah tangga, sumber daya, dan lingkungan.
Kajian Kementerian PPN/Bappenas memperkirakan susut dan sisa pangan di Indonesia mencapai sekitar 23–48 juta ton per tahun. Bahkan, jika pola pengelolaan tidak berubah, jumlah kehilangan dan pemborosan pangan dapat mencapai 344 kilogram per kapita per tahun pada 2045.
Angka itu membuat kebiasaan kecil di dapur layak diperhatikan. Mengurangi sisa makanan tidak membutuhkan teknologi rumit. Banyak perubahan justru bisa dimulai dari cara berbelanja, memasak, menyimpan, dan mengambil makanan.
Makanan yang Terbuang Juga Berarti Sumber Daya Terbuang
Sepiring makanan tidak muncul begitu saja di meja. Ada lahan, air, energi, tenaga kerja, transportasi, penyimpanan, pengolahan, dan uang yang terlibat sebelum makanan sampai ke rumah.
Ketika makanan yang sebenarnya masih dapat dikonsumsi berakhir di tempat sampah, seluruh sumber daya tersebut ikut kehilangan manfaatnya.
Dampaknya juga berkaitan dengan lingkungan. Bappenas menyebut food loss and waste secara global berkontribusi sekitar 8–10 persen terhadap emisi gas rumah kaca. Di Indonesia, persoalannya semakin penting karena volume sampah yang harus dikelola kota-kota terus bertambah.
Karena itu, mengurangi sisa makanan sebaiknya tidak dipandang sebagai tren gaya hidup semata. Ini merupakan kebiasaan praktis yang dapat dilakukan hampir setiap keluarga.
Belanja Banyak Belum Tentu Lebih Hemat
Salah satu sumber sisa makanan justru muncul dari niat berhemat. Promo membuat orang membeli lebih banyak daripada kebutuhan sebenarnya. Harga per barang mungkin lebih murah, tetapi pengeluaran tidak benar-benar efisien jika sebagian akhirnya rusak atau dibuang.
Cara sederhana adalah memeriksa dapur sebelum berbelanja. Lihat stok beras, telur, sayuran, buah, bumbu, serta makanan di dalam freezer. Setelah itu, buat daftar berdasarkan kebutuhan beberapa hari ke depan.
Perencanaan menu juga tidak harus kaku. Cukup tentukan bahan utama yang dapat dipakai untuk beberapa masakan berbeda. Ayam, misalnya, dapat dibagi untuk dua menu. Sayuran tertentu bisa digunakan untuk tumisan sekaligus sup. Buah yang mulai matang dapat diprioritaskan untuk sarapan.
Prinsipnya sederhana: belanja berdasarkan makanan yang benar-benar akan dimakan, bukan berdasarkan sebanyak apa barang yang mampu dibawa pulang.
Konsumsi Pangan Kita Mulai Lebih Beragam
Ada perkembangan menarik dalam pola konsumsi masyarakat Indonesia. Badan Pangan Nasional mencatat skor Pola Pangan Harapan nasional pada 2025 mencapai 95,1, naik dari 93,5 pada 2024 dan melampaui target 2025 sebesar 94,0.
Data tersebut dihitung menggunakan hasil Susenas yang mencakup 345.000 rumah tangga di 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota. Konsumsi sayur dan buah tercatat 251,34 gram per kapita per hari, sedangkan pangan hewani mencapai 133,37 gram per kapita per hari.
Konsumsi protein mencapai 62,8 gram per kapita per hari, lebih tinggi dibanding angka ideal 57 gram. Sementara konsumsi energi berada pada 2.073 kilokalori per kapita per hari, mendekati angka ideal 2.100 kilokalori.
Menariknya, konsumsi beras juga bergerak turun. Data Badan Pangan Nasional menunjukkan konsumsi beras sebesar 93,5 kilogram per kapita per tahun pada 2022, naik menjadi 93,8 kilogram pada 2023, kemudian turun menjadi 92,1 kilogram pada 2024 dan 87,3 kilogram pada 2025.
Perubahan tersebut membuka peluang untuk membuat dapur keluarga lebih beragam. Singkong, ubi, jagung, kentang, pisang, dan berbagai bahan pangan lokal dapat menjadi alternatif tanpa harus sepenuhnya meninggalkan nasi.
Kulkas Bukan Tempat Melupakan Makanan
Masalah berikutnya sering terjadi setelah belanja. Bahan makanan dimasukkan ke kulkas, lalu terlupakan sampai kondisinya tidak lagi layak digunakan.
Karena itu, penataan kulkas menjadi bagian penting dalam mengurangi sisa makanan. Bahan yang perlu segera dikonsumsi dapat ditempatkan di bagian yang paling mudah terlihat. Makanan baru jangan selalu diletakkan di depan makanan lama. Terapkan kebiasaan sederhana: yang lebih dahulu disimpan, lebih dahulu digunakan.
Sisa masakan juga sebaiknya ditempatkan dalam wadah yang jelas dan mudah dikenali. Bila perlu, beri catatan tanggal penyimpanan agar anggota keluarga mengetahui mana yang harus diprioritaskan.
Porsi memasak pun perlu dievaluasi. Jika nasi selalu tersisa setiap malam, misalnya, itu merupakan sinyal bahwa jumlah yang dimasak terlalu banyak. Mengurangi porsi sejak awal jauh lebih mudah daripada mencari cara memanfaatkan makanan setelah terlanjur berlebih.
Menghabiskan Makanan Bisa Menjadi Pendidikan Keluarga
Kebiasaan mengurangi sisa makanan juga memiliki nilai pendidikan, terutama bagi anak dan remaja. Anak dapat dilibatkan ketika menentukan menu, mengecek bahan makanan, menyimpan belanjaan, atau memanfaatkan bahan yang masih tersedia. Dari kegiatan sederhana tersebut, mereka belajar bahwa makanan mempunyai nilai.
Mereka juga belajar membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Mengambil makanan secukupnya bukan berarti kekurangan. Justru ada tanggung jawab untuk menambah bila masih lapar daripada mengambil banyak kemudian menyisakannya.
Upaya kolektif sudah mulai berkembang. Badan Pangan Nasional mencatat Gerakan Selamatkan Pangan yang dimulai sejak 2022 telah menjangkau 17 provinsi. Lebih dari 224 ton pangan berhasil diselamatkan dan disalurkan kepada lebih dari 456 ribu penerima manfaat.
Pemerintah juga menargetkan pengurangan susut dan sisa pangan sebesar 3–5 persen per tahun dalam RPJMN 2025–2029. Artinya, perubahan di tingkat rumah tangga berjalan dalam arah yang sama dengan agenda nasional. Namun, rumah tidak perlu menunggu program besar untuk memulainya.
Cukup buka kulkas sebelum berbelanja. Masak sesuai kebutuhan. Ambil makanan secukupnya. Dahulukan bahan yang hampir melewati masa terbaiknya. Olah kembali makanan yang masih aman dikonsumsi.
Sisa makanan di rumah memang terlihat kecil. Namun, ketika jutaan keluarga membangun kebiasaan yang sama, dampaknya tidak lagi kecil.
Mengurangi sisa makanan pada akhirnya bukan hanya soal menyelamatkan nasi atau sayur dari tempat sampah. Kebiasaan ini mengajarkan cara hidup yang lebih hemat, menghargai sumber daya, dan bertanggung jawab terhadap apa yang kita konsumsi.
