Sabtu, 10 October 2026 01:00 UTC

Pembina Yayasan Bakrie, Dr. Rachman Sidharta Arisandi, saat menjadi pembicara dalam Seminar Nasional Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (SNP2M) 2026 Universitas Islam Majapahit (UNIM), Rabu, 7 Oktober 2026. Foto: UNIM.
JATIMNET.COM, Mojokerto — Pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam penelitian perguruan tinggi perlu diarahkan agar memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Kecepatan dan efisiensi yang ditawarkan teknologi tersebut harus tetap diimbangi nilai, etika, serta tanggung jawab manusia.
Pesan itu disampaikan Pembina Yayasan Bakrie, Dr. Rachman Sidharta Arisandi, saat menjadi pembicara dalam Seminar Nasional Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (SNP2M) 2026 Universitas Islam Majapahit (UNIM), Rabu, 7 Oktober 2026.
Menurut pria yang akrab disapa Cak Sandi itu, AI tidak cukup dimanfaatkan untuk mempercepat pekerjaan akademik. Perguruan tinggi juga perlu memastikan teknologi tersebut membantu menghasilkan penelitian yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
“Pertanyaannya bukan hanya bagaimana AI membuat penelitian lebih cepat, tetapi bagaimana AI membuat penelitian lebih bermakna bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia menegaskan, perkembangan AI perlu diimbangi dengan nilai-nilai Pancacita Sivitas Akademika UNIM. Nilai tersebut meliputi berpemikiran akademik, berkecakapan profesional, berkesadaran religius, bertanggung jawab ekologis, dan berkearifan kultural.
Kelima nilai itu, lanjutnya, menjadi landasan agar pemanfaatan teknologi tetap kritis, bertanggung jawab, serta tidak menghilangkan peran manusia dalam pengambilan keputusan.
“AI gives us capability. Pancacita gives us direction,” katanya.
Cak Sandi menjelaskan, kemampuan AI dalam mengolah informasi dan meningkatkan efisiensi perlu disertai sikap kritis terhadap hasil yang dihasilkan teknologi. Penggunaannya juga harus mempertimbangkan tanggung jawab etis, dampak terhadap lingkungan, serta keselarasan dengan nilai dan identitas lokal.
Menurut dia, tantangan perguruan tinggi di era AI bukanlah mengalahkan mesin, melainkan memastikan manusia tetap memiliki kemampuan akademik, profesionalisme, dan kebijaksanaan dalam memanfaatkan teknologi.
Pandangan tersebut menjadi bagian dari refleksi 27 tahun perjalanan UNIM dalam memperkuat sinergi perguruan tinggi dan masyarakat melalui penelitian serta pengabdian yang sesuai dengan perkembangan zaman.
Seminar nasional bertema “27 Tahun UNIM Berkarya, Sinergi Perguruan Tinggi dan Masyarakat” itu diikuti 157 peserta dari berbagai perguruan tinggi. Sebanyak 53 peserta hadir langsung di Auditorium Graha Nusantara lantai 1, sedangkan 104 lainnya mengikuti kegiatan secara daring melalui Zoom Meeting.
Peserta berasal dari sejumlah perguruan tinggi, antara lain Universitas Brawijaya, Universitas Kristen Indonesia, Universitas Islam Malang, dan UNIM.
SNP2M 2026 juga menghadirkan enam pembicara dari kalangan akademisi, pemerintahan, dan dunia usaha. Mereka adalah Dr. Irham, Ph.D. dari Universiti Sains Malaysia; Dr. Ismail Marzuki, M.Pd. dari Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong; Maulia Jayanti Islami, S.Kom., M.T. dari BPLSDM Komdigi Surabaya; Afifah Thulandari, S.T., M.T., CEO CV Mahawirya Laksita; Ir. M. Muslimin, S.T., M.T., ASEAN Eng.; serta Achmad Rijanto, S.T., M.T.
Kehadiran para pembicara tersebut diharapkan mempertemukan perspektif akademik, teknologi, pemerintahan, dan industri dalam pengembangan penelitian serta pengabdian kepada masyarakat.
