Jumat, 09 October 2026 02:00 UTC

Rapat koordinasi tentang penanganan retakan tanah di jalur Gumitir, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember yang melibatkan stakeholder terkait, Kamis, 8 Oktober 2026. Foto: FA Satrio/Jatimnet.
JATIMNET.COM, Jember – Retakan tanah di jalur Gumitir, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember, mendapat penanganan khusus untuk mencegah kerusakan meluas menjelang musim hujan.
Sejumlah instansi menyepakati langkah mitigasi, mulai dari penutupan retakan hingga penguatan bahu jalan yang mengalami gerusan.
Kepala BPBD Jember Edy Budi Susilo mengatakan, retakan ditemukan di sekitar KM 230+950 saat tim gabungan melakukan pemeriksaan lapangan pada Senin, 5 Oktober 2026.
Retakan sepanjang sekitar 30 meter itu menjadi perhatian karena lokasinya hanya berjarak 2 hingga 3 meter dari jalur kendaraan, sementara sisi jalan berbatasan dengan area yang berpotensi menjadi jurang.
"Memang ditemukan retakan-retakan ringan tetapi menurut saya dampaknya cukup mengkhawatirkan karena hanya berjarak sekitar 2 sampai 3 meter dari jalur sebelah kanan, yang mana kanan ini berpotensi karena di situ jurang," kata Edy seusai rapat koordinasi, Kamis, 8 Oktober 2026.
Dalam rapat tersebut, BBPJN Jawa Timur, BPBD Jember, Satlantas Polres Jember, Dinas Perhubungan Jember, DPUPR Jember, Perum Perhutani, dan Forkopimcam Silo menyepakati sejumlah langkah penanganan sesuai kewenangan masing-masing.
Penanganan awal dilakukan dengan menutup retakan menggunakan metode sealing, kemudian melapisinya dengan aspal tipis. Pekerjaan sepanjang sekitar 30 meter itu ditargetkan selesai pekan ini.
"Untuk retakan 30 meter itu minggu ini kita selesaikan dengan disealing, kemudian ditutup dengan lapisan tipis pengaspalan di lokasi itu," ujar Edy.
Selain itu, bahu jalan yang mengalami gerusan akan diperkuat menggunakan sandbag yang sebelumnya dipasang BBPJN. Terpal juga akan ditambahkan untuk mengurangi masuknya air hujan ke dalam tanah.
Menurut Edy, langkah tersebut perlu dipercepat untuk mengurangi risiko kerusakan yang lebih parah saat curah hujan meningkat.
Tim gabungan juga memutuskan tidak menebang pohon beringin di sekitar titik retakan. Pohon tersebut hanya akan dirempesi atau dikurangi sebagian ranting dan daunnya untuk mengurangi beban.
"Disimpulkan dalam rapat hari ini tidak dipotong pohon beringin tersebut, tapi hanya dirempesi, dikurangi supaya bebannya tidak terlalu berat," katanya.
Perempesan pohon dijadwalkan pada Sabtu, 10 Oktober 2026. Tim gabungan juga akan memantau kondisi kawasan selama pekerjaan berlangsung.
Untuk penanganan jangka panjang, reboisasi direncanakan berlangsung hingga Desember 2026. Pihak kehutanan akan menyediakan bibit tanaman, di antaranya petai dan duku, yang diharapkan turut mendukung pemulihan kawasan sekaligus memberi manfaat bagi masyarakat sekitar.
Sementara itu, penutupan jalur Gumitir belum diberlakukan. Menurut Edy, pengaturan lalu lintas masih bersifat situasional dan akan dibahas kembali apabila penanganan permanen membutuhkan penutupan jalan.
"Untuk penutupan jalan sifatnya masih situasional. Sementara masih belum, ini masih sifatnya sementara," ujarnya.
Edy berharap langkah mitigasi dapat segera dituntaskan agar risiko kerusakan tidak meningkat saat musim hujan tiba. Penanganan teknis, menurutnya, perlu dilakukan secara efektif untuk mengurangi potensi bencana di jalur penghubung tersebut.
Fauzan Arif Satrio – Jember
