Logo

Patungan Makan Kini Makin Mudah, Tapi Ada Etikanya

Patungan bukan soal menghitung sampai rupiah terakhir, melainkan menjaga agar kebersamaan tetap terasa adil.
Reporter:,Editor:

Kamis, 15 October 2026 05:00 UTC

Patungan Makan Kini Makin Mudah, Tapi Ada Etikanya

Ilustrasi: Patungan tanpa sungkan. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Patungan makan terdengar sederhana. Setelah makanan habis, seseorang membuka struk, menghitung pesanan, lalu teman-temannya mengirim bagian masing-masing. Teknologi membuat proses yang dahulu membutuhkan uang pas dan kembalian itu dapat diselesaikan dalam beberapa menit.

Kebiasaan tersebut semakin relevan karena makanan dan minuman jadi merupakan bagian cukup besar dari pengeluaran masyarakat. Berdasarkan Susenas Maret 2025, BPS mencatat rata-rata pengeluaran penduduk Indonesia untuk makanan dan minuman jadi mencapai Rp248.501 per kapita per bulan. Di perkotaan angkanya bahkan Rp294.188.

Bagi masyarakat Jawa Timur, urusan makan juga menempati porsi penting dalam pengeluaran. Data BPS 2025 menunjukkan 50,45 persen pengeluaran per kapita penduduk Jawa Timur dialokasikan untuk makanan, sedangkan 49,55 persen untuk kebutuhan bukan makanan.

Ketika makan bersama menjadi bagian dari pergaulan, pertanyaannya bukan lagi apakah patungan pantas dilakukan. Yang lebih penting justru bagaimana melakukannya tanpa membuat orang lain merasa tidak nyaman.



Teknologi Membuat Patungan Lebih Praktis

Dahulu, persoalan patungan sering dimulai dari kalimat sederhana: siapa punya uang kecil? Seseorang membayar terlebih dahulu. Teman lainnya menyerahkan uang tunai. Lalu muncul urusan mencari pecahan, menghitung kembalian, atau janji membayar nanti karena tidak membawa uang pas.

Sekarang, transfer melalui aplikasi perbankan dan pembayaran digital mengubah kebiasaan tersebut. Bank Indonesia mencatat volume pembayaran digital pada triwulan II 2026 mencapai 16,07 miliar transaksi, tumbuh 36,88 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pada periode yang sama, transaksi ritel melalui BI-FAST mencapai 1,529 miliar transaksi dengan nilai Rp3.777 triliun. QRIS juga mencatat pertumbuhan volume transaksi sebesar 100,12 persen secara tahunan.

Perkembangan ini membuat pembayaran antarteman semakin mudah. Orang yang membayar tagihan restoran terlebih dahulu tidak harus menunggu bertemu kembali hanya untuk menerima uang pengganti. Namun, kemudahan teknologi ternyata tidak otomatis menyelesaikan persoalan sosial di meja makan.
 

 

Sama Rata Belum Tentu Sama Adil

Bayangkan empat teman makan bersama. Satu orang memesan nasi dan teh seharga Rp30.000. Temannya memesan makanan Rp55.000. Dua lainnya masing-masing menghabiskan sekitar Rp80.000. Totalnya Rp245.000.

Jika dibagi empat sama rata, setiap orang membayar Rp61.250. Perhitungannya memang mudah, tetapi orang yang hanya menghabiskan Rp30.000 harus menanggung lebih dari dua kali nilai pesanannya.

Pada kondisi seperti ini, membayar sesuai pesanan terasa lebih proporsional.

Sebaliknya, ada situasi ketika pembagian sama rata justru paling praktis. Misalnya empat orang memesan beberapa menu untuk disantap bersama dengan porsi relatif seimbang. Menghitung siapa mengambil tiga potong dan siapa mengambil empat potong justru membuat suasana menjadi canggung.

Karena itu, tidak ada satu rumus patungan yang cocok untuk semua keadaan.

Prinsip sederhananya adalah kesepakatan. Jika makanan dinikmati bersama, pembagian rata bisa masuk akal. Jika harga pesanan berbeda jauh, membayar sesuai konsumsi biasanya lebih nyaman.
 

Jangan Menunggu Ditagih Berkali-kali

Ada satu kebiasaan kecil yang sering menjadi sumber ketidaknyamanan: lupa membayar bagian sendiri. Nominalnya mungkin hanya Rp20.000 atau Rp50.000. Namun bagi orang yang terlebih dahulu membayar tagihan seluruh meja, jumlah keseluruhannya dapat cukup besar.

Bayangkan delapan orang makan dengan tagihan Rp75.000 per orang. Seseorang yang menawarkan membayar dahulu harus mengeluarkan Rp600.000.

Jika tiga orang menunda transfer, masih ada Rp225.000 uang pribadinya yang belum kembali.

Persoalannya akhirnya bukan besar atau kecil nominal tersebut. Membayar segera setelah menerima perhitungan menunjukkan bahwa kita menghargai orang yang telah menalangi pembayaran.

Tidak perlu menunggu pesan pribadi berbunyi, “Jangan lupa transfer, ya.” Semakin mudah teknologi pembayaran, semakin sedikit pula alasan untuk membiarkan teman berkali-kali mengingatkan.

 

Kebiasaan Patungan Mencerminkan Perubahan Finansial

Patungan juga menjadi menarik karena berlangsung ketika akses masyarakat terhadap layanan keuangan semakin luas. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2025 yang dilaksanakan OJK bersama BPS mencatat indeks inklusi keuangan Indonesia sebesar 80,51 persen. Sementara indeks literasi keuangan berada pada 66,46 persen.

Ada selisih lebih dari 14 poin persentase antara akses terhadap layanan keuangan dan tingkat literasinya. Angka tersebut memberi konteks penting: semakin mudah menggunakan layanan keuangan belum tentu berarti setiap orang otomatis semakin baik mengelola uangnya.

Patungan makan merupakan contoh kecilnya. Transfer hanya membutuhkan beberapa sentuhan layar. Namun keputusan tentang berapa yang seharusnya dibayar, kapan harus membayar, dan bagaimana membicarakannya tetap membutuhkan kebiasaan finansial yang sehat.

Terlebih, pengeluaran makan bukan bagian kecil dari kehidupan masyarakat. Secara nasional, BPS mencatat rata-rata pengeluaran per kapita pada 2025 mencapai sekitar Rp1,57 juta per bulan. Sekitar Rp775.516 di antaranya merupakan pengeluaran makanan.

Artinya, keputusan kecil yang berulang dalam urusan makan tetap layak diperhatikan.
 

 

Patungan Tidak Harus Menghilangkan Tradisi Ment traktir

Budaya patungan juga tidak berarti semua pertemuan harus dihitung secara matematis. Ada kalanya seseorang memang ingin mentraktir karena ulang tahun, mendapatkan pekerjaan baru, menerima rezeki, atau sekadar ingin berbagi. Pada kesempatan lain, teman yang berbeda dapat mengambil giliran membayar.

Tradisi semacam itu memiliki nilai sosial yang berbeda dari patungan. Yang perlu dihindari adalah asumsi. Jangan menganggap seseorang akan mentraktir hanya karena ia mengajak makan. Sebaliknya, ketika memang berniat mentraktir, menyampaikannya sejak awal dapat membuat suasana lebih nyaman.

Kalimat sederhana seperti “nanti kita bayar masing-masing, ya” juga tidak perlu dianggap pelit. Justru kejelasan sejak awal dapat mencegah salah paham ketika tagihan tiba.

Pada akhirnya, patungan makan bukan sekadar keterampilan membagi angka pada kalkulator. Di dalamnya ada persoalan komunikasi, kebiasaan finansial, dan penghargaan terhadap orang lain.

Teknologi sudah membuat uang dapat berpindah dalam hitungan detik. Etika kita seharusnya ikut berkembang: sepakati cara membayar, hitung dengan wajar, jangan membebani orang yang konsumsinya jauh lebih sedikit, dan segera selesaikan bagian sendiri.

Dengan cara itu, patungan tidak membuat pertemanan terasa transaksional. Justru semuanya menjadi lebih jelas, ringan, dan adil—sehingga setelah tagihan selesai, yang tersisa adalah cerita dari meja makan.