Logo

Naik Kereta Lokal, Kota Tetangga Terasa Makin Dekat

Kereta lokal membuat batas antarkota terasa lebih tipis dalam kehidupan sehari-hari.
Reporter:,Editor:

Rabu, 07 October 2026 11:00 UTC

Naik Kereta Lokal, Kota Tetangga Terasa Makin Dekat

Ilustrasi: Kota tetangga makin dekat. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Pergi ke kota lain di Jawa Timur tidak selalu identik dengan perjalanan jauh. Seseorang bisa tinggal di satu kabupaten, bekerja di kota berbeda, mampir menemui keluarga, lalu kembali pulang pada hari yang sama. Kereta lokal ikut membuat pola perjalanan seperti itu semakin memungkinkan.

Data terbaru PT Kereta Api Indonesia menunjukkan jumlah pelanggan Commuter Line Area VIII Surabaya mencapai 16.016.534 orang sepanjang 2025. Jumlah tersebut naik 8,73 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Dalam dua tahun, pertumbuhannya mencapai sekitar 2,66 juta pelanggan atau 19,88 persen dibandingkan 2023.

Perubahan itu menarik karena kereta lokal tidak hanya digunakan untuk bepergian saat liburan. KAI mencatat perjalanan tersebut berkaitan dengan aktivitas bekerja, belajar, berdagang, mengunjungi keluarga, hingga menikmati akhir pekan. Kereta perlahan menjadi bagian dari rutinitas.

 

Lebih dari 10 Juta Perjalanan dalam Tujuh Bulan

Tren tersebut berlanjut pada 2026. Hingga Juli 2026, jumlah pelanggan Commuter Line Area VIII Surabaya sudah melampaui 10 juta orang. Saat ini tersedia 50 perjalanan setiap hari melalui enam layanan, yakni Dhoho, Penataran, Jenggala, Arjonegoro, Supas, dan Blorasura.

Angka sebesar itu memperlihatkan sesuatu yang lebih luas daripada sekadar popularitas transportasi publik. Hubungan antarkota di Jawa Timur semakin erat.

Orang dapat tinggal di Sidoarjo dan beraktivitas di Surabaya. Warga Mojokerto memiliki akses menuju kawasan sekitarnya. Perjalanan Surabaya menuju Malang atau Blitar juga menjadi bagian dari jaringan pergerakan masyarakat yang saling terhubung. Bagi penumpang, manfaatnya sangat praktis.

Selama perjalanan, mereka tidak perlu memegang kemudi. Waktu di dalam kereta bisa digunakan untuk membaca, mengobrol, melihat pemandangan, membalas pesan, atau sekadar beristirahat. Pengalaman ini berbeda dengan perjalanan menggunakan kendaraan pribadi.

 

Kereta Mengubah Cara Kita Memahami Jarak

Jarak sebenarnya tidak hanya dihitung menggunakan kilometer. Dalam kehidupan sehari-hari, orang sering menilai jauh atau dekat berdasarkan berapa lama perjalanan dilakukan dan seberapa merepotkan cara mencapainya.

Kota yang berjarak puluhan kilometer bisa terasa dekat ketika tersedia transportasi langsung. Sebaliknya, lokasi yang sebenarnya tidak terlalu jauh bisa terasa merepotkan apabila harus beberapa kali berganti kendaraan.

Itulah mengapa jaringan transportasi memiliki pengaruh terhadap kehidupan sosial. Ketika perjalanan menjadi lebih mudah, seseorang mempunyai lebih banyak kemungkinan untuk memilih tempat bekerja, belajar, berbelanja, bertemu keluarga, atau menikmati waktu luang.
Mobilitas akhirnya memperbesar ruang kehidupan seseorang.

BPS Jawa Timur sendiri menempatkan pergerakan penumpang sebagai salah satu indikator penting dalam statistik transportasi daerah. Publikasi transportasi provinsi memotret transportasi darat, laut, dan udara karena pergerakan manusia serta barang berkaitan langsung dengan aktivitas ekonomi dan kehidupan masyarakat.

 

Akhir Pekan Tak Harus Membawa Mobil

Kereta lokal juga menawarkan kemungkinan menarik untuk perjalanan santai. Akhir pekan tidak selalu membutuhkan perjalanan wisata yang rumit. Seseorang dapat memilih kota yang terhubung kereta, berangkat pagi, berjalan-jalan beberapa jam, menikmati makanan lokal, kemudian kembali pada sore atau malam hari.

Pola seperti ini membuat perjalanan terasa lebih ringan. Tidak perlu memikirkan parkir sepanjang hari. Pengemudi juga tidak harus menghadapi kelelahan ketika perjalanan pulang.

Stasiun bahkan dapat menjadi titik awal untuk mengenal sebuah kota dengan cara berbeda. Penumpang turun, berjalan menuju kawasan sekitar, menggunakan angkutan lokal, lalu menemukan warung, pasar, bangunan lama, atau ruang publik yang mungkin terlewat ketika datang menggunakan kendaraan pribadi.


Di sinilah kereta mempunyai nilai lifestyle yang menarik. Tujuan perjalanan tidak selalu harus destinasi wisata terkenal. Pengalaman berpindah dari satu kota ke kota lain pun dapat menjadi bagian dari rekreasi.

 

Transportasi Publik Harus Menang dalam Kepraktisan

Namun, besarnya jumlah pengguna tidak berarti perjalanan menggunakan transportasi umum sudah tanpa tantangan. Survei Komuter Gerbangkertosusila BPS memberikan gambaran menarik mengenai alasan sebagian komuter belum ingin beralih menggunakan transportasi umum.

Di antara komuter yang perjalanan pergi-pulangnya tidak menggunakan angkutan umum dan tidak ingin beralih, sebanyak 340.649 orang atau 88,5 persen memberikan alasan dalam kategori lainnya yang mencakup pertimbangan praktis di luar pilihan utama survei.

Sebanyak 286.729 orang atau 74,5 persen menyebut waktu tempuh lama, sedangkan 273.280 orang atau 71 persen menyebut waktu tunggu lama.

Karena responden dapat memberikan lebih dari satu alasan, persentasenya tidak dimaksudkan untuk dijumlahkan. Di Kota Surabaya, persoalan tersebut bahkan terlihat kuat. Sebanyak 84,6 persen kelompok komuter tersebut menyebut waktu tempuh lama dan 83 persen menyebut waktu tunggu lama.

Data itu berasal dari Survei Komuter Gerbangkertosusila 2017 sehingga tidak tepat dianggap sebagai gambaran mutakhir perilaku masyarakat 2026.

Namun, temuan tersebut tetap berguna untuk memahami persoalan dasar transportasi publik: masyarakat membutuhkan perjalanan yang praktis dari awal sampai akhir.

Orang tidak hanya menghitung waktu selama berada di kereta. Mereka menghitung perjalanan dari pintu rumah sampai tujuan.
Tantangan Sebenarnya Ada di Sebelum dan Sesudah Stasiun

Bayangkan kereta hanya membutuhkan 40 menit, tetapi seseorang harus menghabiskan 30 menit untuk mencapai stasiun.
Setelah turun, ia masih membutuhkan perjalanan tambahan menuju kantor. Keunggulan waktu kereta akhirnya berkurang.

Karena itu, perkembangan kereta lokal perlu berjalan bersama dengan transportasi penghubung. Trotoar, angkutan kota, bus, kendaraan daring, parkir sepeda, serta akses menuju permukiman menjadi bagian dari pengalaman menggunakan kereta. Stasiun yang mudah dijangkau akan membuat kereta lebih menarik.

Sebaliknya, layanan kereta yang baik tetapi sulit dicapai dari rumah membuat masyarakat tetap bergantung pada kendaraan pribadi.
Pilihan masyarakat pada akhirnya sangat rasional. Moda yang terasa paling sederhana biasanya akan digunakan.

 

Jawa Timur Sedang Menjadi Ruang yang Makin Terhubung

Lebih dari 16 juta pelanggan Commuter Line Area VIII Surabaya sepanjang 2025 memberi gambaran tentang besarnya kebutuhan masyarakat untuk bergerak antarkota.

Angka itu juga menunjukkan bahwa batas administratif tidak selalu menjadi batas kehidupan sehari-hari. Rumah bisa berada di satu daerah. Kampus berada di daerah lain.

Tempat bekerja berada di kota berikutnya. Keluarga tinggal beberapa stasiun setelahnya. Dalam kondisi seperti ini, transportasi bukan hanya sarana berpindah tempat.

Transportasi menentukan seberapa luas kesempatan yang dapat dijangkau seseorang. Kereta lokal menjadi menarik bukan karena harus menggantikan seluruh kendaraan pribadi. Nilainya justru terletak pada bertambahnya pilihan.

Semakin mudah seseorang bergerak tanpa harus selalu membawa kendaraan sendiri, semakin fleksibel pula kehidupan yang dapat dijalaninya.

Dan ketika perjalanan ke kota tetangga sudah terasa seperti perjalanan biasa, peta kehidupan masyarakat Jawa Timur pun perlahan berubah.