Selasa, 20 October 2026 01:00 UTC

Ilustrasi: Kampung Masih Terjaga. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Kamera dapat merekam halaman selama 24 jam. Ponsel memungkinkan warga mengirim informasi dalam hitungan detik. Grup percakapan membuat kabar tentang orang asing, kendaraan mencurigakan, atau kejadian di lingkungan segera tersebar.
Namun keamanan lingkungan ternyata bukan hanya persoalan melihat siapa yang lewat. Ada fungsi sosial yang tidak mudah digantikan kamera.
Jawa Timur Memiliki Puluhan Ribu Desa dan Kelurahan Skala kehidupan lingkungan di Jawa Timur sangat besar. Badan Pusat Statistik mencatat Jawa Timur memiliki 8.494 desa dan kelurahan pada 2024 yang tersebar di 38 kabupaten dan kota. Wilayah administratif itu terdiri atas 772 kelurahan dan 7.722 desa. Pada 2025, penduduk Jawa Timur diproyeksikan mencapai sekitar 42,09 juta jiwa.
Besarnya populasi tersebut berarti keamanan sehari-hari tidak mungkin hanya bergantung pada aparat formal. Lingkungan tempat tinggal menjadi lapisan pertama tempat warga mengenali perubahan di sekitarnya.
Siapa penghuni rumah sebelah, kendaraan apa yang biasanya terparkir, kapan tetangga pergi, atau siapa orang baru yang berulang kali datang merupakan informasi yang justru diketahui masyarakat setempat.
Di sinilah konsep keamanan berbasis lingkungan tetap mempunyai relevansi. Pos ronda merupakan salah satu bentuk paling sederhana dari mekanisme tersebut.
CCTV Berkembang karena Masyarakat Semakin Digital
Teknologi tentu mengubah cara rumah dijaga. Kamera pengawas yang dahulu identik dengan gedung perkantoran, bank, atau pusat perbelanjaan sekarang semakin mudah ditemukan di rumah, toko, tempat ibadah, gang, dan perumahan. Perubahan ini berjalan bersamaan dengan meningkatnya akses internet.
BPS mencatat 72,78 persen penduduk Indonesia telah mengakses internet pada 2024. Sementara itu, 68,65 persen penduduk memiliki atau menguasai telepon seluler.
Konektivitas tersebut memungkinkan kamera keamanan dipantau dari perangkat yang berada jauh dari rumah. Pemilik rumah bahkan dapat memperoleh notifikasi ketika kamera mendeteksi gerakan.
Dari sisi efisiensi, teknologi ini jelas membantu. Satu kamera dapat mengawasi titik yang sama terus-menerus tanpa lelah dan menghasilkan rekaman yang dapat diperiksa kembali. Tetapi CCTV mempunyai keterbatasan mendasar. Ia melihat. Ia tidak selalu dapat bertindak.
Pos Ronda Bukan Hanya Tempat Menunggu Pencuri
Gambaran lama tentang ronda sering sederhana: beberapa lelaki duduk malam hari sambil menunggu kemungkinan pencurian. Padahal fungsi sosialnya lebih luas.
Orang yang sedang ronda dapat melihat lampu rumah tetangga yang tidak biasanya menyala, membantu pengendara yang mengalami masalah, mengetahui tamu yang kebingungan mencari alamat, atau memberi pertolongan ketika terjadi keadaan darurat.
Pada saat yang sama, mereka berbicara. Percakapan inilah yang sering dianggap sepele. Warga yang pada siang hari sibuk bekerja memiliki kesempatan bertemu orang satu lingkungan. Mereka bertukar informasi tentang jalan rusak, sampah, orang sakit, kegiatan warga, pendatang baru, atau persoalan kecil yang belum tentu dibicarakan dalam rapat resmi.
Dengan cara tersebut, pos ronda bekerja sebagai ruang komunikasi mikro. Keamanan kemudian muncul bukan hanya karena ada orang berjaga, tetapi karena warga saling mengenal.
Grup WhatsApp Mengubah Cara Kampung Berkomunikasi
Sekarang ada lapisan baru: grup percakapan warga. Informasi yang dahulu harus disampaikan dari rumah ke rumah dapat tersebar hampir seketika. Foto kendaraan, kehilangan barang, pemberitahuan tamu, jadwal kerja bakti, hingga kabar kedukaan bisa dikirim melalui ponsel.
Secara teknis, komunikasi lingkungan menjadi jauh lebih cepat. Namun kecepatan membawa persoalan baru. Pesan yang belum terverifikasi dapat ikut tersebar. Foto seseorang bisa dibagikan dengan tuduhan yang belum jelas. Informasi lama dapat dikirim kembali seolah-olah kejadian baru.
Karena itu, keamanan digital membutuhkan kebiasaan yang sama pentingnya dengan keamanan fisik: verifikasi. Warga perlu membedakan antara memberi peringatan dan menuduh seseorang.
Jika menemukan sesuatu yang mencurigakan, informasi sebaiknya disampaikan secara faktual: lokasi, waktu, ciri kejadian, dan apa yang benar-benar terlihat. Hindari menambahkan kesimpulan yang belum diketahui kebenarannya. Teknologi akan berguna jika manusia yang menggunakannya tetap berhati-hati.
Keamanan Lingkungan Juga Soal Rasa Aman
Ada perbedaan antara keamanan dan rasa aman. Sebuah jalan mungkin memiliki beberapa kamera, tetapi orang tetap merasa tidak nyaman jika gelap, sepi, dan tidak ada orang yang dapat dimintai bantuan.
Sebaliknya, keberadaan warga yang saling mengenal dapat menciptakan rasa aman tambahan. Karena itu, desain lingkungan juga penting.
Lampu jalan, akses yang jelas, rumah yang tidak sepenuhnya terisolasi dari lingkungan, pos penjagaan yang aktif, serta komunikasi antarwarga dapat bekerja bersama teknologi.
Pendekatan semacam ini lebih masuk akal daripada mempertentangkan CCTV dengan ronda. Keduanya melakukan pekerjaan berbeda.Kamera membantu pengawasan dan dokumentasi. Manusia menyediakan penilaian situasi, komunikasi, dan respons.
Kentongan Bisa Berdampingan dengan Kamera Digital
Pos ronda tidak harus dipertahankan persis seperti puluhan tahun lalu. Ia dapat berubah. Jadwal penjagaan bisa lebih fleksibel. Informasi dapat dicatat secara digital.
Kamera lingkungan dapat dipantau bersama. Nomor darurat dapat ditempel jelas. Penerangan diperbaiki, sementara koordinasi dengan petugas keamanan atau aparat setempat dibuat lebih cepat. Bahkan kentongan tidak harus dibuang hanya karena warga sudah memiliki ponsel.
Alat sederhana tersebut masih dapat menjadi penanda lokal ketika listrik mati, jaringan terganggu, atau keadaan membutuhkan perhatian warga dalam waktu singkat. Modernisasi tidak selalu berarti mengganti yang lama. Kadang yang dibutuhkan justru menghubungkan keduanya.
Di tengah masyarakat yang semakin terhubung secara digital, pos ronda mengingatkan bahwa keamanan lingkungan memiliki unsur yang sangat manusiawi: mengenali orang di sekitar kita. CCTV dapat merekam seseorang yang berjalan melewati rumah.
Tetapi tetangga yang saling mengenal mungkin mengetahui siapa orang itu, ke mana ia hendak pergi, dan apakah ia membutuhkan bantuan.
Itulah alasan pos ronda masih memiliki tempat di era kamera digital. Teknologi memperluas mata sebuah lingkungan, sementara hubungan antarwarga membuat lingkungan tersebut benar-benar hidup.
