Sabtu, 17 October 2026 00:00 UTC

Ilustrasi: Pangan Layak Dibagikan. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Makanan berlebih tidak selalu berarti makanan sisa di piring. Ada roti yang belum terjual, buah yang bentuknya kurang menarik, katering acara yang tidak habis dibagikan, bahan pangan mendekati batas penggunaan, hingga masakan rumah yang dibuat terlalu banyak.
Sebagian masih aman dan layak dimakan. Namun, tanpa mekanisme penyaluran yang cepat dan aman, makanan tersebut berpotensi berakhir di tempat sampah.
Persoalan ini menjadi penting karena kajian Kementerian PPN/Bappenas memperkirakan food loss and waste di Indonesia mencapai sekitar 23–48 juta ton per tahun sepanjang 2000–2019. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 115–184 kilogram per kapita setiap tahun.
Kerugian ekonominya diperkirakan mencapai Rp213–551 triliun per tahun. Pada Hari Pangan Sedunia, 16 Oktober, ada pertanyaan sederhana yang layak diajukan: sebelum makanan dibuang, apakah masih mungkin diberikan kepada orang lain?
Jutaan Ton Pangan Kehilangan Manfaatnya
Besarnya makanan yang hilang dan terbuang menjadi ironis ketika dilihat dari nilai gizinya. Kajian Bappenas memperkirakan kehilangan energi akibat food loss and waste selama periode 2000–2019 setara dengan porsi makan sekitar 61–125 juta orang per tahun.
Kehilangan protein diperkirakan setara dengan kebutuhan protein sekitar 68–149 juta orang. Sementara kehilangan vitamin A diperkirakan setara dengan kebutuhan 134–441 juta orang per tahun.
Angka tersebut tentu tidak berarti puluhan juta orang otomatis dapat diberi makan hanya dengan mengumpulkan makanan terbuang.
Food loss terjadi di berbagai tahap. Sebagian pangan hilang ketika produksi dan pascapanen. Sebagian mengalami kerusakan sehingga memang tidak lagi dapat dikonsumsi. Namun, data itu menunjukkan besarnya nilai pangan yang gagal dimanfaatkan secara optimal. Pada titik inilah pencegahan menjadi penting.
Makanan yang belum terbuang jauh lebih mudah diselamatkan daripada makanan yang sudah bercampur dengan sampah.
Indonesia Masih Menghadapi Kerawanan Pangan
Makanan berlebih dan kekurangan pangan dapat berada dalam satu wilayah pada waktu yang sama. Badan Pusat Statistik mencatat prevalensi penduduk Indonesia yang mengalami kerawanan pangan sedang atau berat berdasarkan Food Insecurity Experience Scale mencapai 4,00 persen pada 2025.
Di Jawa Timur angkanya lebih rendah, yakni sekitar 2,06 persen. Persentase tersebut mungkin terlihat kecil. Namun, jika diterapkan pada jumlah penduduk yang besar, persoalannya tetap menyangkut banyak orang.
Sementara itu, prevalensi ketidakcukupan konsumsi pangan atau prevalence of undernourishment Indonesia pada 2025 tercatat 7,21 persen. Angka itu menurun dibandingkan 8,27 persen pada 2024.
Penurunan tersebut merupakan perkembangan positif. Namun, angka 7,21 persen juga menunjukkan akses terhadap pangan yang cukup masih menjadi persoalan bagi sebagian masyarakat.
Kondisi ini membuat penyelamatan pangan mempunyai dua manfaat sekaligus. Makanan yang masih layak tidak menjadi sampah, sementara sebagian pangan dapat memperoleh kesempatan kedua untuk dikonsumsi.
Berbagi Makanan Tidak Boleh Asal Berbagi
Niat baik tetap membutuhkan aturan. Makanan yang sudah rusak, berbau, terkontaminasi, atau tidak diketahui keamanannya tidak boleh diberikan kepada orang lain hanya agar tidak terbuang.
Prinsip dasarnya sederhana: makanan yang tidak pantas kita makan sendiri juga tidak pantas diberikan kepada orang lain. Badan Pengawas Obat dan Makanan menempatkan keamanan pangan sebagai unsur penting dalam pengelolaan makanan. Pangan perlu dilindungi dari cemaran biologis, kimia maupun benda lain yang dapat membahayakan kesehatan.
Organisasi Kesehatan Dunia juga mempunyai lima prinsip dasar keamanan pangan: menjaga kebersihan, memisahkan pangan mentah dan matang, memasak dengan benar, menjaga makanan pada suhu aman, serta menggunakan air dan bahan baku yang aman.
Prinsip tersebut penting ketika makanan akan dibagikan. Makanan matang sebaiknya ditempatkan dalam wadah bersih dan tertutup. Informasi waktu memasak atau pengemasan perlu diketahui. Jika makanan membutuhkan suhu dingin, rantai dinginnya harus dipertahankan.
Semakin mudah rusak suatu makanan, semakin cepat pula makanan tersebut harus disalurkan. Karena itu, redistribusi pangan bukan sekadar memindahkan makanan dari satu tangan ke tangan lain.Keamanan penerimanya tetap menjadi prioritas.
Indonesia Mulai Serius Menyelamatkan Pangan
Upaya menyelamatkan pangan sebenarnya mulai mendapat perhatian lebih besar dalam kebijakan nasional. Bappenas telah menyusun Peta Jalan Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan dalam Mendukung Pencapaian Ketahanan Pangan Menuju Indonesia Emas 2045.
Peta jalan tersebut menetapkan arah penanganan food loss and waste secara bertahap sampai 2045, termasuk pencegahan, penyelamatan pangan, pemanfaatan kembali, pengolahan dan penguatan tata kelola.
Pemerintah juga menempatkan persoalan ini dalam konteks target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Target SDGs 12.3 mendorong dunia untuk mengurangi separuh sampah pangan per kapita pada tingkat ritel dan konsumen pada 2030 sekaligus mengurangi kehilangan pangan sepanjang rantai produksi dan pasokan.
Targetnya besar, tetapi praktiknya bisa dimulai dalam skala kecil. Rumah tangga dapat menawarkan bahan pangan berlebih kepada tetangga sebelum rusak.
Restoran dapat memperbaiki perencanaan produksi. Penyelenggara acara dapat menghitung porsi lebih realistis dan menyiapkan prosedur penyaluran makanan yang tidak tersentuh.
Toko, hotel, bakery, katering dan pasar juga berpotensi terhubung dengan organisasi yang mempunyai kemampuan menyalurkan pangan secara aman.
Berbagi Pangan Bisa Dimulai dari Lingkungan Sendiri
Tidak semua lingkungan membutuhkan food bank berskala besar. Di tingkat RT, pesantren, kampus, sekolah, rumah ibadah atau komunitas, sistem sederhana bisa dibangun.
Misalnya, warga mempunyai kanal komunikasi khusus ketika terdapat makanan berlebih dari sebuah kegiatan. Informasi disampaikan segera, bukan keesokan harinya setelah kualitas makanan menurun.
Komunitas juga dapat menentukan siapa yang mengambil, bagaimana makanan dikemas, serta berapa lama makanan masih aman untuk disalurkan. Untuk pangan kering, mekanismenya bahkan lebih sederhana.
Beras, telur, makanan kemasan yang masih memenuhi ketentuan, buah utuh, sayuran segar dan bahan pangan lainnya dapat dikumpulkan melalui rak berbagi atau kegiatan komunitas.
Namun, satu prinsip tetap penting: penerima bukan tempat pembuangan. Makanan harus diberikan dalam kondisi baik, dengan cara yang menghormati martabat orang yang menerimanya.
Berbagi makanan bukan tindakan membersihkan kulkas dengan memindahkan barang yang hampir rusak kepada orang lain.
Prioritas Pertama Tetap Jangan Berlebihan
Menyumbangkan makanan berlebih merupakan tindakan baik. Namun, solusi terbaik sebenarnya adalah mencegah kelebihan sejak awal.
Bappenas menemukan bahwa porsi berlebihan menjadi salah satu penyebab food waste pada tahap konsumsi. Karena itu, restoran, katering, penyelenggara hajatan dan rumah tangga tetap perlu memperbaiki perencanaan.
Jika sebuah acara mengundang 100 orang, perhitungan konsumsi sebaiknya menggunakan pengalaman kehadiran dan karakter acara. Produksi makanan yang sengaja dilebihkan jauh melampaui kebutuhan bukan ukuran keramahan. Begitu pula di rumah.
Memasak secukupnya lebih baik daripada sengaja memasak berlebihan dengan asumsi sisanya nanti bisa dibagikan.
Dalam hierarki pengelolaan pangan, pencegahan tetap menjadi pilihan pertama. Setelah itu, pangan berlebih yang masih layak dapat diselamatkan dan didistribusikan untuk konsumsi manusia. Cara berpikir tersebut mengubah hubungan kita dengan makanan.
Makanan bukan benda murah yang dapat dibuang begitu saja ketika jumlahnya terlalu banyak. Di baliknya terdapat petani, nelayan, peternak, pedagang, pekerja transportasi, juru masak, air, energi, lahan dan biaya.
Hari Pangan Sedunia memberi kesempatan untuk melihat kembali nilai tersebut. Jika makanan memang tidak dibutuhkan, jangan menunggu sampai rusak untuk memikirkan nasibnya.
Selama masih aman, layak, dan bermartabat untuk diberikan, makanan berlebih masih mempunyai tujuan lain: sampai ke meja orang yang akan memakannya.
