Jumat, 16 October 2026 05:00 UTC

Ilustrasi: Isi Piring Beragam. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM Makan beragam sering dianggap identik dengan belanja lebih mahal. Padahal, keberagaman pangan tidak selalu membutuhkan salmon, daging impor, buah mahal, atau bahan makanan yang sulit ditemukan.
Indonesia memiliki pilihan pangan lokal yang sangat luas. Ada beras, jagung, singkong, ubi, telur, ikan, tempe, tahu, kacang-kacangan, sayuran, hingga beragam buah tropis.
Data Badan Pangan Nasional menunjukkan kualitas keragaman konsumsi pangan masyarakat juga terus membaik. Skor Pola Pangan Harapan atau PPH nasional pada 2025 mencapai 95,1, naik dari 93,5 pada 2024. Jawa Timur bahkan mencatat skor 95,8.
Momentum Hari Pangan Sedunia setiap 16 Oktober menjadi pengingat bahwa persoalan makan bukan hanya tentang kenyang. Apa yang masuk ke piring juga perlu semakin beragam dan seimbang.
Jawa Timur Punya Modal Pangan yang Bagus
Skor PPH digunakan untuk melihat kualitas dan keragaman konsumsi pangan berdasarkan sembilan kelompok pangan. Di dalamnya terdapat padi-padian, umbi-umbian, pangan hewani, minyak dan lemak, buah atau biji berminyak, kacang-kacangan, gula, sayur dan buah, serta kelompok lainnya.
Semakin mendekati angka 100, pola konsumsi suatu wilayah semakin mendekati komposisi yang diharapkan.
Pada 2025, Jawa Timur memperoleh skor PPH 95,8. Angka itu berada di atas skor nasional 95,1 dan meningkat cukup jauh dibandingkan 2018, ketika Jawa Timur masih berada pada 89,5. Namun, angka provinsi menyimpan variasi menarik.
Kabupaten Sumenep, misalnya, mencatat skor PPH 98,5. Kabupaten Ngawi mencapai 98,3 dan Kabupaten Mojokerto 97,6. Kota Pasuruan berada pada 97,3, sedangkan Kabupaten Blitar mencatat 97,0.
Pada sisi lain, Kabupaten Sampang berada pada skor 81,2 dan Bangkalan 83,2. Kabupaten Malang tercatat 90,4.
Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa keragaman konsumsi pangan tidak hanya ditentukan oleh banyaknya makanan yang tersedia. Kebiasaan makan, kemampuan ekonomi, budaya, akses pangan, dan pilihan keluarga ikut menentukan apa yang akhirnya masuk ke piring.
Makan Beragam Bukan Berarti Menambah Banyak Lauk
Kesalahpahaman yang sering terjadi adalah menganggap makan beragam berarti menyediakan banyak lauk sekaligus. Padahal, prinsipnya lebih sederhana: jangan menggantungkan kebutuhan tubuh pada jenis makanan yang terlalu monoton.
Nasi tetap bisa menjadi makanan pokok. Namun, sesekali sebagian sumber karbohidrat dapat berasal dari jagung, ubi, singkong, kentang, atau bahan lokal lainnya. Protein juga tidak selalu harus berasal dari daging.
Tempe dan tahu mudah ditemukan di Jawa Timur. Telur relatif praktis untuk berbagai menu. Ikan laut maupun ikan air tawar tersedia dalam banyak pilihan. Kacang-kacangan juga dapat melengkapi sumber protein sehari-hari.
Secara nasional, Badan Pangan Nasional mencatat konsumsi protein pada 2025 mencapai 62,8 gram per kapita per hari. Angka tersebut telah melampaui rekomendasi ideal 57 gram.
Konsumsi pangan hewani tercatat 133,37 gram per kapita per hari, melewati target 129,11 gram. Sementara konsumsi energi mencapai 2.073 kilokalori per kapita per hari, mendekati angka ideal 2.100 kilokalori.
Artinya, tantangan berikutnya bukan sekadar menambah jumlah makanan. Kualitas komposisinya juga perlu diperhatikan.
Sayur dan Buah Tak Harus Menunggu Menu Istimewa
Ada perkembangan menarik lainnya. Konsumsi buah dan sayur secara nasional pada 2025 mencapai 251,34 gram per kapita per hari. Angka tersebut telah melewati target 245,33 gram. Namun, memasukkan sayur dan buah ke menu harian tidak harus dilakukan dengan cara rumit.
Sayur bening, tumis kangkung, urap, pecel, lalapan, lodeh, atau sup rumahan merupakan bentuk sederhana keberagaman pangan. Buah juga tidak harus selalu menjadi makanan pencuci mulut yang mahal.
Pisang, pepaya, semangka, jambu, nanas, melon, atau buah musiman bisa dipilih berdasarkan harga dan ketersediaannya.Cara berpikirnya dapat dibalik. Alih-alih menentukan menu terlebih dahulu lalu mencari bahan, lihat dahulu bahan lokal yang sedang melimpah dan terjangkau.
Saat pepaya murah, manfaatkan pepaya. Ketika pisang sedang mudah ditemukan, pilih pisang. Begitu pula dengan sayuran. Pola seperti ini membuat makan beragam lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari sekaligus membantu memanfaatkan pangan yang tersedia di daerah.
Jangan Lupakan Umbi Lokal
Di tengah membaiknya kualitas konsumsi pangan, masih ada pekerjaan rumah. Konsumsi umbi-umbian nasional pada 2025 tercatat 50,22 gram per kapita per hari. Angka tersebut masih berada di bawah target 53,40 gram. Padahal, umbi sangat dekat dengan tradisi pangan masyarakat Jawa Timur
Singkong dapat direbus, dikukus, dibuat getuk, tiwul, sawut, atau berbagai makanan lainnya. Ubi jalar dapat menjadi sarapan atau camilan. Kentang, talas, dan berbagai sumber karbohidrat lokal juga dapat memperkaya pilihan.
Mengonsumsi pangan lokal bukan berarti harus meninggalkan nasi. Yang diperlukan adalah memberi ruang lebih besar bagi pilihan lain. Satu keluarga bahkan bisa memulainya dari satu atau dua kali menu berbeda dalam seminggu.
Perubahan kecil seperti itu jauh lebih realistis daripada memaksakan pola makan baru yang akhirnya sulit dipertahankan.
Piring Beragam Dimulai dari Cara Belanja
Membangun kebiasaan makan beragam sebenarnya bisa dimulai sebelum makanan masuk dapur. Ketika pergi ke pasar, jangan hanya bertanya, “Hari ini masak apa?” Pertanyaan kedua yang tidak kalah penting adalah, “Kelompok pangan apa yang belum ada?”
Jika sudah membeli beras, pikirkan sumber protein. Setelah memilih telur atau ikan, cari sayuran. Tambahkan buah sesuai musim. Sesekali masukkan ubi, jagung, atau singkong sebagai variasi sumber karbohidrat. Tidak semuanya harus dimakan dalam satu waktu.
Belanja dapat disusun untuk beberapa hari dengan kombinasi berbeda. Cara tersebut membuat menu keluarga lebih bervariasi tanpa harus menambah terlalu banyak bahan.
Keberagaman pangan juga memiliki dimensi yang lebih luas daripada urusan menu. BPS mencatat prevalensi penduduk Jawa Timur yang mengalami kerawanan pangan sedang atau berat pada 2025 sebesar 2,06 persen. Secara nasional angkanya 4,00 persen.
Angka tersebut mengingatkan bahwa akses terhadap pangan yang memadai belum dirasakan secara sama oleh semua orang.
Karena itu, Hari Pangan Sedunia bukan ajakan untuk memenuhi meja dengan semakin banyak makanan. Justru sebaliknya: memilih secukupnya, membuat komposisinya lebih beragam, memanfaatkan pangan lokal, dan tidak menyia-nyiakan apa yang telah tersedia. Makan beragam tak harus mahal.
Kadang, jawabannya sudah ada di pasar terdekat: seikat sayuran, beberapa potong tempe, telur, ikan lokal, singkong, dan buah yang sedang musim.
Piring sederhana seperti itulah yang justru dapat menunjukkan betapa kayanya pangan di sekitar kita.
