Minggu, 11 October 2026 08:00 UTC

Ilustrasi: Perjalanan kopi dari kebun. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Kopi Jawa Timur memiliki cerita yang jauh lebih panjang daripada aktivitas menyeduhnya. Sebelum menjadi minuman di rumah, warung, atau kedai, kopi melewati kebun, musim panen, proses pengeringan, pengolahan, penyangraian, hingga distribusi.
Skalanya tidak kecil. Data Badan Pusat Statistik Jawa Timur yang bersumber dari Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur mencatat produksi kopi perkebunan rakyat di provinsi ini mencapai 57.365 ton pada 2024.
Angka tersebut berstatus sementara. Besarnya produksi itu memperlihatkan bahwa kopi bukan hanya bagian dari gaya hidup masyarakat Jawa Timur.
Di sejumlah daerah, kopi merupakan bagian dari lanskap pertanian dan sumber penghidupan masyarakat pedesaan.
Kopi Tumbuh di Banyak Sudut Jawa Timur
Ketika berbicara tentang kopi Jawa Timur, tidak ada satu daerah yang berdiri sendirian. Data statistik perkebunan menunjukkan produksi kopi tersebar di banyak kabupaten.
Beberapa kawasan pegunungan memiliki kondisi geografis yang mendukung tanaman kopi, mulai dari dataran tinggi Ijen dan Raung hingga kawasan pegunungan di Malang, Pasuruan dan wilayah selatan Jawa Timur.
Karakter ini membuat perjalanan kopi di Jawa Timur sangat beragam. Ada kebun yang berada di lereng pegunungan, perkebunan rakyat di sekitar permukiman, hingga tanaman kopi yang menjadi bagian dari sistem pertanian campuran.
Dalam publikasi Statistik Kopi Indonesia 2023, BPS mencatat produksi kopi nasional sekitar 758,7 ribu ton. Sebagian besar produksi tersebut berasal dari perkebunan rakyat.
Posisi perkebunan rakyat penting karena memperlihatkan bahwa rantai kopi tidak hanya bergerak melalui perusahaan besar. Banyak keluarga petani ikut menopang pasokan dari kebun-kebun dengan skala yang lebih kecil.
Bagi konsumen, proses itu sering tidak terlihat. Kita biasanya bertemu kopi ketika sudah menjadi biji sangrai, bubuk, atau minuman.
Buah Merah Belum Bisa Langsung Menjadi Kopi
Kopi yang siap diminum bermula dari buah yang matang di pohon. Buah matang umumnya ditandai warna merah sebelum dipetik. Namun, panen hanyalah awal.
Buah kopi perlu melalui tahapan pascapanen untuk memisahkan biji dari bagian buah lainnya. Metodenya dapat berbeda tergantung kondisi petani, fasilitas pengolahan, karakter biji yang ingin dihasilkan, serta kebutuhan pasar.
Setelah itu, kadar air biji harus diturunkan melalui proses pengeringan. Tahapan ini penting karena biji kopi merupakan produk pertanian yang harus disimpan dan dipindahkan sebelum mencapai penyangrai.
Kesalahan penanganan pada tahap awal dapat memengaruhi mutu produk berikutnya. Karena itu, kualitas secangkir kopi tidak hanya ditentukan oleh barista atau alat seduh.
Petani dan pengolah pascapanen sudah mengambil banyak keputusan penting jauh sebelumnya.
Ada Ekonomi Panjang di Balik Secangkir Kopi
Perjalanan berikutnya membawa kopi menuju rantai perdagangan. Biji yang telah diproses dapat berpindah melalui pengepul, koperasi, pedagang, pengolah, atau langsung menuju penyangrai.
Setelah disangrai, kopi kembali mengalami perjalanan menuju toko, kedai, hotel, restoran, pasar daring, hingga dapur rumah tangga.
Di setiap tahap terdapat aktivitas ekonomi.
Petani membutuhkan tenaga kerja ketika merawat dan memanen. Pengolahan membutuhkan peralatan. Distribusi membutuhkan transportasi. Penyangrai membutuhkan mesin dan energi. Kedai membutuhkan pekerja, tempat, gelas, air, gula, susu, serta berbagai kebutuhan lainnya.
Karena itulah nilai secangkir kopi tidak hanya berasal dari jumlah bubuk yang masuk ke dalam gelas. BPS mencatat luas areal perkebunan kopi Indonesia pada 2023 mencapai sekitar 1,27 juta hektare. Sebagian sangat besar areal tersebut merupakan perkebunan rakyat.
Skala lahan tersebut memberi gambaran tentang besarnya ruang ekonomi yang berada di belakang kebiasaan ngopi masyarakat Indonesia.
Indonesia Juga Mengirim Kopi ke Dunia
Perjalanan kopi tidak selalu berakhir di pasar domestik. Statistik perdagangan BPS menunjukkan kopi Indonesia diekspor ke berbagai negara. Amerika Serikat, Mesir, Malaysia, Jepang, Italia dan sejumlah negara lain selama bertahun-tahun menjadi bagian dari pasar kopi Indonesia dengan volume yang berubah mengikuti kondisi produksi dan perdagangan.
Pada 2023, BPS mencatat volume ekspor kopi Indonesia sekitar 276,3 ribu ton dengan nilai sekitar 915,9 juta dolar AS. Angka perdagangan tersebut menunjukkan bagaimana hasil kebun dapat berpindah sangat jauh dari lokasi asalnya.
Biji yang dipetik di wilayah pegunungan Indonesia bisa melewati proses panjang sebelum akhirnya diseduh ribuan kilometer dari kebunnya.
Di sisi lain, pasar dalam negeri juga terus membutuhkan kopi. Kementerian Pertanian mencatat konsumsi kopi bubuk atau biji masyarakat Indonesia pada 2024 mencapai rata-rata 8,978 ons per kapita setahun.
Ada pula konsumsi kopi instan sebesar 48,782 sachet ukuran 20 gram per kapita setahun. Artinya, petani berada di awal sebuah rantai yang melayani dua dunia sekaligus: konsumen domestik dan pasar internasional.
Mengenal Asal Kopi Membuat Pengalaman Berbeda
Selama ini banyak orang memilih kopi berdasarkan rasa: pahit, ringan, kuat, manis, atau aromatik. Tidak ada yang salah dengan cara tersebut. Kopi memang pada akhirnya dinikmati sebagai minuman.
Namun, mengetahui daerah asal dapat menambahkan lapisan pengalaman baru. Nama daerah pada kemasan bukan sekadar identitas pemasaran. Ia dapat menunjukkan lingkungan tempat tanaman tumbuh dan komunitas yang berada di belakang produksinya.
Konsumen juga semakin mudah menemukan informasi mengenai asal biji, varietas, metode pengolahan, tingkat sangrai, dan profil rasa pada kemasan kopi.
Informasi semacam ini membantu pembeli memahami produk yang diminumnya tanpa harus menjadi ahli kopi. Bagi daerah penghasil, identitas asal juga mempunyai nilai ekonomi. Produk yang mampu mempertahankan mutu dan karakter dapat memperoleh ruang lebih besar di pasar dibandingkan kopi yang diperdagangkan tanpa informasi asal yang jelas.
Dari Kebun, Kita Belajar Menghargai Proses
Ada jarak yang cukup jauh antara memetik buah kopi dan menuangkannya ke dalam cangkir. Jarak itu dipenuhi pekerjaan manusia.
Ada petani yang menunggu tanaman berbuah, pekerja yang memetik, orang yang menyortir, pengolah yang mengeringkan, pedagang yang mengirim, penyangrai yang menentukan profil sangrai, dan penyeduh yang menyiapkan minuman.
Melihat kopi dari perjalanan tersebut membuat kebiasaan ngopi terasa berbeda. Kita tidak harus memahami seluruh teknik pengolahan untuk menghargainya.
Memeriksa daerah asal, mencoba kopi lokal, atau bertanya tentang biji yang digunakan sudah menjadi langkah sederhana untuk mengenal produk lebih dekat.
Bagi Jawa Timur, hubungan antara kebun dan cangkir ini memiliki arti penting. Produksi kopi perkebunan rakyat yang mencapai puluhan ribu ton menunjukkan bahwa minuman yang kita nikmati sehari-hari juga berkaitan dengan kehidupan banyak keluarga.
Secangkir kopi akhirnya bukan hanya tentang apa yang terasa di lidah. Ada tanah, musim, pekerjaan, perdagangan, dan perjalanan panjang yang ikut hadir di dalamnya.
