Logo

Kopi Instan Naik, Cara Ngopi Kita Berubah

Cara menyeduh boleh berubah, tetapi kopi tetap menemukan tempat dalam rutinitas sehari-hari.
Reporter:,Editor:

Minggu, 11 October 2026 05:00 UTC

Kopi Instan Naik, Cara Ngopi Kita Berubah

Ilustrasi: Dua cara menikmati kopi. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Cara minum kopi orang Indonesia sedang menarik untuk diamati. Data konsumsi menunjukkan dua arah berbeda: konsumsi kopi bubuk atau biji menurun, sementara kopi instan justru meningkat.

Statistik Konsumsi Pangan 2024 Kementerian Pertanian yang mengolah data Susenas BPS mencatat konsumsi kopi bubuk atau biji sebesar 8,978 ons per kapita setahun. Angka itu turun 3,32 persen dibandingkan 2023 yang mencapai 9,286 ons.

Pada periode yang sama, konsumsi kopi instan justru bergerak dari 47,725 menjadi 48,782 sachet ukuran 20 gram per kapita setahun, atau meningkat 2,22 persen.

Angka itu tidak berarti masyarakat meninggalkan kopi seduh. Namun, pergerakannya memberi petunjuk bahwa kepraktisan semakin mendapatkan tempat dalam kebiasaan ngopi sehari-hari.

 

Ketika Waktu Ikut Menentukan Pilihan Kopi

Membuat kopi instan hanya membutuhkan beberapa langkah. Buka kemasan, masukkan ke gelas, tambahkan air, lalu minuman siap dinikmati.

Kebiasaan sederhana ini cocok dengan ritme pagi banyak orang. Kopi bisa dibuat sebelum berangkat bekerja, setelah mengantar anak sekolah, ketika tiba di kantor, atau di sela pekerjaan rumah.

Kopi bubuk memiliki pengalaman berbeda. Ada yang menakar sendiri bubuknya, mengatur temperatur air, menggunakan filter, atau mempertahankan cara tradisional dengan langsung menyeduhnya di dalam gelas.

Keduanya tidak harus dipertentangkan. Data konsumsi justru memperlihatkan bagaimana satu minuman dapat mengikuti kebutuhan yang berbeda.

Menariknya, konsumsi kopi bubuk atau biji tidak bergerak lurus selama beberapa tahun terakhir. Angkanya tercatat 7,978 ons per kapita pada 2017, kemudian mencapai 8,758 ons pada 2021 dan 9,286 ons pada 2023 sebelum turun menjadi 8,978 ons pada 2024.

Artinya, perubahan satu tahun belum cukup untuk menyimpulkan bahwa kopi seduh tradisional sedang ditinggalkan.

 

Kopi Instan Makin Akrab di Rumah

Perjalanan kopi instan menunjukkan pola berbeda. Konsumsinya pada 2017 tercatat 44,269 sachet per kapita setahun. Pada 2024 angkanya sudah mencapai 48,782 sachet.

Jika dirata-ratakan secara sederhana, angka 2024 tersebut setara dengan sekitar empat sachet per orang setiap bulan. Namun, ini merupakan angka konsumsi per kapita dari survei rumah tangga, bukan berarti setiap orang Indonesia pasti minum empat sachet kopi setiap bulan.

Ada rumah yang mungkin tidak membeli kopi instan sama sekali. Sebaliknya, ada rumah tangga dengan beberapa anggota yang rutin mengonsumsinya.

Di sinilah data perlu dibaca dengan hati-hati. Angka nasional menggambarkan pola konsumsi masyarakat secara agregat, bukan kebiasaan setiap individu.

Meski demikian, peningkatan tersebut cukup untuk menunjukkan satu hal: kopi instan tetap memiliki pasar yang kuat di tengah berkembangnya kedai kopi dan budaya menyeduh kopi secara manual.

 

Di Balik Gelas, Ada Industri Perkebunan Besar

Kebiasaan ngopi sehari-hari terhubung dengan sektor yang jauh lebih besar. BPS menempatkan kopi bersama komoditas perkebunan penting seperti kelapa sawit, kakao, karet, teh, cengkeh, kelapa, pala, dan lada dalam statistik perkebunan tahunan Indonesia. Hubungan itu terasa dekat di Jawa Timur.

Data BPS Jawa Timur yang bersumber dari Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur mencatat produksi kopi perkebunan rakyat pada 2024 sebesar 57.365 ton. Angka tersebut masih berstatus sementara.

Kopi yang akhirnya hadir sebagai bubuk, biji sangrai maupun produk instan melewati perjalanan panjang. Ada petani, pekerja panen, pengolah pascapanen, penyangrai, industri pengolahan, distributor, pedagang hingga penjual minuman.

Karena itu, pilihan sederhana antara kopi sachet dan kopi seduh sebenarnya berada di ujung sebuah rantai ekonomi yang panjang.

 

Dari Dapur Indonesia sampai Pasar Dunia

Kopi Indonesia juga bergerak jauh melampaui konsumsi domestik. BPS mencatat ekspor kopi Indonesia menjangkau berbagai negara tujuan.

Jepang, misalnya, menerima 15.258,6 ton kopi Indonesia pada 2024. Pada 2025 volumenya tercatat 9.159,5 ton. Singapura menerima 4.394,8 ton pada 2024 dan 4.664,9 ton pada 2025.

Data tersebut menunjukkan sisi lain dari kopi yang kita temui setiap pagi. Sebagian masuk ke dapur rumah tangga Indonesia, sebagian diolah menjadi produk siap minum, sementara bagian lainnya memasuki perdagangan internasional.

BPS sendiri kini menggabungkan data perkebunan rakyat dari Direktorat Jenderal Perkebunan dengan hasil Survei Perusahaan Perkebunan untuk menyusun gambaran produksi nasional. Data ekspor dan impor bersumber dari kompilasi dokumen Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

Jadi, secangkir kopi yang tampak sangat personal sesungguhnya berada dalam ekosistem pertanian dan perdagangan yang luas.

 

Praktis Tidak Selalu Berarti Kehilangan Ritual

Naiknya konsumsi kopi instan juga tidak otomatis membuat pengalaman ngopi menjadi seragam. Satu orang mungkin memilih kopi sachet pada pagi yang sibuk, kemudian memesan kopi dari biji lokal ketika bertemu teman pada sore hari. Di akhir pekan, orang yang sama bisa meluangkan waktu untuk menggiling dan menyeduh kopi sendiri.

Pilihan tersebut menunjukkan bahwa kepraktisan dan pengalaman dapat hidup berdampingan. Kopi instan menjawab kebutuhan kecepatan. Kopi bubuk menawarkan ruang lebih luas untuk menentukan aroma, kekuatan rasa, metode penyeduhan, dan pengalaman menikmati minuman.

Yang berubah bukan hanya jenis kopi yang dipilih, tetapi situasi ketika kopi diminum. Pada akhirnya, cara ngopi kita mungkin akan terus berubah mengikuti pekerjaan, teknologi, produk baru, dan ritme kehidupan. Angka konsumsi kopi instan yang meningkat menjadi salah satu petunjuk kecil perubahan itu.

Namun, satu hal tampaknya tetap bertahan. Dari sachet yang diseduh dalam satu menit sampai biji yang digiling perlahan, kopi masih menjadi bagian dari rutinitas yang sangat akrab di banyak rumah Indonesia.