Jumat, 16 October 2026 08:00 UTC

Ilustrasi: Kenyang Tak Harus Nasi. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Nasi begitu lekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga ungkapan “belum makan kalau belum makan nasi” masih mudah ditemukan. Sarapan dengan roti dianggap ngemil. Makan ubi dianggap belum benar-benar makan.
Padahal, sumber karbohidrat masyarakat Indonesia jauh lebih beragam. Singkong, ubi jalar, jagung, kentang, talas hingga sagu telah lama menjadi bagian dari pangan Nusantara.
Data Badan Pangan Nasional menunjukkan konsumsi beras nasional mulai bergerak turun. Konsumsi beras tercatat 93,5 kilogram per kapita per tahun pada 2022, naik tipis menjadi 93,8 kilogram pada 2023, lalu turun menjadi 92,1 kilogram pada 2024. Pada 2025, angkanya kembali turun menjadi 87,3 kilogram per kapita per tahun.
Perubahan tersebut membuka pertanyaan menarik pada Hari Pangan Sedunia 16 Oktober: mungkinkah masyarakat kembali membiasakan diri bahwa kenyang tak harus nasi?
Indonesia Sebenarnya Punya Banyak Pilihan
Beras tetap memiliki posisi sangat penting dalam ketahanan pangan Indonesia. Tidak ada alasan untuk mempertentangkannya dengan pangan lokal.
Badan Pangan Nasional bahkan menekankan bahwa diversifikasi bukan berarti mengganti beras sepenuhnya. Pangan lokal lebih tepat ditempatkan sebagai penyanding sehingga masyarakat mempunyai pilihan sumber karbohidrat yang lebih luas. Potensinya sebenarnya besar.
Data konsumsi pangan nasional 2025 menunjukkan masyarakat Indonesia mengonsumsi umbi-umbian sekitar 18,3 kilogram per kapita per tahun. Singkong menjadi yang terbesar dengan 10,9 kilogram, disusul ubi jalar 4 kilogram dan kentang 2,5 kilogram per kapita per tahun.
Sementara itu, konsumsi jagung baru sekitar 1,5 kilogram per kapita per tahun. Sagu bahkan hanya sekitar 0,3 kilogram. Angka tersebut memperlihatkan kesenjangan yang besar dibandingkan konsumsi beras.
Padahal, beberapa generasi sebelumnya jauh lebih terbiasa dengan variasi sumber karbohidrat. Jagung, singkong dan ubi bukan sekadar camilan. Di sejumlah daerah, bahan-bahan tersebut menjadi bagian penting dari makanan sehari-hari.
Umbi Masih Kurang Masuk Piring
Ada indikator lain yang menunjukkan pangan lokal masih mempunyai ruang besar untuk berkembang. Badan Pangan Nasional mencatat konsumsi umbi-umbian pada 2025 sekitar 50,22 gram per kapita per hari. Angka tersebut masih berada di bawah target 53,40 gram.
Sebaliknya, beberapa kelompok pangan lain sudah melampaui sasaran. Konsumsi buah dan sayur mencapai 251,34 gram per kapita per hari dari target 245,33 gram. Pangan hewani mencapai 133,37 gram dari target 129,11 gram. Artinya, diversifikasi pangan tidak perlu dimulai dengan perubahan drastis.
Sarapan bisa menjadi pintu masuk paling sederhana. Nasi tidak harus selalu menjadi menu pertama setelah bangun pagi. Ubi kukus dengan telur, singkong dengan kelapa parut, jagung rebus, atau kombinasi umbi dan sumber protein dapat menjadi variasi.
Badan Pangan Nasional pada Agustus 2026 bahkan mencatat kembali populernya pangan rebusan sebagai salah satu pilihan sarapan masyarakat. Tren sederhana ini dinilai dapat menjadi jalan untuk memperkenalkan kembali pangan lokal dalam konsumsi sehari-hari. Kebiasaan lama ternyata dapat menemukan tempat baru dalam gaya hidup modern.
Jawa Timur Punya Modal Besar
Bagi masyarakat Jawa Timur, diversifikasi pangan sebenarnya tidak terasa asing. Banyak daerah memiliki tradisi mengolah singkong, jagung dan umbi menjadi makanan.
Ada nasi jagung, tiwul, gatot, getuk, sawut hingga berbagai olahan sederhana yang dahulu dekat dengan kehidupan rumah tangga.
Provinsi ini juga mempunyai kekuatan produksi pangan yang besar. Sebagai gambaran, produksi padi Jawa Timur pada 2025 tersebar luas di berbagai kabupaten. Kabupaten Jember sendiri menghasilkan sekitar 679.514 ton padi, Banyuwangi 453.636 ton, Jombang 441.642 ton, dan Ponorogo 436.300 ton.
Namun, kekuatan pangan Jawa Timur tidak berhenti pada padi. Keanekaragaman hasil pertaniannya terlihat pula pada buah dan sayuran. Pada 2025, produksi mangga Jawa Timur mencapai sekitar 13,04 juta kuintal, jeruk siam atau keprok sekitar 11,35 juta kuintal, durian 4,25 juta kuintal, dan alpukat 2,86 juta kuintal.
Produksi kentang mencapai sekitar 2,53 juta kuintal. Cabai rawit mencapai lebih dari 6,03 juta kuintal, bawang merah sekitar 5 juta kuintal, dan kubis sekitar 2,10 juta kuintal.
Angka-angka tersebut memperlihatkan bahwa keragaman pangan bukan gagasan abstrak. Bahan makanannya benar-benar tumbuh di sekitar masyarakat. Tantangannya adalah membawa keragaman itu semakin sering ke meja makan.
Tak Perlu Langsung Berhenti Makan Nasi
Diversifikasi pangan mudah gagal jika diterjemahkan menjadi aturan ekstrem. Keluarga yang selama puluhan tahun terbiasa makan nasi tiga kali sehari tentu tidak harus tiba-tiba menghapus nasi dari dapur. Mulailah dari satu waktu makan.
Misalnya, satu atau dua kali seminggu sarapan menggunakan ubi, singkong atau jagung. Setelah terbiasa, variasinya dapat diperluas. Cara penyajiannya juga menentukan.
Anak muda mungkin tidak tertarik jika pangan lokal selalu disajikan dengan kesan makanan masa lalu. Padahal, singkong dapat dibuat menjadi berbagai menu modern. Ubi dapat masuk ke menu sarapan, camilan, sup, bahkan olahan bakery.
Inovasi juga terus berkembang. Kementerian Pertanian mencatat bahan nonpadi seperti jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang-kacangan dan berbagai serealia dapat diolah menjadi beras analog yang bentuk dan cara memasaknya menyerupai beras.
Jadi, persoalannya bukan kemampuan pangan lokal untuk mengikuti zaman. Yang perlu berubah justru cara masyarakat melihatnya.
Pangan Lokal Bisa Menjadi Gaya Hidup Baru
Ketahanan pangan akan lebih kuat ketika masyarakat mempunyai banyak pilihan. Data Badan Pangan Nasional menunjukkan produksi nasional 2025 untuk tiga komoditas penting berada di atas kebutuhan yang diperhitungkan.
Produksi beras tercatat sekitar 43,72 juta ton dibanding kebutuhan 31,19 juta ton. Produksi jagung sekitar 20,17 juta ton dengan kebutuhan 15,65 juta ton.
Namun, ketahanan pangan jangka panjang tidak hanya berbicara tentang berapa juta ton satu komoditas mampu diproduksi. Kebiasaan konsumen ikut menentukan.
Jika seluruh masyarakat menggantungkan sumber karbohidrat pada pilihan yang sangat sempit, tekanan terhadap satu komoditas menjadi jauh lebih besar. Sebaliknya, semakin beragam pilihan pangan yang diterima masyarakat, semakin luas pula ruang bagi potensi pertanian lokal.
Badan Pangan Nasional telah mendorong pendekatan tersebut melalui Desa B2SA atau Beragam, Bergizi Seimbang, dan Aman. Pada 2025, program tersebut menjangkau 800 titik dengan pendekatan yang antara lain mendorong pemanfaatan pangan sesuai potensi daerah.
Hari Pangan Sedunia bisa menjadi momentum untuk memulainya dari rumah. Tidak perlu bersumpah berhenti makan nasi. Tidak perlu pula mencari bahan makanan yang mahal.
Cukup sesekali mengganti sepiring nasi dengan ubi, singkong atau jagung yang tersedia di sekitar kita. Sebab kenyang tak harus nasi. Kadang, pilihan yang kita perlukan sebenarnya sudah lama tumbuh di tanah sendiri.
