Rabu, 07 October 2026 13:00 UTC

Ilustrasi: Kota nyaman untuk berjalan. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Keluar rumah untuk membeli makanan yang berjarak beberapa ratus meter. Pergi ke minimarket di ujung jalan. Turun dari bus lalu melanjutkan perjalanan menuju kantor.
Secara jarak, semuanya mungkin cukup dekat untuk ditempuh dengan berjalan kaki. Namun, keputusan yang muncul sering berbeda: ambil motor saja.
Kebiasaan tersebut menarik karena berjalan kaki merupakan bentuk mobilitas paling dasar. Hampir setiap perjalanan sebenarnya memiliki bagian yang dilakukan dengan kaki, termasuk ketika seseorang menggunakan motor, mobil, bus, atau kereta.
Namun, apakah sebuah kota membuat orang ingin berjalan merupakan persoalan berbeda. Data BPS dari Survei Komuter Gerbangkertosusila memberikan gambaran yang menarik.
Dari 423.109 komuter yang tercatat berdasarkan moda utama menuju tempat kegiatan, hanya 7.272 orang yang menggunakan moda jalan kaki atau sepeda sebagai pilihan utama. Sebaliknya, 353.025 orang menggunakan sepeda motor.
Data tersebut berasal dari Survei Komuter Gerbangkertosusila 2017, sehingga tidak dapat dibaca sebagai kondisi mutakhir 2026. Namun, ia memberikan pertanyaan yang masih relevan: mengapa untuk banyak perjalanan, berjalan kaki belum menjadi pilihan yang menarik?
Bukan Hanya Soal Malas Berjalan
Mudah mengatakan masyarakat terlalu terbiasa menggunakan kendaraan. Kenyataannya lebih kompleks. Orang mempertimbangkan kondisi yang akan dihadapi ketika keluar rumah.
Apakah ada trotoar? Apakah jalurnya teduh? Apakah harus berjalan berdampingan dengan kendaraan? Apakah aman menyeberang? Apakah permukaan jalannya nyaman? Cuaca juga berpengaruh.
BMKG menjelaskan suhu udara di Jawa Timur secara umum berada pada kisaran 11–37 derajat Celsius, dengan kelembapan sekitar 35–100 persen. Kondisi antardaerah tentu berbeda karena Jawa Timur memiliki dataran rendah, pesisir, perkotaan, hingga kawasan pegunungan.
Berjalan satu kilometer di pagi yang teduh tentu berbeda dengan berjalan pada tengah hari di kawasan terbuka. Karena itu, pohon bukan sekadar penghias jalan. Naungan bangunan, tempat duduk, drainase yang baik, dan titik penyeberangan juga memengaruhi keputusan seseorang untuk berjalan. Kenyamanan membentuk kebiasaan.
Kita Sebenarnya Tetap Berjalan
Ada paradoks dalam kehidupan perkotaan. Orang yang mengatakan tidak suka berjalan kaki bisa menghabiskan waktu cukup lama berjalan di pusat perbelanjaan, pasar, kawasan wisata, atau taman. Mengapa? Lingkungannya mendukung.
Di pusat perbelanjaan, permukaan lantai rata. Suhu nyaman. Tidak ada motor yang tiba-tiba melintas di samping tubuh. Tempat duduk tersedia. Tujuan berikutnya terlihat dekat.
Pasar tradisional memberikan pengalaman berbeda tetapi memiliki prinsip serupa. Banyak aktivitas berada dalam jarak pendek sehingga orang berpindah dari satu pedagang ke pedagang lain dengan berjalan. Artinya, persoalannya bukan semata kemampuan tubuh untuk berjalan. Lingkungan menentukan apakah jarak terasa dekat atau jauh.
Lima ratus meter di trotoar yang teduh dapat terasa ringan. Jarak 200 meter di bahu jalan yang sempit dan ramai kendaraan bisa terasa jauh lebih melelahkan.
Jalan Kaki Juga Aktivitas Fisik
Ada manfaat lain yang sering luput ketika membicarakan transportasi. Berjalan adalah aktivitas fisik. Organisasi Kesehatan Dunia merekomendasikan orang dewasa melakukan setidaknya 150–300 menit aktivitas aerobik intensitas sedang per minggu.
Aktivitas tersebut tidak harus selalu dilakukan melalui olahraga khusus. Pergerakan sehari-hari juga dapat berkontribusi terhadap kebutuhan aktivitas fisik. Ini membuat perjalanan pendek mempunyai nilai tambahan.
Berjalan menuju warung, halte, tempat makan, sekolah, atau masjid dapat menjadi bagian dari aktivitas tubuh sehari-hari.
Persoalannya, tingkat aktivitas fisik masyarakat masih menjadi perhatian.
Survei Kesehatan Indonesia 2023 yang diterbitkan Kementerian Kesehatan menunjukkan 37,4 persen penduduk Indonesia berusia 10 tahun ke atas tergolong kurang melakukan aktivitas fisik.
Angka itu menunjukkan persoalan aktivitas fisik tidak dapat diserahkan hanya kepada keputusan individual untuk berolahraga.
Lingkungan kehidupan sehari-hari juga berperan.
Jika seseorang dapat berjalan dengan nyaman menuju berbagai kebutuhan dekat rumah, aktivitas fisik masuk secara alami ke dalam rutinitas tanpa harus selalu dijadwalkan sebagai olahraga.
Trotoar Adalah Bagian dari Sistem Transportasi
Trotoar kadang dipandang hanya sebagai pelengkap jalan. Padahal fungsinya jauh lebih penting. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan menempatkan pejalan kaki sebagai pengguna jalan yang memiliki hak atas fasilitas pendukung berupa trotoar, tempat penyeberangan, dan fasilitas lain.
Artinya, berjalan kaki bukan aktivitas kelas dua dalam sistem transportasi. Bahkan perjalanan menggunakan transportasi umum sangat bergantung pada fasilitas pejalan kaki.
Penumpang harus mencapai halte. Pengguna kereta harus masuk dan keluar stasiun. Setelah turun dari kendaraan umum, mereka masih harus mencapai tujuan terakhir.
Jika perjalanan beberapa ratus meter tersebut tidak nyaman, keseluruhan pengalaman menggunakan transportasi publik ikut terasa tidak nyaman. Trotoar yang baik akhirnya membantu bus dan kereta bekerja lebih efektif.
Kota yang Ramah Berjalan Terasa Berbeda
Bayangkan sebuah jalan lingkungan dengan trotoar yang rata. Ada pohon yang memberi teduh. Warung, toko, sekolah, dan tempat ibadah dapat dicapai tanpa kendaraan.
Penyeberangan terlihat jelas. Kendaraan melaju dengan kecepatan yang wajar. Dalam lingkungan seperti itu, keputusan berjalan kaki muncul hampir tanpa dipikirkan. Efeknya bukan hanya pada transportasi.
Orang lebih mudah berhenti membeli makanan dari warung kecil. Tetangga lebih sering bertemu. Anak-anak dan orang tua memiliki kesempatan bergerak dengan lebih mandiri.
Ruang publik menjadi lebih hidup karena manusia hadir di dalamnya, bukan hanya kendaraan yang melintas. Berjalan kaki juga membuat seseorang melihat lingkungan secara berbeda.
Dari balik kaca kendaraan, sebuah jalan hanya membutuhkan beberapa menit untuk dilewati. Dengan berjalan, kita memperhatikan pohon, toko baru, aroma makanan, bangunan lama, orang yang sedang bekerja, dan perubahan kecil di sekitar rumah. Kota menjadi pengalaman, bukan sekadar lintasan.
Mulai dari Perjalanan yang Sangat Dekat
Tidak semua perjalanan bisa diganti dengan berjalan kaki. Jarak rumah dan kantor mungkin belasan kilometer. Barang bawaan bisa berat. Cuaca tidak selalu mendukung. Kondisi fisik setiap orang juga berbeda. Karena itu, membangun kebiasaan berjalan tidak harus dimulai dengan target yang berlebihan.
Perjalanan pendek adalah titik paling masuk akal. Jika warung hanya beberapa ratus meter, cobalah berjalan. Ketika menggunakan kereta, perjalanan dari stasiun menuju lokasi dekat bisa ditempuh dengan kaki apabila jalurnya aman. Kendaraan juga dapat diparkir sedikit lebih jauh ketika situasinya memungkinkan.
Pada saat yang sama, pemerintah dan pengelola kawasan mempunyai pekerjaan yang lebih besar: memastikan pilihan tersebut memang layak dilakukan. Masyarakat tidak cukup hanya diminta berjalan. Kota perlu memberi alasan agar orang mau berjalan.
Trotoar yang tersambung, penyeberangan aman, pepohonan, penerangan, ruang publik, dan tujuan sehari-hari yang mudah dicapai akan membuat perubahan perilaku jauh lebih mungkin terjadi. Sebab pertanyaan sebenarnya bukan apakah masyarakat Jawa Timur mampu berjalan kaki. Kita melakukannya setiap hari.
Pertanyaannya adalah apakah lingkungan tempat kita tinggal sudah membuat berjalan kaki menjadi pilihan yang nyaman, aman, dan masuk akal.
