Jumat, 16 October 2026 01:00 UTC

Sejumlah warga di Desa Torjunan, Kecamatan Robatal, Sampang memanfaatkan bantuan air bersih dari Yayasan Ruang Sejahtera Indonesia. Foto: Asbul for Jatimnet
JATIMNET.COM, Sampang - Bencana kekeringan yang melanda Kabupaten Sampang, semakin meluas. Hingga pertengahan Oktober 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sampang mencatat sebanyak 81 desa terdampak kekeringan.
Jumlah lokasi yang terdampak kekeringan tersebut meningkat dibandingkan sebelumnya yang hanya mencapai 78 desa.
Puluhan desa tersebut tersebar di tujuh kecamatan, yakni Kedungdung, Robatal, Karang Penang, Tambelangan, Sreseh, Banyuates, dan Pangarengan.
Kondisi tersebut mendorong BPBD Sampang untuk memperkuat penanganan darurat, terutama melalui distribusi air bersih secara berkala ke wilayah yang mengalami krisis air.
Kasi Pencegahan dan Kedaruratan BPBD Sampang, Ahmed Basori mengatakan kekeringan telah berdampak signifikan terhadap ketersediaan air bersih masyarakat.
Tidak adanya hujan selama lima hingga enam bulan menyebabkan sumber air yang selama ini diandalkan warga mulai mengering.
"Kondisi di desa-desa sangat memprihatinkan. Setelah tidak turun hujan selama 5 hingga 6 bulan, dampaknya sangat terasa. Sumur-sumur warga dan embung desa yang biasanya menjadi sumber air bersih kini mayoritas sudah mengering dan berada dalam kondisi sangat kritis," katanya, Jumat 16 Oktober 2026.
Menurutnya, BPBD Sampang terus berupaya mengantisipasi meluasnya dampak kekeringan melalui penguatan koordinasi lintas sektor.
Langkah tersebut dilakukan bersama pemerintah daerah, instansi terkait, serta pihak swasta guna memastikan kebutuhan air bersih masyarakat di wilayah terdampak tetap terpenuhi.
Selain mengoptimalkan distribusi air bersih, BPBD Sampang juga menyiapkan surat keputusan (SK) perpanjangan status siaga darurat kekeringan. Upaya penanganan juga dilakukan melalui kerja sama dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur.
"Kami juga menyiapkan SK Perpanjangan Kondisi Siaga Darurat Kekeringan, bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam penanganan bencana, serta mengajukan tambahan anggaran untuk distribusi air bersih di wilayah terdampak," ujarnya.
Di tengah meluasnya dampak kekeringan, bantuan air bersih juga datang dari Yayasan Ruang Sejahtera Indonesia. Lembaga sosial tersebut telah menyalurkan sebanyak 1,2 juta liter air bersih kepada masyarakat terdampak kekeringan di Sampang.
Ketua Yayasan Ruang Sejahtera Indonesia, Nasiri, mengatakan bantuan air bersih merupakan bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang kesulitan mendapatkan air bersih sekaligus upaya membantu memenuhi kebutuhan dasar warga.
"Sampai dengan bulan Oktober kami telah menyalurkan bantuan 1,2 juta liter air ke masyarakat," katanya.
Menurut Nasiri, penyaluran bantuan diprioritaskan ke desa-desa yang mengalami kekeringan kritis dan memiliki keterbatasan sumber air.
Penyaluran bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan beban masyarakat yang terdampak kekeringan, terutama warga yang sumber air bersihnya telah mengering akibat tidak adanya hujan selama berbulan-bulan.
"Pendistribusian air bersih difokuskan ke wilayah atau desa yang mengalami kering kritis dan minimnya ketersediaan sumber air. Setiap desa dibantu 10 ribu liter air," ujar Nasiri.
