Rabu, 21 October 2026 13:00 UTC

Jajaran pengurus dan staf eksekutif Lembaga Pers Dr. Soetomo (LPDS) berfoto bersama dalam acara Serah Terima Jabatan Direktur Eksekutif LPDS, di Jakarta, Rabu, 21 Oktober 2026. Foto: LPDS for Jatimnet.
JATIMNET.COM, Jakarta – Anthonius Jimmy Silalahi resmi memimpin Lembaga Pers Dr. Soetomo (LPDS) sebagai direktur eksekutif baru. Ia berkomitmen memperkuat pendidikan jurnalistik untuk menjaga profesionalisme wartawan di tengah perubahan industri media akibat perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Jimmy menyampaikan komitmen tersebut dalam acara serah terima jabatan dari direktur eksekutif sebelumnya, Kristanto Hartadi, di Jakarta, Rabu, 21 Oktober 2026.
Dalam pidato perdananya, Jimmy menyoroti tantangan pers nasional yang tidak hanya berkaitan dengan perubahan teknologi, tetapi juga menyangkut kualitas pemberitaan, independensi, dan kepercayaan publik.
"Kita harus jujur mengakui, pers kita sekarang tidak sedang baik-baik saja. Di satu sisi kita dihadapkan pada disrupsi teknologi dan kecerdasan buatan yang mengubah total lanskap produksi dan distribusi berita," ujar Jimmy dalam siaran pers LPDS.
"Di sisi lain, kita masih bergulat dengan persoalan fundamental soal kualitas, independensi, dan kepercayaan publik," lanjutnya.
Menurut Jimmy, perubahan lanskap media menuntut wartawan untuk terus meningkatkan kompetensi tanpa meninggalkan prinsip dasar jurnalistik. Masyarakat membutuhkan informasi yang cepat sekaligus akurat, berimbang, dan mampu memberikan edukasi.
Ia menegaskan, LPDS akan tetap menjalankan mandatnya sebagai lembaga pendidikan pers. Selama hampir empat dekade, LPDS telah melatih ribuan wartawan dari berbagai daerah di Indonesia untuk meningkatkan profesionalisme dan menjaga etika jurnalistik.
"LPDS lahir dari amanat Dewan Pers pada 1987 untuk mendidik pers. Komitmen itu tidak berubah: melatih wartawan agar menghasilkan berita berkualitas yang mengedukasi publik. Tantangannya hari ini adalah beradaptasi, termasuk menghadapi kecerdasan buatan," kata Jimmy.
LPDS Perlu Beradaptasi dengan Perubahan Industri Media
Jimmy menilai perkembangan AI perlu direspons melalui pembaruan program pendidikan jurnalistik. Menurutnya, wartawan harus mampu memanfaatkan teknologi untuk mendukung pekerjaan sekaligus memahami batas penggunaannya.
Ia menekankan bahwa teknologi tidak boleh menggantikan pertimbangan etis dan tanggung jawab wartawan dalam menghasilkan berita. Karena itu, LPDS akan terus menanamkan pentingnya sikap kritis, verifikasi, dan kepatuhan terhadap etika jurnalistik dalam setiap pelatihan.
Jimmy juga menyampaikan apresiasi kepada Yayasan Pendidikan Multimedia Adinegoro (YPMA), yayasan yang menaungi LPDS, atas kepercayaan untuk memimpin lembaga tersebut.
Sementara itu, Kristanto Hartadi menyatakan tetap akan mendukung keberlangsungan dan pengembangan LPDS meskipun tidak lagi menjabat sebagai direktur eksekutif.
"Saya tidak akan ke mana-mana. Saya akan terus berada di sini dan mendukung penuh keberadaan serta perjuangan LPDS ke depan. LPDS ini rumah kita bersama, dan saya akan terus mengabdi untuk memastikan lembaga ini tetap relevan dan maju," ujar Kristanto.
Kristanto berharap kepemimpinan baru dapat membawa LPDS semakin adaptif menghadapi perkembangan zaman tanpa meninggalkan prinsip dasar jurnalistik.
Tantangan kepemimpinan baru LPDS juga berkaitan dengan bagaimana wartawan mempertahankan kualitas dan etika saat menggunakan AI dalam proses produksi berita. Di sisi lain, penguatan pendidikan jurnalistik membutuhkan dukungan Dewan Pers, pemerintah, sektor swasta, dan industri media agar program pelatihan dapat menjangkau lebih banyak wartawan di seluruh Indonesia.
