Logo

Jangan Terlalu Sering Mencuci Pakaian

Pakaian bersih itu penting, tetapi mencuci lebih sering belum tentu selalu lebih baik.
Reporter:,Editor:

Selasa, 20 October 2026 08:00 UTC

Jangan Terlalu Sering Mencuci Pakaian

Ilustrasi: Cuci Secukupnya. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Mencuci pakaian merupakan pekerjaan rumah yang begitu rutin sehingga jarang dipikirkan kembali. Pakaian dipakai, masuk keranjang, dicuci, dikeringkan, kemudian kembali ke lemari. Siklus itu terus berulang.

Namun tidak semua pakaian harus otomatis masuk mesin cuci setelah sekali dikenakan. Kebutuhan mencuci bergantung pada jenis pakaian, aktivitas, keringat, kotoran, cuaca, serta kondisi kesehatan pemakainya.

Di balik kebiasaan sederhana ini juga terdapat penggunaan air rumah tangga dalam jumlah besar. Badan Pusat Statistik mencatat pada 2024 sebanyak 92,64 persen rumah tangga Indonesia telah memiliki akses terhadap layanan sumber air minum layak.

Angka itu menunjukkan akses yang semakin luas, tetapi bukan berarti air boleh digunakan tanpa pertimbangan. Air bersih tetap merupakan sumber daya yang harus dikelola, termasuk ketika kita mencuci pakaian.

 

Tidak Semua Pakaian Memiliki Siklus Cuci yang Sama

Kaus yang basah oleh keringat setelah beraktivitas tentu berbeda dengan jaket luar yang hanya dipakai sebentar. Pakaian dalam dan pakaian yang terkena banyak keringat umumnya perlu dicuci setelah digunakan.

Sebaliknya, beberapa jenis pakaian luar dapat dipakai kembali selama masih bersih, tidak berbau, dan tidak terkontaminasi kotoran. Jeans menjadi contoh yang mudah ditemukan.

Celana ini sering langsung masuk keranjang cucian setelah digunakan sehari, meskipun kondisinya masih bersih. Padahal frekuensi pencucian dapat disesuaikan dengan intensitas penggunaan dan kondisi pakaian.

Prinsip serupa berlaku untuk jaket, sweater, outer, atau pakaian yang tidak bersentuhan langsung dengan area tubuh yang banyak berkeringat. Artinya, jadwal mencuci sebaiknya tidak semata-mata ditentukan oleh berapa kali pakaian sudah dikenakan.

Gunakan kondisi nyata sebagai indikator. Periksa bau, noda, keringat, debu, dan aktivitas yang dilakukan ketika pakaian tersebut digunakan.

 

Mesin Cuci Membuat Pekerjaan Ringan, tetapi Tetap Memakai Air

Teknologi membuat kegiatan mencuci jauh lebih mudah dibandingkan beberapa dekade lalu. Data Statistik Kesejahteraan Rakyat 2025 dari BPS menunjukkan 45,31 persen rumah tangga Indonesia memiliki mesin cuci. Kepemilikannya jauh lebih tinggi di perkotaan, yakni 56,12 persen rumah tangga, dibandingkan perdesaan sebesar 31,56 persen.

Dengan kata lain, mesin cuci telah menjadi peralatan rumah tangga yang cukup umum, terutama di kota. Kemudahan itu membawa perubahan perilaku. Ketika mencuci hanya membutuhkan memasukkan pakaian, menambahkan deterjen, memilih program, lalu menekan tombol, hambatan untuk mencuci sedikit pakaian menjadi semakin kecil.

Padahal menjalankan mesin untuk beberapa potong pakaian dapat menjadi kurang efisien dibandingkan menunggu muatan yang sesuai kapasitas mesin.

Setiap mesin memang berbeda. Karena itu, petunjuk produsen tetap menjadi acuan terbaik untuk mengetahui kapasitas dan program pencucian yang paling efisien.

Memasukkan pakaian terlalu banyak juga bukan jawabannya. Mesin yang terlalu penuh dapat membuat pakaian tidak bergerak dengan baik dan hasil pencucian kurang optimal. Tujuannya bukan mencuci sesedikit mungkin, melainkan mencuci secara masuk akal.

 

Deterjen Lebih Banyak Bukan Berarti Lebih Bersih

Kebiasaan lain yang mudah terjadi adalah menuangkan deterjen berdasarkan perkiraan. Ketika pakaian dianggap sangat kotor, jumlah deterjen ditambah. Busa yang banyak kemudian dianggap sebagai tanda bahwa proses pencucian sedang bekerja lebih efektif. Logika tersebut tidak selalu tepat.

Jumlah deterjen sebaiknya mengikuti petunjuk penggunaan, banyaknya pakaian, tingkat kekotoran, karakter air, serta jenis mesin yang digunakan.

Deterjen berlebihan dapat meninggalkan residu pada pakaian apabila pembilasan tidak memadai. Selain itu, penggunaan bahan pencuci yang lebih banyak dari kebutuhan berarti lebih banyak bahan yang akhirnya ikut terbawa bersama air limbah rumah tangga. Persoalan air limbah bukan isu kecil.

BPS mencatat baru 10,25 persen rumah tangga Indonesia pada 2024 yang memiliki akses terhadap layanan sanitasi aman. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan persentase rumah tangga yang telah mengakses sanitasi layak, yang mencapai 83,60 persen.

Perbedaan itu penting. Sanitasi layak belum otomatis berarti seluruh rantai pengelolaan limbah domestik telah memenuhi kategori aman. Karena itu, apa yang kita masukkan ke saluran pembuangan rumah juga layak dipikirkan.

 

Menjemur Masih Sangat Masuk Akal di Indonesia

Indonesia mempunyai keuntungan yang sering dianggap biasa: sinar matahari tersedia hampir sepanjang tahun. Untuk banyak rumah tangga, menjemur pakaian masih menjadi cara paling sederhana untuk mengeringkan cucian tanpa membutuhkan energi tambahan dari mesin pengering.

Tentu kondisi tidak selalu ideal. Musim hujan, hunian vertikal, keterbatasan halaman, polusi, atau ruang jemur yang minim dapat membuat pengeringan alami lebih sulit. Namun ketika kondisi memungkinkan, pakaian dapat dikeringkan di tempat dengan aliran udara baik.

Tidak semua pakaian juga harus berada tepat di bawah terik matahari dalam waktu lama. Beberapa bahan dan warna lebih baik dikeringkan sesuai petunjuk perawatan agar warna dan bentuknya bertahan.

Label kecil di bagian dalam pakaian sebenarnya memiliki fungsi penting. Simbol pencucian memberi petunjuk mengenai suhu, cara mencuci, pengeringan, penyetrikaan, hingga penggunaan pemutih. Sayangnya, label itu sering baru diperhatikan setelah pakaian menyusut atau berubah bentuk.

 

Pakaian yang Awet Mengurangi Kebutuhan Membeli Lagi

Merawat pakaian bukan hanya urusan kebersihan. Semakin lama pakaian dapat digunakan dalam kondisi baik, semakin panjang pula masa manfaat barang yang sudah kita beli.

Ini relevan ketika melihat besarnya aktivitas ekonomi industri pakaian di Indonesia. Statistik Industri Mikro dan Kecil 2025 dari BPS mencatat nilai pendapatan industri mikro pakaian jadi sekitar Rp53,18 triliun. Pada industri kecil pakaian jadi, nilainya sekitar Rp70,05 triliun.

Angka tersebut menunjukkan betapa dekatnya pakaian dengan aktivitas ekonomi masyarakat. Namun dari sudut pandang rumah tangga, pakaian yang telah dibeli sebaiknya memperoleh masa penggunaan sepanjang mungkin. Cara mencuci berperan dalam proses tersebut.

Periksa noda sebelum mencuci. Gunakan deterjen secukupnya. Pisahkan pakaian bila memang diperlukan. Pilih program mesin yang sesuai. Keringkan mengikuti karakter bahan.

Dan yang paling sederhana, jangan otomatis mencuci hanya karena pakaian pernah dipakai sekali. Tentu ada pengecualian. Pakaian dalam, pakaian olahraga yang berkeringat, pakaian terkena cairan tubuh atau kotoran, serta kondisi tertentu yang membutuhkan higiene lebih ketat tetap perlu ditangani secara tepat.

Namun untuk pakaian sehari-hari lainnya, kita dapat berhenti beberapa detik sebelum melemparkannya ke keranjang. Lihat kondisinya. Kadang pakaian memang harus dicuci. Kadang cukup diangin-anginkan dan digunakan kembali.

Kebiasaan kecil tersebut dapat membantu mengurangi penggunaan air, deterjen, energi, sekaligus memperpanjang umur pakaian. Mencuci pakaian akhirnya bukan tentang seberapa sering mesin berputar, tetapi seberapa tepat kita merawat barang yang kita gunakan setiap hari.