Minggu, 18 October 2026 08:00 UTC

Ilustrasi: Jajanan lintas generasi. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Jajanan pasar masih mudah ditemukan di banyak kota dan kabupaten di Jawa Timur. Klepon, cenil, lupis, getuk, nagasari, kue lapis hingga lemper tetap mengisi nampan pedagang, meskipun konsumen sekarang mempunyai pilihan makanan yang jauh lebih beragam.
Persaingannya memang tidak kecil. Industri makanan dan minuman Indonesia terus berkembang bersama perubahan gaya konsumsi masyarakat.
Badan Pusat Statistik mencatat rata-rata pengeluaran per kapita masyarakat Indonesia pada Maret 2025 mencapai sekitar Rp1,57 juta per bulan. Sekitar Rp769 ribu atau 49,28 persen digunakan untuk kelompok makanan.
Di dalam pengeluaran makanan tersebut, kelompok makanan dan minuman jadi merupakan salah satu komponen terbesar. Rata-rata pengeluarannya mencapai sekitar Rp285 ribu per kapita per bulan.
Angka tersebut memperlihatkan besarnya ruang ekonomi untuk makanan siap konsumsi. Jajanan pasar ikut hidup di dalam ruang itu, tetapi membawa modal yang berbeda: harga terjangkau, rasa yang sudah dikenal, dan kedekatan dengan budaya lokal.
Dari Pasar Pagi hingga Kotak Rapat
Nama “jajanan pasar” membuat makanan ini seolah hanya hidup di pasar tradisional. Kenyataannya, jalur konsumsinya jauh lebih luas. Kue tradisional masuk ke kotak kudapan rapat, pengajian, hajatan, kegiatan sekolah, pertemuan kantor, hingga acara keluarga. Sebagian bahkan berpindah ke kafe, hotel, toko oleh-oleh, dan layanan pesan antar.
Perubahan tempat jual tidak otomatis mengubah identitas makanannya. Klepon tetap dikenali dari bola ketan berisi gula merah dan balutan kelapa. Nagasari tetap dekat dengan aroma pisang dan daun pembungkusnya. Kemampuan berpindah ruang inilah yang membuat jajanan tradisional menarik.
Ia dapat dijual beberapa ribu rupiah di pasar pagi, tetapi makanan yang sama dapat hadir dalam kemasan lebih rapi untuk rapat perusahaan atau acara hotel.
Pasarnya menjadi semakin luas tanpa harus menciptakan produk yang sepenuhnya baru. UMKM Menjadi Mesin Besar di Balik Makanan Tradisional. Bertahannya jajanan pasar juga berkaitan dengan besarnya ekosistem usaha mikro dan kecil di Indonesia.
Kementerian UMKM mencatat terdapat sekitar 30,18 juta usaha mikro, kecil, dan menengah berdasarkan data Sensus Ekonomi 2016 dan SUTAS 2018 yang digunakan dalam basis data statistik UMKM. Sementara itu, data pemerintah yang lebih luas selama beberapa tahun terakhir kerap menunjukkan kontribusi UMKM terhadap produk domestik bruto nasional berada di kisaran lebih dari 60 persen.
Sektor makanan dan minuman menjadi salah satu ruang usaha yang sangat dekat dengan skala mikro dan rumah tangga. Model produksinya relatif fleksibel.
Sebagian pembuat jajanan memproduksi dari dapur rumah, kemudian menitipkannya kepada pedagang pasar. Ada pula yang menerima pesanan langsung untuk acara tertentu. Skala kecil justru memungkinkan resep keluarga bertahan.
Pengetahuan mengenai tekstur adonan, lama mengukus, takaran santan, hingga pilihan gula sering diwariskan melalui praktik sehari-hari, bukan melalui buku resep formal. Di balik sepotong kue yang terlihat sederhana, ada keterampilan produksi yang terus dipelihara.
Makanan Kekinian Tidak Selalu Menjadi Lawan
Kemunculan croffle, donat premium, dessert box, pastry, minuman boba, hingga berbagai makanan viral sering dianggap sebagai ancaman bagi jajanan tradisional. Namun perilaku konsumen tidak selalu bekerja dengan cara mengganti makanan lama menggunakan makanan baru.
Seseorang dapat membeli pastry pada pagi hari, memesan minuman kekinian siang hari, kemudian tetap memilih lemper atau kue lapis untuk rapat sore.
Pilihan makanan modern justru memperbesar standar konsumen terhadap kemasan, kebersihan, konsistensi rasa, dan kemudahan membeli. Di sinilah jajanan pasar perlu beradaptasi.
Produk tidak harus kehilangan bentuk aslinya. Perubahan dapat dimulai dari wadah yang lebih higienis, informasi komposisi, ukuran yang konsisten, pemesanan melalui WhatsApp, pembayaran digital, hingga foto produk yang lebih menarik. Digitalisasi juga membuat pasar makanan lokal semakin terbuka.
BPS dalam Survei E-Commerce 2024 mencatat jumlah usaha e-commerce meningkat 15,30 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sebanyak 96,91 persen usaha yang tercakup dalam profil usaha e-commerce merupakan UMKM. Artinya, produsen makanan rumahan mempunyai saluran penjualan yang dahulu tidak tersedia.
Tantangannya Ada pada Generasi Berikutnya
Masalah terbesar jajanan pasar mungkin bukan apakah konsumen masih menyukainya. Pertanyaannya adalah siapa yang akan terus membuatnya.
Sebagian jajanan membutuhkan proses yang tidak sederhana. Adonan harus mempunyai tekstur tertentu. Daun pisang perlu disiapkan. Kelapa harus segar. Pengukusan membutuhkan waktu. Beberapa produk bahkan hanya bertahan dalam waktu relatif pendek.
Sementara itu, konsumen modern menginginkan makanan yang praktis dan mudah diperoleh. Tantangan ini membuka peluang bagi generasi muda.
Resep tradisional dapat dipertahankan sambil memperbaiki manajemen produksi, kemasan, pencatatan biaya, pemasaran digital, dan distribusi.
Nama produk pun tidak perlu disamarkan agar terdengar modern. Justru identitas lokal dapat menjadi pembeda ketika pasar dipenuhi produk dengan tampilan serupa. Klepon tidak perlu berhenti menjadi klepon untuk terlihat menarik.
Harga Murah Jangan Membuat Nilainya Dianggap Rendah
Ada kebiasaan menarik ketika membandingkan makanan tradisional dengan makanan modern. Konsumen terkadang bersedia membayar puluhan ribu rupiah untuk sepotong pastry, tetapi menganggap kue tradisional harus selalu murah.
Padahal keduanya membutuhkan bahan, tenaga, keterampilan, energi, kemasan, dan distribusi. Jajanan pasar memang tumbuh dari budaya makanan masyarakat sehari-hari. Keterjangkauan menjadi salah satu kekuatannya. Namun harga yang terlalu ditekan juga dapat membuat produsen kesulitan mempertahankan kualitas. Di sinilah perubahan cara pandang dibutuhkan.
Nilai sebuah makanan tidak hanya berasal dari tampilan mewah atau nama asing. Resep yang diwariskan, bahan lokal, teknik pengolahan, dan hubungan makanan dengan tradisi masyarakat juga mempunyai nilai ekonomi.
Bagi Jawa Timur, kekayaan tersebut sangat besar. Ada getuk pisang Kediri, jubung Madura, madu mongso, wingko, jenang, berbagai olahan ketan, hingga puluhan kue yang hidup dalam tradisi pasar di kabupaten dan kota.
Sebagian sangat lokal sehingga sulit ditemukan ketika berpindah daerah. Itulah yang membuat jajanan pasar lebih dari sekadar camilan. Setiap kali seseorang membeli beberapa potong kue dari pedagang pasar, ada rantai ekonomi kecil yang ikut bergerak: pembuat kue, penjual kelapa, pedagang gula, pemasok pisang, pembuat kemasan, hingga pedagang yang menjajakannya.
Makanan kekinian akan terus datang dan berganti. Sebagian menjadi tren besar, sebagian hilang setelah beberapa tahun. Jajanan pasar mempunyai cara bertahan yang berbeda. Ia tidak selalu viral, tetapi terus hadir di meja rapat, acara keluarga, pasar pagi, kotak kudapan, dan ingatan banyak orang.
Mungkin justru karena itulah jajanan pasar tidak pernah benar-benar membutuhkan status “kekinian”. Ia sudah menemukan tempatnya sejak lama.
