Logo

Internet Kini Jadi Kebutuhan Harian Orang Indonesia

Ponsel semakin kecil di genggaman, tetapi semakin besar perannya dalam mengatur kehidupan sehari-hari.
Reporter:,Editor:

Rabu, 21 October 2026 05:00 UTC

Internet Kini Jadi Kebutuhan Harian Orang Indonesia

Ilustrasi: Hidup dalam Genggaman. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Dua puluh tahun lalu, seseorang bisa meninggalkan rumah tanpa telepon seluler dan tetap menjalani hari dengan normal. Kini, lupa membawa ponsel dapat mengubah hampir seluruh aktivitas.

Komunikasi, pembayaran, navigasi, pekerjaan, belajar, belanja, transportasi, hiburan, hingga membaca berita bertemu pada satu perangkat. Internet kini menjadi kebutuhan harian yang semakin melekat pada kehidupan masyarakat Indonesia.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan 72,78 persen penduduk Indonesia telah mengakses internet pada 2024. Angka itu meningkat dibandingkan 69,21 persen pada 2023.

Perubahannya terlihat semakin jelas jika ditarik beberapa tahun ke belakang. Pada 2018, proporsi penduduk yang mengakses internet masih 39,90 persen.

Artinya, dalam enam tahun, penetrasi penggunaan internet bertambah lebih dari 32 poin persentase. Transformasi digital bukan lagi cerita tentang masa depan. Ia sudah berlangsung di rumah, sekolah, tempat kerja, jalan raya, hingga warung di sekitar kita.

 

Ponsel Menjadi Pintu Utama Dunia Digital

Pertumbuhan internet berjalan beriringan dengan meluasnya kepemilikan telepon seluler. BPS mencatat 68,65 persen penduduk Indonesia memiliki telepon seluler pada 2024. Perangkat yang dahulu terutama digunakan untuk menelepon dan mengirim pesan kini berubah menjadi alat multifungsi.

Pagi hari seseorang dapat membuka aplikasi cuaca, memeriksa pesan pekerjaan, memesan kendaraan, membaca berita, lalu membayar sarapan dengan kode QR. Semua dilakukan sebelum benar-benar memulai pekerjaan.

Perubahan ini menjelaskan mengapa gangguan koneksi internet sering terasa seperti gangguan terhadap aktivitas sehari-hari.

Bagi pedagang, internet dapat berarti transaksi. Bagi mahasiswa, internet menjadi pintu menuju bahan pembelajaran. Bagi pekerja, koneksi digital memungkinkan komunikasi dan pertukaran dokumen.

Bagi keluarga, ponsel menjadi salah satu cara menjaga hubungan ketika tinggal berjauhan. Teknologi akhirnya tidak lagi berdiri sebagai perangkat tambahan. Ia masuk ke dalam rutinitas.


Pembayaran Digital Mengubah Kebiasaan Kecil

Salah satu perubahan yang paling mudah diamati adalah cara masyarakat membayar. Bank Indonesia mencatat volume transaksi pembayaran digital pada 2025 mencapai 49,76 miliar transaksi. Jumlah itu tumbuh 39,21 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

QRIS menjadi bagian penting dari perubahan tersebut. Hingga Desember 2025, Bank Indonesia mencatat jumlah pengguna QRIS telah mencapai 59,53 juta dengan 42,75 juta merchant.

Menariknya, sebagian besar merchant QRIS merupakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah. Perubahan itu terlihat dalam aktivitas sederhana. Membeli kopi, membayar makanan, berbelanja di toko kecil, hingga membayar jasa tertentu kini dapat dilakukan dengan memindai kode melalui ponsel.

Dompet fisik belum menghilang. Uang tunai juga tetap mempunyai fungsi penting. Namun, pilihan cara membayar semakin banyak.

Kenyamanan tersebut kemudian menciptakan kebiasaan baru: ponsel harus selalu memiliki baterai, koneksi internet perlu tersedia, dan aplikasi keuangan harus dapat diakses ketika dibutuhkan.

 

Internet Bukan Lagi Milik Kota Besar

Transformasi digital sering diasosiasikan dengan masyarakat perkotaan. Gambaran itu semakin tidak lengkap. Penggunaan internet telah menyebar jauh melampaui pusat kota. Telepon seluler memungkinkan masyarakat mengakses layanan digital tanpa harus memiliki komputer pribadi.

Data BPS menunjukkan hanya 18,52 persen rumah tangga Indonesia yang memiliki atau menguasai komputer pada 2024. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan proporsi masyarakat yang telah mengakses internet.

Perbedaan itu memberi gambaran penting: digitalisasi Indonesia sangat bertumpu pada perangkat bergerak. Ponsel menjadi jalan pintas menuju dunia digital bagi masyarakat yang tidak memiliki laptop atau komputer desktop.

Fenomena ini juga memengaruhi desain berbagai layanan. Situs, toko daring, media, layanan pemerintah, dan platform pendidikan semakin perlu mempertimbangkan pengalaman pengguna melalui layar kecil.

Sebuah layanan digital mungkin terlihat sempurna melalui laptop. Namun, jika sulit digunakan melalui ponsel, sebagian besar masyarakat dapat kehilangan kenyamanan mengaksesnya.
 

 

Semakin Terhubung, Risiko Juga Membesar

Kemudahan digital membawa konsekuensi lain. Semakin banyak aktivitas dilakukan melalui internet, semakin banyak pula data pribadi yang berpindah melalui perangkat.

Nama, nomor telepon, lokasi, riwayat transaksi, foto, dokumen, kata sandi, hingga informasi rekening dapat tersimpan atau diakses melalui ponsel. Karena itu, kemampuan menggunakan teknologi tidak cukup hanya sebatas mampu mengunduh aplikasi.

Literasi digital juga berarti mengetahui kapan sebuah tautan tidak boleh dibuka, mengapa kode OTP tidak boleh diberikan kepada orang lain, bagaimana membuat kata sandi yang kuat, dan mengapa aplikasi perlu diperiksa sebelum diberi akses terhadap kontak, kamera, mikrofon, atau lokasi.

Ancaman penipuan digital juga terus berkembang mengikuti kebiasaan masyarakat. Modus dapat muncul melalui pesan singkat, telepon, media sosial, aplikasi percakapan, tautan palsu, hingga file yang sengaja dibuat menyerupai dokumen biasa.

Kemampuan berhenti beberapa detik sebelum mengeklik sesuatu akhirnya menjadi keterampilan penting dalam kehidupan digital.


 

Anak Muda Perlu Lebih dari Sekadar Mahir Memakai Gadget

Generasi muda sering disebut digital native karena tumbuh bersama internet. Namun, terbiasa menggunakan teknologi tidak otomatis berarti memahami teknologi.

Seseorang dapat sangat mahir menggunakan media sosial, tetapi belum tentu memahami jejak digital. Bisa pula terampil membuat konten, tetapi belum terbiasa memeriksa sumber informasi. Di sinilah pendidikan digital memiliki peran lebih luas.

Anak dan remaja perlu belajar menggunakan internet untuk mencari pengetahuan, berkolaborasi, menciptakan karya, mengembangkan keterampilan, dan menyelesaikan masalah. Mereka juga perlu memahami batas.

Tidak semua hal harus diunggah. Tidak semua informasi yang viral benar. Tidak semua akun yang terlihat meyakinkan dapat dipercaya. Tidak semua percakapan digital harus ditanggapi. Kemampuan memilih justru menjadi semakin penting ketika pilihan informasi hampir tidak terbatas.

Keluarga dan sekolah karena itu menghadapi tantangan yang sama: bukan menjauhkan generasi muda dari teknologi, melainkan membantu mereka menggunakannya dengan tujuan yang jelas.
 

 

Ponsel Seharusnya Membantu Hidup, Bukan Menguasainya

Internet telah memberikan banyak kemudahan yang sulit dibayangkan beberapa dekade lalu. Masalahnya bukan terletak pada keberadaan teknologi, tetapi pada cara manusia menggunakannya.

Ada perbedaan antara memakai ponsel untuk menyelesaikan kebutuhan dengan membuka layar tanpa tujuan selama berjam-jam.

Kebiasaan kecil dapat menjadi pembeda. Matikan notifikasi yang tidak penting. Pisahkan waktu belajar dan hiburan. Jangan menggunakan ponsel ketika berbicara langsung dengan seseorang. Periksa informasi sebelum membagikannya.

Teknologi terbaik bukan teknologi yang membuat manusia terus menatap layar. Teknologi seharusnya membantu seseorang bekerja lebih efisien, belajar lebih luas, berkomunikasi lebih mudah, dan memiliki lebih banyak waktu untuk menjalani kehidupan nyata.

Internet kini menjadi kebutuhan harian orang Indonesia. Tantangan berikutnya bukan sekadar memperluas akses, tetapi memastikan koneksi yang semakin luas juga membuat masyarakat semakin cakap, aman, produktif, dan bijak di ruang digital.