Rabu, 14 October 2026 13:00 UTC

Ilustrasi: Ikan untuk keluarga. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Ikan di Jawa Timur seharusnya menjadi makanan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Provinsi ini mempunyai garis pantai yang panjang, wilayah perairan di utara dan selatan, tambak, sungai, waduk, serta sentra budidaya yang tersebar di banyak kabupaten.
Potensinya terlihat dari produksi. Data Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Timur menunjukkan produksi perikanan tangkap provinsi ini pada 2024 mencapai sekitar 590,6 ribu ton. Produksi perikanan budidaya bahkan mencapai sekitar 1,38 juta ton apabila rumput laut turut diperhitungkan.
Di balik angka tersebut terdapat berbagai jenis ikan yang akrab dengan dapur masyarakat: tongkol, tuna, cakalang, lemuru, layang, bandeng, lele, nila, gurami, hingga berbagai ikan lokal lainnya.
Pertanyaannya bukan lagi apakah Jawa Timur mempunyai ikan. Pertanyaan yang lebih dekat dengan kehidupan keluarga adalah seberapa sering ikan benar-benar masuk ke piring.
Jawa Timur Dikelilingi Sumber Ikan
Geografi memberi Jawa Timur keuntungan besar. Di sebelah utara terdapat Laut Jawa. Bagian timur berhadapan dengan Selat Bali, sedangkan kawasan selatan langsung bertemu Samudra Hindia. Kabupaten dan kota pesisir membentuk rantai produksi ikan yang panjang.
Banyuwangi dikenal dengan perikanan lemuru dan berbagai ikan pelagis. Pacitan memiliki perikanan tangkap dari Samudra Hindia. Lamongan mempunyai tradisi perikanan laut sekaligus budidaya. Sidoarjo identik dengan tambak, sedangkan kawasan lain mengembangkan lele, nila, gurami, bandeng, dan komoditas air tawar.
Data Kementerian Kelautan dan Perikanan memperlihatkan besarnya skala sektor ini secara nasional. Produksi perikanan Indonesia pada 2024 mencapai sekitar 24,74 juta ton, terdiri atas sekitar 7,39 juta ton perikanan tangkap dan 17,35 juta ton perikanan budidaya, termasuk rumput laut.
Jawa Timur menjadi salah satu daerah penting dalam rantai produksi tersebut. Namun, besarnya produksi belum otomatis membuat ikan menjadi pilihan utama setiap keluarga. Harga, akses, kebiasaan memasak, duri, aroma, hingga persepsi bahwa mengolah ikan lebih merepotkan dapat memengaruhi keputusan belanja.
Konsumsi Ikan Terus Didorong
Kementerian Kelautan dan Perikanan mencatat angka konsumsi ikan nasional pada 2024 mencapai sekitar 58,76 kilogram per kapita per tahun.
Jika dirata-ratakan secara sederhana, jumlah tersebut setara sekitar 161 gram per orang setiap hari. Namun, angka konsumsi tahunan tersebut merupakan indikator ketersediaan ikan untuk konsumsi dan tidak berarti setiap orang benar-benar makan 161 gram ikan setiap hari.
Perbedaan pola konsumsi antardaerah dan antarkeluarga tetap besar. Ada rumah tangga yang rutin menyajikan ikan beberapa kali seminggu. Ada pula yang lebih sering memilih ayam, telur, tahu, atau tempe karena dianggap lebih praktis.
Karena itu, kampanye peningkatan konsumsi ikan bukan semata-mata persoalan produksi. Tantangannya juga berada di dapur: bagaimana ikan dibuat mudah dibeli, mudah disimpan, mudah dimasak, dan disukai seluruh anggota keluarga. Di sinilah kebiasaan rumah tangga mempunyai peran besar.
Tidak Harus Salmon untuk Mendapat Protein
Pembicaraan tentang makanan bergizi di media sosial kadang membuat bahan pangan sehat terlihat mahal. Salmon, tuna premium, atau berbagai ikan impor sering tampil dalam menu bergaya modern. Padahal, ikan lokal jauh lebih beragam.
Lele merupakan contoh paling sederhana. Ikan ini mudah dibudidayakan dan sangat familiar di berbagai daerah Jawa Timur. Nila dan mujair juga mudah diolah, sedangkan bandeng telah lama menjadi bagian dari tradisi pangan masyarakat pesisir. Di daerah tertentu tersedia tongkol, pindang, layang, kembung, lemuru, atau ikan lain sesuai musim dan distribusi lokal.
Badan Pangan Nasional mencatat konsumsi pangan hewani Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 133,37 gram per kapita per hari. Angka tersebut melampaui target 129,11 gram per kapita per hari yang digunakan dalam evaluasi kinerja pangan nasional.
Protein nasional juga tercatat sekitar 62,8 gram per kapita per hari. Namun, pangan hewani bukan satu kelompok yang seragam. Ikan, telur, daging unggas, dan daging lainnya mempunyai karakter zat gizi berbeda.
Memutar pilihan sumber protein menjadi cara sederhana untuk membuat menu keluarga lebih beragam.
Cara Memasak Menentukan Kebiasaan
Salah satu tantangan terbesar memasukkan ikan ke menu rumah adalah anggapan bahwa mengolahnya merepotkan. Padahal, tidak semua ikan harus digoreng.
Ikan dapat dibakar dengan bumbu sederhana, dibuat pepes, dimasak kuah kuning, pindang, asem-asem, atau dikukus bersama rempah. Beberapa jenis bahkan cukup diberi jeruk, bawang, kunyit, dan sedikit garam sebelum dimasak.
Variasi cara memasak juga membantu keluarga tidak terlalu bergantung pada minyak goreng. Untuk anak-anak, pemilihan ikan dengan duri yang relatif mudah dipisahkan dapat membuat pengalaman makan lebih nyaman. Orang tua tetap perlu memastikan duri telah dibersihkan dengan teliti, terutama untuk anak kecil.
Kebersihan dan penyimpanan juga penting. Ikan segar sebaiknya segera diolah atau disimpan pada suhu dingin yang memadai karena bahan pangan ini mudah mengalami penurunan mutu.
Kebiasaan sederhana tersebut dapat mengubah persepsi bahwa memasak ikan selalu rumit.
Dari Nelayan sampai Meja Keluarga
Sepotong ikan di piring mempunyai perjalanan panjang. Ada nelayan yang berangkat sebelum matahari terbit. Ada pembudidaya yang menjaga kualitas air kolam. Ada pekerja di tempat pelelangan, pedagang pasar, pengangkut, pengolah ikan, hingga penjual makanan yang membuat hasil perikanan sampai kepada konsumen.
Karena itu, memilih ikan lokal juga mempunyai dimensi ekonomi. Uang yang dibelanjakan keluarga tidak berhenti pada satu transaksi di pasar. Ia bergerak melalui rantai usaha yang melibatkan banyak orang.
Bagi Jawa Timur, hubungan itu penting karena perikanan bukan sektor kecil. Produksi perikanan tangkap yang mencapai ratusan ribu ton dan budidaya yang menembus lebih dari satu juta ton menunjukkan besarnya aktivitas ekonomi yang berada di belakang makanan sehari-hari.
Tetapi ukuran keberhasilannya tidak cukup hanya berupa berapa ton ikan yang dihasilkan. Nilai sesungguhnya muncul ketika hasil perairan tersebut tersedia dengan harga yang dapat dijangkau, memberikan penghidupan layak bagi pelaku usaha, dan akhirnya menjadi makanan bagi masyarakat.
Ikan di Jawa Timur mempunyai semua modal untuk semakin dekat dengan meja keluarga: sumbernya besar, jenisnya beragam, dan tradisi memasaknya sudah lama hidup.
Tidak harus ikan mahal dan tidak harus resep rumit. Seekor ikan lokal yang dimasak sederhana, ditemani nasi, sayuran, dan sambal secukupnya sudah dapat menghadirkan satu hal penting di meja makan: keragaman.
