Logo

Belanja Sudah Hemat, Jangan Rusak karena Salah Simpan

Bahan pangan yang cepat rusak bukan hanya membuang makanan, tetapi juga uang yang sudah dikeluarkan keluarga.
Reporter:,Editor:

Jumat, 16 October 2026 11:00 UTC

Belanja Sudah Hemat, Jangan Rusak karena Salah Simpan

Ilustrasi: Simpan Pangan Lebih Lama. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Belanja hemat tidak selesai ketika mendapatkan sayuran dengan harga murah atau berhasil membeli kebutuhan dapur sesuai anggaran. Ada tahap lain yang sering dianggap sepele: menyimpan bahan pangan dengan benar.

Sayuran yang layu di kulkas, cabai membusuk, bawang bertunas, buah terlalu matang, hingga lauk yang terlupakan merupakan kerugian kecil yang terus berulang.

Dampaknya menjadi besar ketika terjadi di jutaan rumah.

Kajian Kementerian PPN/Bappenas memperkirakan Indonesia menghasilkan food loss and waste sekitar 23–48 juta ton per tahun selama periode 2000–2019. Kerugian ekonominya diperkirakan mencapai Rp213–551 triliun per tahun atau setara sekitar 4–5 persen produk domestik bruto Indonesia. 

Hari Pangan Sedunia setiap 16 Oktober bisa menjadi momentum untuk melihat persoalan pangan dari bagian rumah yang paling sederhana: kulkas, rak dapur, dan tempat penyimpanan makanan.



Sayuran Termasuk yang Banyak Hilang

Tidak semua jenis pangan memiliki tingkat kehilangan yang sama. Kajian Bappenas menunjukkan kelompok tanaman pangan merupakan penyumbang terbesar food loss and waste di Indonesia, mencapai sekitar 44 persen.

Sayuran menyusul dengan kontribusi sekitar 20 persen, kemudian ikan 9 persen, daging 8 persen, serta produk susu 3 persen. 

Jika dilihat dari tingkat kehilangan dibandingkan pasokan domestiknya, persoalan sayuran bahkan lebih mencolok.

Bappenas memperkirakan kehilangan pada kelompok sayuran mencapai 62,8 persen dari suplai domestik sepanjang periode kajian. Buah-buahan berada pada kisaran 20 persen. 

Angka tersebut tidak berarti seluruh sayuran hilang di rumah konsumen. Kehilangan dapat terjadi sejak produksi, pascapanen, penyimpanan, distribusi, pemasaran hingga konsumsi.

Namun, karakter sayuran memang membuatnya membutuhkan perhatian lebih.

Kandungan air yang tinggi, suhu penyimpanan, kelembapan, kerusakan fisik dan lamanya penyimpanan dapat mempercepat penurunan mutu.

Itulah sebabnya membeli sayuran sebanyak mungkin ketika harganya murah belum tentu benar-benar menghemat uang. Jika separuh akhirnya dibuang, harga murah tersebut kehilangan maknanya.


 

Kulkas Bukan Tempat Semua Bahan Makanan

Kulkas membantu memperpanjang masa simpan banyak jenis pangan. Namun, memasukkan seluruh belanjaan ke kulkas bukan strategi yang tepat.

Badan Pengawas Obat dan Makanan mengingatkan pentingnya penyimpanan pangan berdasarkan karakter produk, termasuk menjaga suhu penyimpanan agar pangan tetap aman. Untuk pangan yang harus disimpan dingin, suhu menjadi salah satu unsur penting dalam mencegah pertumbuhan mikroba. 

Makanan matang juga sebaiknya dipisahkan dari bahan mentah. Pemisahan ini bukan semata-mata membuat kulkas terlihat rapi. Bahan mentah, terutama daging, ayam dan ikan, dapat menjadi sumber kontaminasi silang jika bersentuhan dengan pangan siap makan.

Organisasi Kesehatan Dunia memasukkan pemisahan makanan mentah dan matang sebagai salah satu dari lima kunci keamanan pangan. Empat lainnya adalah menjaga kebersihan, memasak hingga matang, menjaga makanan pada suhu aman, serta menggunakan air dan bahan baku yang aman. 

Prinsip tersebut dapat diterapkan tanpa membuat dapur terasa seperti laboratorium. Gunakan wadah tertutup untuk bahan mentah. Tempatkan makanan siap santap pada bagian yang tidak berisiko terkena cairan dari daging atau ikan mentah. Kebiasaan sederhana itu membuat makanan lebih aman sekaligus lebih mudah ditemukan.

 

Salah Satu Musuh Terbesar Adalah Lupa

Ada bahan makanan yang sebenarnya belum rusak ketika pertama kali terabaikan. Masalahnya sederhana: kita lupa memilikinya. Cabai tertutup sayuran baru.

Tempe terselip di bagian belakang kulkas. Buah yang dibeli tiga hari lalu tertutup kantong belanja lain. Ketika ditemukan kembali, kondisinya sudah tidak layak dikonsumsi.

Karena itu, sistem penyimpanan sederhana sering lebih berguna daripada membeli banyak kotak penyimpanan mahal. Prinsip first in, first out atau FIFO dapat diterapkan di rumah. Bahan yang dibeli lebih dahulu ditempatkan pada posisi yang lebih mudah terlihat dan digunakan lebih dulu.

Bahan baru ditempatkan di belakangnya. Tanggal penyimpanan juga dapat ditulis pada wadah makanan matang. Tidak perlu menggunakan label khusus. Secarik kertas atau stiker kecil sudah cukup.

Cara lainnya adalah membuat satu area khusus di kulkas untuk bahan yang harus segera dimasak. Begitu membuka pintu kulkas, penghuni rumah langsung mengetahui makanan mana yang harus diprioritaskan.
 

 

Jangan Mencuci Semua Sayuran Sekaligus

Keinginan membuat bahan makanan langsung bersih setelah pulang dari pasar memang terasa praktis. Namun, perlakuan terhadap setiap bahan tidak selalu sama. Kelembapan berlebihan dapat mempercepat kerusakan beberapa jenis sayuran selama penyimpanan.

Karena itu, bahan yang sudah dicuci sebaiknya dikeringkan dengan baik sebelum disimpan. Untuk beberapa komoditas, mencuci sesaat sebelum digunakan justru lebih praktis daripada menyimpannya dalam kondisi terlalu basah.

Bawang merah dan bawang putih juga tidak harus memenuhi kulkas. Bahan tersebut umumnya lebih cocok ditempatkan di lokasi kering dengan sirkulasi udara baik dan terlindung dari kelembapan berlebih. Buah mempunyai karakter berbeda lagi.

Pisang yang sudah matang, misalnya, tidak harus diperlakukan sama dengan apel atau buah potong. Beberapa buah terus mengalami proses pematangan setelah dipanen sehingga cara menempatkannya memengaruhi berapa lama buah tetap nyaman dikonsumsi.

Kuncinya bukan menghafal aturan rumit untuk setiap bahan. Kenali bahan yang paling sering dibeli keluarga, kemudian pahami cara penyimpanannya satu per satu.


Membeli Sedikit Bisa Lebih Hemat 

Budaya belanja sering menghubungkan hemat dengan membeli dalam jumlah besar. Untuk beras, minyak atau bahan kering yang tahan lama, strategi tersebut mungkin masuk akal. Tetapi pendekatan yang sama belum tentu cocok untuk sayuran, buah, ikan segar atau bahan lain yang mudah rusak.

Belanja dalam jumlah lebih kecil tetapi lebih terencana dapat mengurangi risiko makanan berakhir di tempat sampah. Hal ini semakin penting karena pengeluaran makanan masih mengambil bagian besar dari anggaran rumah tangga Indonesia.

Data BPS menunjukkan rata-rata pengeluaran per kapita per bulan penduduk Indonesia pada 2025 sekitar Rp1,57 juta. Sekitar Rp775.516 atau 49,34 persen digunakan untuk kelompok makanan. 

Artinya, hampir separuh rata-rata pengeluaran konsumsi masyarakat masih berkaitan dengan makanan. Ketika bahan pangan yang sudah dibeli rusak karena salah penyimpanan, yang terbuang bukan hanya makanan. Sebagian anggaran rumah tangga ikut hilang.

Karena itu, pertanyaan sebelum berbelanja sebaiknya tidak hanya “berapa harganya?” Tanyakan juga: apakah bahan ini akan dimasak? Kapan akan dimakan? Apakah tempat penyimpanannya tersedia? Berapa banyak yang benar-benar dibutuhkan?

Empat pertanyaan sederhana tersebut dapat mencegah kulkas berubah menjadi tempat menunggu makanan rusak.

 

Kulkas yang Rapi Bisa Mengubah Kebiasaan

Mengurangi makanan terbuang tidak selalu membutuhkan teknologi baru. Kadang, perubahan dimulai dari kulkas yang isinya terlihat jelas. Jangan menumpuk bahan terlalu banyak. Kelompokkan berdasarkan jenisnya. Dahulukan bahan lama. Pisahkan pangan mentah dan matang. Periksa isi kulkas sebelum berbelanja.

Buat satu hari dalam seminggu untuk mengecek bahan yang perlu segera dimasak. Jika ada wortel, telur dan sedikit sayuran tersisa, jadikan menu. Jika buah mulai terlalu matang, konsumsi lebih dahulu daripada membeli buah baru.

Cara berpikir seperti ini mengubah menu harian. Kita tidak selalu memasak berdasarkan apa yang ingin dibeli. Sesekali, masaklah berdasarkan apa yang sudah tersedia.

Hari Pangan Sedunia mengingatkan bahwa menjaga pangan tidak berhenti di sawah, laut, pasar atau supermarket. Tanggung jawab berikutnya berpindah kepada kita ketika makanan sudah berada di dalam tas belanja. Sebab belanja murah belum tentu hemat.

Hemat yang sebenarnya terjadi ketika makanan yang kita beli akhirnya benar-benar dimakan.