Logo

Belanja Lewat Chat, Kebiasaan Digital Orang Indonesia

Di Indonesia, toko digital tidak selalu berbentuk marketplace. Kadang, etalasenya hanya foto produk dan percakapan singkat di ponsel.
Reporter:,Editor:

Selasa, 13 October 2026 11:30 UTC

Belanja Lewat Chat, Kebiasaan Digital Orang Indonesia

Ilustrasi: Belanja Cukup Lewat Chat. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Belanja lewat chat mungkin terlihat sederhana. Kita bertanya harga, penjual mengirim foto, pesanan disepakati, lalu barang dikirim atau diambil sendiri. Namun di balik kebiasaan sehari-hari tersebut tersimpan salah satu karakter menarik perdagangan digital Indonesia.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa pesan instan mempunyai peran sangat besar dalam aktivitas e-commerce. Dalam Statistik E-Commerce 2023, sebanyak 95,33 persen usaha e-commerce yang disurvei menggunakan aplikasi pesan instan sebagai media penjualan online.

Angka tersebut jauh melampaui proporsi usaha yang menggunakan marketplace atau platform digital, yakni 17,80 persen. Media sosial digunakan 33,29 persen usaha e-commerce. Artinya, perdagangan digital Indonesia tidak hanya berlangsung di marketplace besar. Sebagian justru tumbuh melalui percakapan.

 

Ketika Ruang Chat Berubah Menjadi Toko

Cara kerjanya sangat familiar. Seorang penjual makanan rumahan mengunggah foto menu. Pelanggan tertarik lalu mengirim pesan. Penjual menjawab harga dan ketersediaan. Alamat dikirim, pembayaran disepakati, kemudian barang meluncur ke rumah pelanggan.

Tidak ada keranjang digital yang rumit. Tidak selalu ada katalog profesional. Kadang bahkan tidak tersedia situs web. Tetapi transaksi tetap terjadi. 

BPS mencatat nilai transaksi e-commerce yang diperoleh usaha pengguna pesan instan juga sangat dominan. Dalam Statistik E-Commerce 2023, sebesar 89,84 persen nilai transaksi e-commerce tercatat pada usaha yang melakukan transaksi melalui pesan instan.

Sementara itu, angka pada usaha yang menggunakan media sosial mencapai 44,04 persen dan marketplace atau platform digital 32,74 persen. Satu usaha dapat menggunakan lebih dari satu media, sehingga angka tersebut tidak dimaksudkan untuk dijumlahkan menjadi 100 persen.

Fenomena ini memperlihatkan satu hal penting: digitalisasi perdagangan Indonesia tidak selalu identik dengan teknologi yang kompleks. Bagi banyak usaha, ponsel yang sudah berada di tangan merupakan pintu masuk paling sederhana menuju perdagangan digital.

 

Kenapa Orang Nyaman Membeli lewat Percakapan?

Ada unsur yang sulit digantikan tombol otomatis: percakapan. Ketika membeli melalui chat, pelanggan dapat bertanya dengan bahasa sehari-hari. “Masih ada?” “Bisa dikirim sore?” “Yang pedas tinggal berapa?” atau “Kalau ambil dua dapat harga berapa?”

Model komunikasi seperti ini terasa dekat dengan kebiasaan transaksi di warung dan pasar. Bedanya, percakapan berpindah ke layar.

Karakter tersebut cocok dengan struktur penggunaan teknologi di Indonesia. BPS mencatat 72,78 persen penduduk Indonesia telah mengakses internet pada 2024, meningkat dari 69,21 persen pada 2023.Pada tahun yang sama, 68,65 persen penduduk telah memiliki atau menguasai telepon seluler. 

Ponsel akhirnya bukan sekadar alat komunikasi. Di dalam perangkat yang sama terdapat percakapan keluarga, pekerjaan, pembayaran, hiburan, sekaligus aktivitas jual beli. Itulah yang membuat batas antara “sedang ngobrol” dan “sedang berbelanja” semakin tipis.

 

Kepercayaan Menjadi Bagian dari Transaksi

Belanja melalui percakapan mempunyai karakter berbeda dibandingkan mencari barang di katalog besar. Konsumen sering mengetahui siapa penjualnya. Bisa tetangga, teman, pedagang langganan, pemilik katering rumahan, penjual tanaman, toko pakaian lokal, atau UMKM yang sebelumnya ditemukan melalui media sosial.

Hubungan sosial menjadi bagian dari pengalaman berbelanja. Pelanggan tidak hanya menilai barang. Mereka juga menilai kecepatan penjual menjawab, keramahan, ketepatan pengiriman, kualitas produk sebelumnya, dan pengalaman orang yang dikenalnya. Karena itu, satu percakapan yang baik dapat menghasilkan transaksi berulang.

Kebiasaan tersebut membantu menjelaskan mengapa perdagangan melalui pesan instan tetap bertahan meskipun marketplace menyediakan pencarian produk, perbandingan harga, sistem pembayaran, dan pelacakan pengiriman yang lebih terstruktur.

Ada kebutuhan konsumen yang tidak semata-mata mencari sistem paling canggih. Mereka juga mencari kemudahan berkomunikasi.

 

Pembayaran Ikut Menjadi Semakin Sederhana

Percakapan digital semakin mudah berujung menjadi transaksi karena sistem pembayaran juga berkembang. Bank Indonesia mencatat pada akhir 2025 pengguna QRIS telah mencapai 59,53 juta dengan 42,75 juta merchant. Sebagian besar merchant tersebut merupakan UMKM.

Volume transaksi QRIS sepanjang periode yang dicatat Bank Indonesia juga tumbuh 139,99 persen secara tahunan, sedangkan nominal transaksinya meningkat 107,22 persen. Kombinasi pesan instan dan pembayaran digital menciptakan pengalaman belanja yang sangat sederhana.

Pelanggan tidak harus masuk ke toko digital tertentu. Ia dapat memilih produk dari foto, berkomunikasi dengan penjual, menerima kode pembayaran, membayar melalui ponsel, kemudian menunggu barang datang. Satu perangkat menangani hampir seluruh perjalanan transaksi.

Namun kemudahan tersebut juga membutuhkan kehati-hatian. Percakapan pribadi tidak selalu mempunyai perlindungan transaksi seperti platform perdagangan yang menyediakan mekanisme komplain atau rekening bersama.

Karena itu, mengenali identitas penjual, memastikan detail produk, menyimpan bukti transaksi, dan berhati-hati terhadap permintaan pembayaran yang mencurigakan tetap penting.

 

Peluang Besar Bagi Usaha Kecil

Fenomena belanja lewat chat juga menyimpan pelajaran bagi UMKM. Memulai penjualan digital tidak selalu membutuhkan situs web mahal atau sistem teknologi yang kompleks. Langkah pertama dapat dimulai dari sesuatu yang jauh lebih sederhana: informasi produk yang jelas dan komunikasi yang baik.

Foto sebaiknya menunjukkan produk sebenarnya. Harga perlu ditampilkan dengan transparan. Informasi ukuran, bahan, rasa, stok, ongkos kirim, dan waktu pengiriman sebaiknya mudah ditemukan.

Respons juga tidak harus selalu seketika. Yang lebih penting adalah konsisten. Jika pesan hanya dijawab pada jam tertentu, pelanggan dapat diberi informasi mengenai jam pelayanan.

Ketika jumlah pesanan meningkat, usaha kemudian dapat berkembang menggunakan katalog digital, pencatatan stok, pembayaran elektronik, marketplace, hingga sistem pengelolaan pelanggan yang lebih teratur. Teknologi akhirnya mengikuti kebutuhan bisnis, bukan sebaliknya.

 

Digitalisasi yang Terasa Sangat Indonesia

Kita sering membayangkan transformasi digital sebagai perubahan besar: toko tanpa kasir, kecerdasan buatan, gudang otomatis, atau aplikasi dengan jutaan pengguna. Padahal perubahan besar juga dapat muncul dari kebiasaan yang terlihat biasa.

Seseorang membuka ponsel, melihat foto makanan buatan tetangganya, bertanya melalui chat, membayar, lalu beberapa saat kemudian pesanannya datang.

Tidak terasa futuristik. Bahkan terasa sangat sehari-hari.Tetapi ketika kebiasaan serupa dilakukan jutaan orang dan dimanfaatkan begitu banyak usaha, percakapan sederhana berubah menjadi bagian penting ekonomi digital.

Belanja lewat chat menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia tidak selalu meninggalkan pola lama ketika menerima teknologi baru. Kebiasaan bertanya, bernegosiasi, mengenal penjual, dan membangun kepercayaan tetap dipertahankan.Medianya saja yang berubah. 

Dulu percakapan berlangsung di depan warung. Kini sebagian terjadi melalui layar ponsel. Dan mungkin di situlah wajah digitalisasi Indonesia yang paling menarik: teknologi berkembang, tetapi manusia tetap ingin berbicara dengan manusia.