Logo

Anak Muda Ingin Berdampak, Mulai dari Mana?

Perubahan tidak selalu dimulai dari proyek besar. Kadang ia tumbuh dari masalah kecil yang terlihat setiap hari.
Reporter:,Editor:

Sabtu, 10 October 2026 14:00 UTC

Anak Muda Ingin Berdampak, Mulai dari Mana?

Ilustrasi: Bergerak dari lingkungan sendiri. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Anak muda ingin berdampak sering diasosiasikan dengan gerakan besar, organisasi terkenal, atau kegiatan yang melibatkan banyak orang. Padahal kontribusi sosial dapat dimulai jauh lebih sederhana: memperhatikan apa yang terjadi di lingkungan sendiri.

Indonesia memiliki sekitar 64,22 juta pemuda berusia 16–30 tahun pada 2024. Jumlah tersebut setara sekitar seperlima penduduk Indonesia. Sebanyak 60,72 persen pemuda tinggal di perkotaan, sementara 40,94 persen merupakan lulusan SMA atau sederajat dan 11,39 persen telah menyelesaikan pendidikan tinggi. 

Jumlah sebesar itu merupakan potensi sosial yang besar. Namun, data Indeks Pembangunan Pemuda menunjukkan tantangan justru masih terlihat pada keterlibatan dan kepemimpinan.

Artinya, pertanyaannya bukan hanya apakah anak muda peduli. Pertanyaan yang lebih praktis adalah bagaimana kepedulian itu memperoleh tempat untuk diwujudkan.

 

Partisipasi Masih Menjadi Tantangan

Indeks Pembangunan Pemuda digunakan pemerintah untuk melihat perkembangan pemuda melalui sejumlah dimensi kehidupan.
Data Kementerian Pemuda dan Olahraga menunjukkan IPP Indonesia meningkat dari 48,67 pada 2015 menjadi 58,33 pada 2024. Dalam sembilan tahun, terjadi kenaikan 9,66 poin.  Namun, perjalanan setiap dimensinya tidak sama.

Laporan IPP sebelumnya menunjukkan domain partisipasi dan kepemimpinan berada pada nilai 43,00 pada 2023, paling rendah dibandingkan domain kesehatan dan kesejahteraan yang mencapai 70,00.

Laporan tersebut juga mencatat domain partisipasi dan kepemimpinan mengalami kecenderungan menurun dalam beberapa tahun sebelumnya. Ukuran partisipasi tersebut tidak hanya berkaitan dengan menjadi ketua organisasi.

BPS memasukkan beberapa perilaku sebagai indikator, seperti mengikuti kegiatan sosial kemasyarakatan, aktif dalam organisasi di luar sekolah dan tempat kerja, serta menyampaikan saran atau pendapat dalam pertemuan lingkungan. Dengan perspektif tersebut, kepemimpinan menjadi lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Datang ke pertemuan warga dan mengusulkan tempat sampah termasuk partisipasi. Membantu kegiatan anak-anak di kampung juga partisipasi. Begitu pula bergabung dengan kelompok yang memperbaiki fasilitas umum. Tidak semuanya harus berakhir dengan jabatan.

 

Cari Masalah Sebelum Membuat Program

Keinginan membuat perubahan kadang dimulai secara terbalik. Orang menentukan kegiatan terlebih dahulu, kemudian mencari siapa yang membutuhkan kegiatan tersebut. Akibatnya, acara berjalan meriah tetapi masalah sebenarnya belum tentu tersentuh. Cara yang lebih sederhana adalah mengamati lingkungan.

Apakah ada sudut kampung yang dipenuhi sampah? Apakah anak-anak membutuhkan tempat membaca? Apakah tetangga lanjut usia kesulitan menggunakan layanan digital? Apakah ada lahan kosong yang dapat ditanami? Apakah selokan tersumbat setiap hujan?
Pertanyaan kecil seperti itu membantu anak muda melihat persoalan secara konkret.

Setelah masalah ditemukan, jangan buru-buru merasa sudah memahami penyebabnya. Bicara dengan orang yang mengalaminya.
Sebuah taman yang terlihat terbengkalai, misalnya, belum tentu membutuhkan pengecatan. Bisa jadi masalah sebenarnya tidak ada penerangan sehingga warga enggan datang pada sore hari. Mendengarkan membuat solusi lebih relevan.

 

Proyek Pertama Tidak Perlu Besar

Ada godaan membuat kegiatan pertama terlihat mengesankan. Pesertanya harus banyak. Dokumentasinya harus bagus. Acara harus mempunyai nama. Unggahannya juga harus menarik perhatian.

Padahal proyek sosial pertama justru sebaiknya cukup kecil untuk diselesaikan. Misalnya lima anak muda melihat halaman kosong di sekitar tempat tinggal. Mereka berbicara dengan warga, membersihkannya, membuat beberapa rak sederhana, lalu menanam sayuran dalam wadah bekas.

Dampaknya mungkin hanya dirasakan belasan keluarga. Tetapi mereka memperoleh sesuatu yang jauh lebih penting: pengalaman menyelesaikan satu siklus perubahan.

Mereka belajar mengenali masalah, mendengarkan orang lain, membuat rencana, membagi pekerjaan, bertindak, melihat hasil, dan memperbaiki kekurangan. Keterampilan seperti itu sulit diperoleh hanya dengan membaca teori kepemimpinan.

 

Jawa Timur Punya Modal Sosial yang Menarik

Data mengenai keterlibatan sosial juga menunjukkan variasi besar antarwilayah. Dalam salah satu tabel BPS mengenai keanggotaan organisasi dan kegiatan sosial kemasyarakatan, Jawa Timur mencatat angka 58,75 persen pada salah satu kategori kegiatan sosial yang diukur.

Angka pada kategori dan provinsi lain berbeda cukup lebar, menunjukkan pola partisipasi masyarakat memang tidak seragam antarwilayah.   Perbedaan itu mengingatkan bahwa kegiatan anak muda sebaiknya tidak selalu meniru program dari tempat lain.

Kampung pesisir mempunyai kebutuhan berbeda dengan kawasan perkotaan. Desa pertanian menghadapi persoalan berbeda dengan lingkungan kampus. Begitu pula masyarakat pegunungan, kawasan industri, atau permukiman padat.

Justru kekuatan sebuah proyek lokal terletak pada kemampuannya menjawab persoalan yang benar-benar ada di tempat tersebut. Anak muda tidak harus menyelesaikan seluruh persoalan Jawa Timur. Mereka cukup mulai dari satu persoalan yang dapat dijangkau.

 

Dampak Kecil Tetap Perlu Diukur

Satu hal sering terlupakan setelah kegiatan selesai: mencatat hasilnya. Padahal dampak tidak harus dihitung menggunakan metode rumit. Jika membuat kebun warga, catat berapa keluarga yang menggunakan. Jika mengadakan kelas belajar, hitung jumlah anak yang mengikuti dan berapa kali pertemuan berlangsung.

Jika membersihkan lingkungan, dokumentasikan kondisi sebelum dan sesudah. Catatan sederhana membuat kegiatan tidak berhenti menjadi cerita bahwa "kami pernah melakukan sesuatu".

Dari sana dapat diketahui apa yang berhasil dan apa yang perlu diperbaiki. Kebiasaan mengukur juga membantu membedakan aktivitas dan dampak. Menanam 100 bibit adalah aktivitas.

Berapa bibit yang hidup setelah tiga bulan adalah hasil yang lebih bermakna. Membagikan 200 buku adalah aktivitas. Berapa anak yang kemudian menggunakan ruang baca merupakan pertanyaan berikutnya. Cara berpikir seperti ini membuat kegiatan sosial menjadi proses belajar.

 

Tidak Harus Menunggu Menjadi Pemimpin

Indonesia memiliki lebih dari 64 juta pemuda. Pemerintah bahkan menempatkan partisipasi dan kepemimpinan sebagai salah satu dimensi penting pembangunan pemuda. 

Namun, kepemimpinan tidak selalu dimulai ketika seseorang memperoleh jabatan. Ia bisa dimulai ketika seseorang melihat masalah yang selama ini dilewati orang lain, lalu mengajak beberapa teman melakukan sesuatu.

Tidak perlu menunggu mempunyai komunitas besar. Cari satu masalah. Dengarkan orang yang terdampak. Ajak beberapa teman. Buat rencana sederhana. Kerjakan. Catat hasilnya. Ceritakan apa yang berhasil dan apa yang gagal.

Jika berhasil, ulangi dengan lebih baik. Dampak sosial akhirnya bukan tentang seberapa besar kegiatan terlihat dari luar. Nilainya terletak pada perubahan yang benar-benar dirasakan orang lain. Dan untuk memulainya, anak muda tidak harus pergi jauh.

Kadang masalah pertama yang layak diselesaikan berada hanya beberapa langkah dari rumah.
________________________________________