Sabtu, 10 October 2026 05:00 UTC

Ilustrasi: Bertemu lewat kegiatan bersama. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Punya tempat bertemu ternyata penting bagi kehidupan sosial anak muda. Bukan hanya kafe atau tempat nongkrong, tetapi juga lapangan, komunitas, organisasi, rumah ibadah, taman, sanggar, hingga kegiatan warga yang memungkinkan mereka mengenal orang di luar lingkaran pertemanan sehari-hari.
Persoalannya, jumlah anak muda Indonesia sangat besar, sementara partisipasi mereka dalam organisasi formal relatif kecil. Data BPS menunjukkan hanya 6,16 persen pemuda usia 16–30 tahun yang aktif mengikuti organisasi di luar tempat kerja atau sekolah dalam tiga bulan terakhir pada 2025.
Angka tersebut menarik karena organisasi bukan sekadar tempat rapat. Di dalamnya orang belajar berbicara, mendengarkan pendapat berbeda, membagi pekerjaan, mengelola konflik, dan menyelesaikan sesuatu bersama.
Di tengah kehidupan yang makin digital, ruang perjumpaan seperti ini justru mempunyai nilai baru.
Tidak Semua Pertemanan Lahir di Sekolah
Sekolah dan kampus memang menjadi tempat utama bertemunya anak muda. Namun, kehidupan sosial tidak berhenti ketika jam belajar selesai.
BPS mendefinisikan pemuda sebagai penduduk berusia 16–30 tahun. Dalam statistik kepemudaan, partisipasi sosial bahkan menjadi salah satu indikator yang diamati, termasuk keterlibatan dalam kegiatan sosial kemasyarakatan selama tiga bulan terakhir dan keaktifan dalam organisasi di luar sekolah maupun tempat kerja. Artinya, kehidupan sosial anak muda mempunyai dimensi yang lebih luas daripada pendidikan dan pekerjaan.
Ada karang taruna, komunitas olahraga, kelompok keagamaan, organisasi kepemudaan, Pramuka, komunitas lingkungan, klub membaca, kelompok seni, hingga kegiatan sukarela yang mempertemukan orang dengan latar berbeda.
Pertemuan semacam itu menawarkan sesuatu yang sulit diperoleh dari hubungan yang hanya dibangun melalui layar: pengalaman bersama.
Dua orang mungkin awalnya tidak mempunyai bahan obrolan. Namun, setelah bersama-sama mengurus acara kampung, membersihkan sungai, menyiapkan pertunjukan, atau mengajar anak-anak, mereka memiliki cerita yang sama. Dari situlah kedekatan sering bermula.
Organisasi Formal Memang Bukan Pilihan Semua Orang
Angka 6,16 persen pemuda yang aktif berorganisasi tidak berarti sebagian besar anak muda Indonesia tidak peduli dengan kehidupan sosial. Indikator BPS tersebut memiliki batas yang cukup spesifik: organisasi harus berada di luar tempat kerja atau sekolah dan aktivitasnya dilihat dalam periode tiga bulan terakhir.
Banyak aktivitas anak muda sekarang tidak berbentuk organisasi formal. Ada komunitas lari yang berkumpul setiap Minggu pagi tanpa struktur kepengurusan rumit. Ada kelompok pecinta kucing, komunitas fotografi, penggemar sepeda, relawan lingkungan, hingga orang-orang yang rutin berbagi makanan.
Sebagian terbentuk dari media sosial. Mereka berkenalan di internet, lalu bertemu untuk melakukan kegiatan di dunia nyata. Perubahan bentuk komunitas ini penting diperhatikan.
Anak muda tidak selalu membutuhkan organisasi dengan banyak jabatan untuk merasa menjadi bagian dari sebuah kelompok. Kadang mereka hanya membutuhkan alasan untuk datang.
Ruang Sosial Bisa Sesederhana Lapangan Kampung
Kegiatan bersama juga tidak harus mahal. Lapangan kampung yang dipakai bermain badminton dapat menjadi ruang sosial. Begitu pula taman kota, perpustakaan, halaman rumah ibadah, warung, balai warga, atau teras rumah yang cukup luas untuk berkumpul.
Yang membuat tempat tersebut bernilai bukan kemewahannya, melainkan interaksi yang terjadi di sana. Hal ini menjadi semakin relevan ketika sebagian anak muda menghadapi persoalan hubungan sosial.
Profil Kesehatan Remaja Indonesia 2024 yang diterbitkan UNICEF mencatat 3,5 persen pelajar melaporkan tidak memiliki teman dekat. Data yang dirujuk UNICEF berasal antara lain dari Global School-based Student Health Survey 2023.
Persentasenya memang terlihat kecil. Namun, ketika diterapkan pada populasi yang besar, isu tentang keterhubungan sosial tidak layak dianggap sepele.
Ruang sosial yang terbuka memberikan kesempatan kepada seseorang untuk berkenalan tanpa harus lebih dahulu menjadi sahabat. Orang dapat datang karena ingin bermain, belajar, membantu, atau sekadar melihat kegiatan. Hubungan kemudian tumbuh secara alami.
Dari Nongkrong Menjadi Melakukan Sesuatu
Nongkrong tentu bukan kegiatan buruk. Duduk bersama sambil minum kopi atau makan merupakan bagian dari kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Namun, pertemuan bisa dibuat lebih bermakna tanpa kehilangan suasana santainya.
Sekelompok teman dapat sesekali memasak bersama, menanam pohon, mengunjungi pasar tradisional, membantu kegiatan kampung, membuat kelas kecil, bermain olahraga, atau membersihkan tempat publik.
Perbedaannya sederhana. Mereka tidak hanya bertemu, tetapi menghasilkan pengalaman bersama. Aktivitas semacam itu juga membuat lingkar pertemanan lebih terbuka. Orang yang pendiam tidak harus menjadi pembicara utama. Seseorang bisa mengambil peran melalui pekerjaan kecil yang konkret.
Ada yang memotret, membawa peralatan, mengatur tempat, mencatat kebutuhan, memasak, mengajar, atau sekadar membantu membereskan barang setelah kegiatan selesai. Semua orang mempunyai pintu masuk.
Komunitas Membuat Kota Terasa Lebih Dekat
Ada paradoks menarik dalam kehidupan modern. Penduduk perkotaan dapat tinggal berdekatan dengan ribuan orang, tetapi belum tentu mengenal orang yang tinggal beberapa rumah dari tempatnya. Komunitas dapat memperpendek jarak sosial itu.
Ketika anak muda ikut kegiatan lingkungan, misalnya, mereka tidak hanya bertemu teman seusia. Mereka bisa berbicara dengan anak-anak, orang tua, pedagang, pekerja, maupun tokoh masyarakat. Pengalaman tersebut memperluas cara melihat kehidupan.
Inilah alasan ruang pertemuan anak muda tetap dibutuhkan meskipun komunikasi digital semakin mudah. Internet sangat efektif mempertemukan orang dengan minat serupa. Namun, kehidupan bersama tetap membutuhkan tempat untuk hadir, bekerja, dan berinteraksi secara nyata.
Tidak semuanya harus bernama organisasi. Tidak semuanya membutuhkan proposal, seragam, atau struktur kepengurusan.
Kadang sebuah komunitas bermula dari lima orang yang sepakat melakukan sesuatu pada Minggu pagi. Pertemanan kemudian datang sebagai hasil sampingannya.
