Logo

Anak Kos Lebih Hemat Masak atau Beli Makan?

Masak sendiri belum tentu selalu murah, sementara membeli makanan belum tentu boros. Semuanya bergantung pada kebiasaan dan cara menghitungnya.
Reporter:,Editor:

Kamis, 08 October 2026 13:00 UTC

Anak Kos Lebih Hemat Masak atau Beli Makan?

Ilustrasi: Masak atau Beli Makan. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Anak kos lebih hemat masak atau beli makan? Pertanyaan sederhana ini sulit dijawab dengan satu pilihan untuk semua orang.

Satu porsi makanan di warung bisa lebih murah daripada membeli beragam bahan untuk sekali memasak. Sebaliknya, bahan yang dimasak untuk beberapa kali makan dapat menekan pengeluaran per porsi. Yang sering luput adalah makanan memang mengambil bagian besar dari pengeluaran masyarakat.

Badan Pusat Statistik mencatat rata-rata pengeluaran penduduk Jawa Timur pada 2025 mencapai sekitar Rp1,419 juta per kapita sebulan. Dari jumlah itu, sekitar Rp715.989 digunakan untuk makanan dan Rp703.152 untuk kebutuhan bukan makanan. Artinya, 50,45 persen pengeluaran rata-rata per kapita di Jawa Timur digunakan untuk kelompok makanan.

Menariknya, makanan dan minuman jadi merupakan kelompok terbesar dalam belanja makanan masyarakat Jawa Timur. Nilainya rata-rata sekitar Rp237.712 per kapita sebulan, atau 16,75 persen dari seluruh pengeluaran bulanan.

Data tersebut tentu mencakup seluruh penduduk, bukan anak kos secara khusus. Namun angkanya menunjukkan bahwa makanan siap konsumsi sudah mempunyai tempat besar dalam pola pengeluaran masyarakat.

 

Beli Makan Punya Keunggulan yang Sering Dilupakan

Bayangkan seseorang ingin makan nasi, ayam, sayur, dan sambal. Jika memasak dari nol, ia mungkin harus membeli beras, minyak, bawang, cabai, garam, sayuran, lauk, serta bahan lain. Untuk satu kali makan, jumlah uang yang keluar saat berbelanja bisa terlihat jauh lebih besar daripada membeli seporsi nasi campur.

Di warung, biaya berbagai bahan tersebut dibagi ke banyak porsi. Inilah salah satu alasan membeli makanan dapat masuk akal bagi penghuni kos yang tinggal sendiri. Apalagi jika lingkungan tempat tinggal memiliki banyak warung dengan harga terjangkau.

Ada pula biaya yang tidak muncul pada label harga bahan makanan: gas atau listrik, air, sabun pencuci, waktu memasak, serta risiko bahan terbuang.

Karena itu, membandingkan harga sebungkus makanan dengan harga satu bahan saja dapat menghasilkan kesimpulan yang keliru.
Yang perlu dibandingkan adalah biaya per porsi.

 

Masak Menjadi Murah Ketika Bahannya Benar-Benar Habis

Keuntungan memasak sendiri mulai terasa ketika satu bahan digunakan untuk beberapa kali makan. Satu kilogram beras, misalnya, tentu tidak dibeli untuk sekali makan. Telur dapat disimpan beberapa hari. Tempe dapat dibagi menjadi beberapa porsi. Bumbu dasar juga dapat digunakan berulang kali.

Dengan perencanaan seperti itu, biaya rata-rata per porsi dapat turun. Masalah muncul ketika semangat memasak lebih besar daripada kemampuan menghabiskan bahan.

Seseorang membeli sayur, buah, cabai, bawang, tahu, tempe, telur, dan berbagai bumbu sekaligus. Dua hari kemudian ia sibuk. Hari berikutnya diajak makan teman. Beberapa bahan akhirnya layu atau rusak.

Makanan yang dibuang sebenarnya adalah uang yang ikut terbuang. Karena itu, anak kos yang ingin memasak tidak harus memiliki persediaan seperti dapur keluarga. Lebih masuk akal membeli bahan dalam jumlah kecil tetapi benar-benar digunakan.

 

Data Jawa Timur Menunjukkan Perbedaan Kota dan Desa

Pola pengeluaran makanan Jawa Timur juga berbeda menurut tempat tinggal. Data Susenas Maret 2025 menunjukkan rata-rata pengeluaran makanan penduduk perkotaan Jawa Timur sekitar Rp757.743 per kapita sebulan. Di perdesaan nilainya sekitar Rp659.696.
Namun proporsinya terhadap seluruh pengeluaran justru berbeda.

Di perkotaan, makanan mengambil sekitar 47,31 persen pengeluaran. Di perdesaan, porsinya mencapai 56,24 persen. Untuk gabungan Jawa Timur, angkanya 50,45 persen.

Perbedaan menarik juga terlihat pada makanan dan minuman jadi. Penduduk perkotaan rata-rata membelanjakan sekitar Rp263.602 per kapita sebulan untuk kelompok tersebut. Di perdesaan sekitar Rp202.807.

Angka ini tidak dapat langsung diterjemahkan sebagai “biaya makan anak kos”. Pola konsumsi setiap kelompok masyarakat berbeda. Namun data tersebut memperlihatkan besarnya posisi makanan siap konsumsi, terutama dalam kehidupan perkotaan.

Bagi penghuni kos di kota pendidikan atau kawasan kerja, fenomena itu mudah dikenali. Warung nasi, pedagang kaki lima, kantin, kedai, layanan pesan antar, dan minimarket berada dekat dengan kehidupan sehari-hari.

 

Cara Paling Hemat Bisa Jadi Menggabungkan Keduanya

Pilihan sebenarnya tidak harus ekstrem antara selalu memasak atau selalu membeli. Model campuran justru lebih realistis.
Nasi dapat dimasak sendiri, sedangkan lauk dibeli di warung. Telur, buah, roti, atau oatmeal dapat disediakan untuk sarapan, sementara makan siang dibeli dekat kampus atau kantor.

Cara lain adalah memasak lauk sederhana untuk dua atau tiga porsi sekaligus. Strategi seperti ini mempertahankan keuntungan memasak tanpa membuat penghuni kos menghabiskan terlalu banyak waktu di dapur.

Kuncinya adalah mengenali makanan yang ekonomis dibuat sendiri dan makanan yang lebih praktis dibeli. Segelas kopi sederhana, nasi, telur, atau mi dengan tambahan sayuran relatif mudah disiapkan.

Sebaliknya, masakan yang membutuhkan banyak bumbu dan proses panjang belum tentu efisien dibuat satu porsi.

 

Jangan Hanya Menghitung Harga Lauk

Ada cara sederhana mengetahui pilihan mana yang benar-benar lebih hemat: catat pengeluaran makanan selama tujuh hari. Tidak perlu aplikasi khusus.

Pisahkan pengeluaran menjadi bahan masak, makanan jadi, minuman, camilan, dan ongkos pesan antar. Setelah satu minggu, jumlahnya akan mulai terlihat. Cara ini jauh lebih akurat daripada sekadar merasa bahwa memasak selalu murah.

Data BPS menunjukkan besarnya pengeluaran makanan memang berbeda antardaerah di Jawa Timur. Pada 2025, misalnya, proporsi pengeluaran untuk makanan di Kabupaten Lumajang mencapai 61,48 persen, sedangkan di Kabupaten Sidoarjo 45,48 persen.

Perbedaan tersebut mengingatkan bahwa pola konsumsi sangat dipengaruhi kondisi ekonomi, wilayah, harga, pendapatan, dan kebiasaan masyarakat. Hal serupa berlaku pada anak kos.

Mahasiswa yang memiliki dapur lengkap dan pasar murah di dekat tempat tinggal dapat memperoleh keuntungan besar dari memasak. Pekerja yang pulang larut dan tinggal sendirian mungkin justru lebih efisien membeli makanan.

 

Hemat Bukan Berarti Makan Seadanya

Ada satu kesalahan yang perlu dihindari ketika mengatur anggaran makan: menganggap makanan sebagai pos yang harus ditekan serendah mungkin.

Tujuan sebenarnya adalah mendapatkan pola makan yang layak dengan pengeluaran yang terkendali. Harga tetap penting, tetapi variasi makanan juga perlu diperhatikan. Jangan sampai strategi berhemat membuat menu setiap hari hanya terdiri dari makanan instan karena dianggap paling praktis.

Anak kos dapat menggunakan pola sederhana: tentukan anggaran mingguan, pilih beberapa bahan yang benar-benar akan dimasak, manfaatkan warung untuk menu yang tidak efisien dibuat sendiri, dan hindari membeli stok berlebihan.

Dengan cara itu, pertanyaan anak kos lebih hemat masak atau beli makan akhirnya memiliki jawaban yang lebih masuk akal. Bukan salah satunya yang selalu menang.

Pilihan paling hemat adalah yang membuat makanan habis dikonsumsi, anggaran tetap terkendali, waktu tidak terbuang, dan kebutuhan makan sehari-hari tetap terpenuhi.