Video Cacing Viral, Penjualan Ikan Kaleng Banyuwangi Lesu

Video cacing dalam ikan kaleng itu beredar sejak tahun lalu.
Ahmad Suudi

Jumat, 14 Juni 2019 - 09:58

JATIMNET.COM, Banyuwangi - Penjualan ikan makarel dalam kaleng yang anjlok tahun lalu karena isu cacing belum menunjukkan kepulihan hingga kini. Tak hanya makarel, penjualan sarden kaleng dalam negeri juga turut terjun bebas.

Kini telah lebih dari setahun sejak video tersebut viral, penjualan pabrik-pabrik ikan dalam kaleng di pasar nasional belum pulih.

"Tapi kalau orang, menganggap ikan sarden ya ikan kaleng, nggak tahu di dalamnya lemuru atau makarel," kata Staf Human Resourches Development (HRD) PT Maya Muncar Kasminto, di kantornya kawasan industri Muncar, Banyuwangi, Kamis 13 Juni 2019.

Dia mengatakan, pada bulan Ramadan tahun-tahun sebelumnya, perusahaannya mampu menjual   hingga 1 atau 2 truk gandeng per hari.

BACA JUGA: Kisah Relawan Mudik, Bekerja untuk Biayai Adik Sekolah

Namun, Ramadan terakhir hanya bisa menjual 3 truk gandeng dalam satu bulan.

Dampak lain mencuatnya isu cacing, kata Kasminto, adalah  pengurangan impor ikan oleh perusahaan. juga pengetatan regulasi impor ikan oleh pemerintah.

Pihaknya memperkirakan, penyebab utama masyarakat enggan mengkonsumsi adalah rasa jijik mereka pada cacing.

Sementara alasan kesehatan tidak relevan karena cacing mengandung protein dan justru dijadikan bahan obat tifus oleh masyarakat.

BACA JUGA: Setengah Juta Pemudik Seberangi Selat Bali Sebelum Lebaran

"Kan itu protein juga. Tapi kalau orang jijik, bagaimana," ujarnya.

Kasminto juga mengatakan, biasanya 590 pekerja di perusahaannya bekerja bergantian di unit produksi tuna dan sarden.

Namun kini unit produksi sarden yang juga meliputi makarel, tidak aktif, sehingga pekerja hanya bekerja 3 hari per minggu.

Dia menjelaskan, sebelumnya muncul permasalahan kekurangan bahan baku karena tangkapan lemuru oleh nelayan sepi. Namun, masalah itu bisa diatasi dengan impor lemuru dari Pakistan, India, Yaman, dan China.

"(Sekarang) kalaupun lemuru lokal ada, bisa proses tapi tidak bisa jual," kata Kasminto.

BACA JUGA: Puncak Mudik Usai, Ini Prediksi Antrean Lebaran di Selat Bali

Direktur CV Pasific Harvest Sherly Indrawati sebelumnya mengatakan, anjloknya penjualan nasional tidak berpengaruh besar pada perusahaannya.

Pasalnya 90 persen penjualan perusahaan pengalengan ikan yang juga berada di Muncar ini, ekspor ke Eropa, Asia dan Afrika.

"Bagi kami asalkan tetap bisa impor ikan bahan baku, masih tetap bisa jalan," kata Sherly.

Sebelumnya, pada Maret 2019 viral video yang memperlihatkan adanya cacing di dalam makarel kaleng yang ikan bahan bakunya diimpor dari China.

BACA JUGA: Lebaran, Penjual Ikan Asap Kenjeran Beromzet Rp 5 Juta

Hingga Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) merilis hasil pemeriksaan berupa 27 merek makarel kaleng yang positif mengandung cacing.

Baca Juga

loading...