Pakar Transportasi ITS: Trem belum Beri Solusi Kemacetan

Khoirotul Lathifiyah

Senin, 10 Juni 2019 - 17:59

JATIMNET.COM, Surabaya – Pakar transportasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Putu Rudy Setiawan manyampaikan transportasi cepat bukan solusi tepat atas kemacetan Surabaya.

Masalahnya sejauh ini masyarakat Surabaya lebih memilih kendaraan pribadi dibanding transportasi umum. Dengan kata lain trem sebagai opsi tambahan transportasi massal, dan yang memilih adalah masyarakat.

“Bila trem dan kendaraan pribadi melebur di satu jalan, potensi kemacetan akan semakin bertambah. Karena trem sebidang dengan moda transportasi lainnya,” kata Rudy diwawancarai melalui telepon selulernya, Senin 10 Juni 2019.

BACA JUGA: Risma Berharap Wali Kota selanjutnya Bisa Realisasikan MRT

Namun demikian, Rudy setuju bila Pemkot Surabaya mencanangkan transportasi massal atau Mass Rapid Transit (MRT) dan Trem. Dia mengaku kedua transportasi tersebut memungkinkan untuk diaplikasikan di dalam kota.

Sebetulnya, lanjut Rudy, pengadaan MRT relatif lebih mahal dan membutuhkan waktu lama. Sementara Light Rail Transit (LRT) seperti yang diaplikasikan di Jakarta dengan trem, bisa menjadi solusi murah. Sebab, trem lebih cocok karena berbasis jalan, sehingga perlu menambahkan rel di tepi jalan.

Dia mencontohkan trem bisa diaplikasikan di jalan Joyoboyo menuju Jalan Diponegoro. Sebab jalur tersebut pernah dibangun trem, dan menurutnya tidak menyulitkan karena infrastrukturnya sudah ada.

“Kalau jalurnya diperpanjang (sampai Surabaya Utara) butuh median (rel), karena sejauh ini tidak ada rel. Di jalan yang akan dibangun akan terbagi dua moda, R2 dan R4, ditambah trem. Itu lebih murah dan praktis,” Rudy menjelaskan.

BACA JUGA: Risma Menyerah Soal Angkutan Massal Trem

Ia menyampaikan, keberadaan trem ini diharapkan ada peralihan dari kendaraan pribadi ke trem. Sebab keberadaan trem menghadirkan jalur dedicated dan pemkot harus mendorong masyarakat memanfaatkan transportasi umum.

Belum lama ini, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini meminta penerusnya bisa mewujudkan pengadaan transportasi cepat yang digagas sejak 2013. Sebab selama dua periode, dengan sisa satu tahun, dia mengaku tidak mampu merampungkan pembangunan monorail dan trem.

“Di sisa waktuku nggak mungkin melakukan kontrak jangka panjang, waktunya ga nutut (ga memungkinkan). Makanya diganti dengan Bus Suroboyo itu,” kata Risma.

Baca Juga

loading...